July 3, 2020

Review : Dreadout


“Kayaknya kolam itu pintu deh. Dan harusnya kita nggak boleh masuk ke pintu itu.”

Dalam versi layar lebar DreadOut yang disadur dari video game terkenal bertajuk sama buatan Digital Happiness dari Indonesia, guliran penceritaan difungsikan sebagai prekuel untuk video game-nya. Di sini, para gamer akan memperoleh isu (sedikit) lebih banyak mengenai si protagonis utama, Linda (Caitlin Halderman), termasuk bagaimana beliau memperoleh ‘kekuatan’ yang rupa-rupanya diturunkan pribadi dari sang ibu (Salvita Decorte). Kita juga akan mengetahui bahwa Linda tidaklah ibarat rekan-rekan sebayanya yang mempunyai hobi live di Instagram demi memupuk popularitas, alasannya ialah beliau menghabiskan waktu luangnya untuk bekerja di minimarket supaya bisa melanjutkan studi ke akademi tinggi. Saking giatnya Linda bekerja, tak jarang beliau hingga ketiduran di dalam kelas dikala pelajaran masih berlangsung – ckck, jangan ditiru yaa, adek-adek! Hari-hari Linda yang dipenuhi dengan lembur ini untungnya segera berakhir dalam waktu bersahabat usai beliau menyepakati perjanjian dengan seorang abang kelas yang menawarinya tambahan mahal. Perjanjian tersebut mengharuskannya untuk mengantar Jessica (Marsha Aruan) beserta teman-teman sepermainannya yang terdiri dari Erik (Jefri Nichol), Dian (Susan Sameh), Alex (Ciccio Manassero), dan Beni (Irsyadillah), menuju sebuah apartemen kosong yang dikenal angker. Berhubung Linda mengenal sang penjaga, Kang Heri (Mike Lucock), maka mereka pun mendapatkan saluran ke dalam bangunan kecuali satu area yang dipagari garis polisi. Dasar bocah bengal, tentu saja pantangan tersebut dilanggar dan ibarat bisa diduga, serangkaian teror pun seketika menyergap mereka. Kapok koen!

Sejujurnya, sulit bagi saya untuk meredam ketertarikan kepada DreadOut. Betapa tidak, film ini mempunyai sejumlah faktor yang memungkinkannya buat menjadi tontonan angker yang mengasyikkan seperti: 1) sutradaranya ialah Kimo Stamboel yang merupakan salah satu personil The Mo Brothers dengan jejak rekam film-film semacam Bunian (2004 – Kimo menjadi sutradara seorang diri dan ini ialah salah satu film horor Indonesia yang oke), Rumah Dara (2009) dan Killers (2014), 2) jajaran pemainnya terdiri dari pelakon-pelakon muda yang aktingnya terbukti impresif yakni Jefri Nichol, Caitlin Halderman, serta Susan Sameh (dia bermain manis di Dear Nathan: Hello Salma), dan 3) ini ialah film Indonesia pertama yang didasarkan pada video game dan permainannya yang bergenre survival horror itu sendiri cukup digandrungi oleh para gamer alasannya ialah mempunyai faktor excitement tinggi. Jadi, apa yang mungkin bisa salah dari ini? Menilik jejak rekam film penyesuaian game yang kurang ciamik, saya pun tidak lantas menyematkan ekspektasi tinggi-tinggi akan memperoleh tontonan dengan narasi berbobot. Patokannya sih kurang lebih ibarat Sebelum Iblis Menjemput (2018) buatan rekan sejawat Kimo, Timo Tjahjanto, tempo hari yang tipisnya naskah dikompensasi oleh teror maksimal. Asalkan bisa fun yang berarti bikin bersemangat, teriak-teriak, maupun ketawa di dalam bioskop, saya sudah terpuaskan – anaknya praktis puas kok. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mampukah Kimo mengkreasi tontonan ngeri-ngeri sedap yang levelnya setara atau minimal mendekati film garapan Timo tersebut melalui DreadOut?


Well, gimana ya saya harus menjawabnya. Makara emmm… begini, errr… DreadOut tidak sedikitpun mendekati Sebelum Iblis Menjemput. Oke, pengharapan ini mungkin terdengar kurang realistis mengingat materi sumbernya. Tapi berhubung Timo ialah ‘belahan jiwa’ dari Kimo, tidak ada salahnya bukan mendamba DreadOut bakal mempunyai kesenangan yang kurang lebih senada? Sebetulnya sih, jikalau kita berbicara mengenai elemen teknis, film ini masih bisa untuk diapresiasi. Ada sinematografi, tata rias plus kostum, hingga tata artistik yang mumpuni. Si pembuat film bisa menghadirkan nuansa creepy di beberapa titik awal ibarat lorong-lorong di apartemen yang temaram, ruang apartemen yang misterius, serta kediaman si villain yang tampilan luarnya sudah cukup bikin para penakut bergidik ngeri. Disamping nuansa seram, Kimo juga kentara ingin menguarkan nuansa game melalui pergerakan kamera dinamis yang tak jarang mengaplikasikan first-person shot sehingga penonton sanggup melihat suatu insiden melalui mata Linda – meski makin belakang, ini terasa tak lebih dari sekadar gimmick. Ditambah dengan dandanan jauh dari kata malu-maluin untuk rombongan hantu yang diwujudkan dalam rupa pocong berclurit beserta wanita berkebaya merah (bahkan terlihat mengerikan lho!), DreadOut membuktikan bahwa dirinya mempunyai potensi. Yang kemudian mengubur hidup-hidup potensi tersebut sampai-sampai film berakhir sebagai tontonan menggelikan nan melelahkan ialah pengarahan Kimo berserta skrip racikannya.  

Tunggu, tunggu. Bukannya tadi Cinetariz yang menyampaikan kalau narasi tak berbobot bukan jadi soal? Tenang, guys, saya tidak mendadak mengalami amnesia kok. Memang betul saya tidak mengharap DreadOut punya guliran penceritaan kompleks yang di dalamnya menyertakan kritik atau komentar sosial, tapi bukan berarti saya bisa mendapatkan dengan nrimo dikala ada banyak hal tak terjabarkan di sini. Karena banyak di sini, jumlahnya sangat sangat banyak (pengen deh nulis ‘banyak’ dalam abjad kapital). Sebagai teladan saja, penonton tidak pernah diberi tahu mengenai asal muasal ‘kekuatan’ yang dipunyai Linda maupun sang ibu, begitu pula dengan kegunaannya secara spesifik kecuali biar bisa buka tutup portal mistik sesuai undangan pelanggan. Kita juga tidak dituangi isu wacana latar belakang wanita berkaya merah, mitologi dibalik keberadaan alam mistik yang dimasuki remaja-remaja ini, fungsi keris yang diperebutkan oleh banyak pihak, dan kesaktian flash di ponsel milik Linda yang tahan air, tahan banting plus tahan usang itu. Alhasil tanya yang dimulai dengan kata, “kenapa? Mengapa? Ada apa?” terus menghantui benak ini di sepanjang durasi sampai-sampai saya gagal fokus. Sampai-sampai saya tak bisa lagi menemukan letak serunya film ini kecuali dikala penonton lagi ngakak di adegan yang tak seharusnya ngakak. Masa iya ini disengaja oleh si pembuat film demi memberi kesempatan bagi penonton untuk mengeluarkan kemampuan mengarang bebas? Makara ceritanya, kita dibebaskan untuk berasumsi mengenai apa yang terjadi dalam film tanpa pernah dikasih tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Jika benar demikian, Astaghfirullah, Pak Kimo. Berasumsi dan berprasangka itu tidak dibenarkan oleh agama lho. Dosa!


Tapi memang yang namanya dosa bakal melekat otomatis dikala menonton DreadOut sih. Bukan, bukan alasannya ialah zina mata melihat Jefri Nichol buka-bukaan baju, melainkan alasannya ialah mendoakan sebagian besar karakter di film ini supaya cepat dicaplok para hantu dan menemui ajalnya. Kedengarannya memang jahat sekali, cuma mau bagaimana lagi, Jessica si pengabdi konten dan konco-konconya ini tingkat annoying-nya sudah level dewa. Yang mereka lakukan di sini tidak jauh-jauh dari: live di Instagram, mencari sinyal, ribut-ribut tak jelas, lari-lari, teriak-teriak, kemudian ulangi lagi dari tahapan mencari sinyal. Persis ibarat guliran pengisahan dari filmnya itu sendiri yang, well… repetitif. Saat portal menuju dunia lain terbuka, saya sempat bersemangat alasannya ialah latar mengalami perluasan dan tidak melulu berkutat di apartemen yang mulai kurang terlihat seram. Tapi semangat itu seketika menciut hingga sekecil upil begitu melihat betapa mudahnya Linda menyelamatkan karakter tertentu dari cengkraman si antagonis, dan tak usang kemudian, si antagonis kembali menculiknya. Like, seriously? Mbok ya daripada kelihatan kayak bocah rebutan mainan gitu, mending misi penyelamatannya agak dipanjang-panjangin biar tak terkesan amat praktis dilaksanakan. Lagian, belum dewasa ini pindah dimensi kok kayak pindah ruangan. Keluar masuk dengan begitu entengnya padahal mereka mesti menyelam dalam-dalam, bukan sekadar buka pintu. Saking seringnya, saya hingga curiga kalau mereka ini sebenarnya atlet renang di sekolah alasannya ialah fisik mereka masih tetap segar bugar sekalipun udah berkali-kali nyemplung memakai pakaian lengkap. Saya yang melihatnya saja sudah kedinginan dan bersin-bersin lho. Kalau saya jadi mereka, sudah niscaya keesokan harinya membolos sekolah. Bukan alasannya ialah trauma, tapi alasannya ialah masuk angin. Brrr…

Note : DreadOut mempunyai dua adegan bonus, jadi bertahanlah yaaa.

Poor (2/5)