October 25, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Drive Angry

Entah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage sampai dirinya terjebak dalam film  REVIEW : DRIVE ANGRYEntah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage sampai dirinya terjebak dalam film – film berkualitas mengecewakan dalam beberapa tahun terakhir. Memang tak semua filmnya jelek alasannya masih ada yang dapat dikategorikan layak tonton macam Knowing, Kick Ass dan Bad Lieutenant : Port of Call New Orleans. Namun jumlah filmnya yang kacau balau berkali kali lipat lebih banyak dan bahkan untuk tahun ini saja, beliau sudah memulainya lewat Season of the Witch. Seakan belum cukup, beliau kembali mengulanginya dalam Drive Angry. Kepercayaan saya terhadap Nicolas Cage pun perlahan – lahan mulai hilang. Yang menyedihkan, saking seringnya Cage bermain di film dengan kualitas semenjana, banyak orang menerka bahwa dirinya tidak mempunyai film yang bagus. Padahal selama beliau mendapat naskah yang sempurna dan brilian, Cage pun dapat bermain apik di film yang dibintanginya.
Ditangani oleh sutradara yang catatan rekornya tak meyakinkan, Patrick Lussier, dan hasil box office di Amerika Utara yang rusak parah, firasat saya akan Drive Angry sama sekali tak bagus. Tak ada satupun film buatan Lussier yang dapat saya nikmati. Kembali berkolaborasi dengan Todd Farmer sesudah sebelumnya membuat remake My Bloody Valentine yang sangat mengecewakan itu, saya sama sekali tak menaruh cita-cita lebih kepada Drive Angry. Lussier membuat Drive Angry layaknya film kelas B dengan suplemen embel – embel 3D biar terkesan lebih menjual. Tidak ada yang salah dengan film kelas B alasannya jikalau ditangani dengan sempurna dapat menjadi tontonan yang menyenangkan. Coba saja cicipi karya Robert Rodriguez dan sutradara favorit saya, Quentin Tarantino. Drive Angry mencoba keras untuk menjadi tontonan yang mengasyikkan dengan begitu dermawannya menggelontorkan sejumlah kekerasan brutal dan ketelanjangan. Tapi apakah itu berhasil ? Bagi saya, cukup berhasil di bab awal, namun sesudah berulang kali diulang malah menjadikannya sebagai boomerang.

Entah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage sampai dirinya terjebak dalam film  REVIEW : DRIVE ANGRYEntah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage sampai dirinya terjebak dalam film  REVIEW : DRIVE ANGRYEntah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage sampai dirinya terjebak dalam film  REVIEW : DRIVE ANGRYNicolas Cage yaitu John Milton, penghuni neraka yang kabur ke bumi demi menyelamatkan sang cucu yang diculik oleh sebuah kelompok pemuja setan. Dalam perjalanannya memburu kelompok ini, beliau ditemani oleh seorang gadis elok nan seksi dari film All the Boys Love Mandy Lane, Amber Heard. Formula yang sangat gampang ditebak dan untungnya kehadiran Heard atau Piper disini sama sekali tak mengganggu, malahan berhasil membuat mata saya terus tetap melek sampai final film walau sesungguhnya sudah sangat menderita dan ingin film ini cepat selesai. Perburuan juga diperumit dengan kehadiran The Accountant, diperankan dengan cukup baik oleh William Fichtner, yang bertugas untuk menyeret Milton kembali ke neraka. Meski ditampilkan sebagai aksara bubuk – bubuk yang menyebalkan, kehadiran The Accountant tampaknya dimanfaatkan oleh Lussier untuk memancing tawa penonton dengan perilakunya yang susah ditebak. Sesekali humor yang ditawarkan cukup efektif, tapi semakin ke belakang ketika kekerasan dijadikan sebagai materi guyonan, segalanya menjadi tak lucu lagi.

Naskah Drive Angry memang tak dapat diandalkan mengingat begitu dangkalnya plot dan obrolan – obrolan menggelikan bertebaran di sepanjang film. Special effects-nya bolehlah walaupun tak terlampau istimewa. Untuk pemakaian 3D sendiri terkesan dipaksakan alasannya tanpa ini pun Drive Angry tak akan terasa berbeda. Menyebalkan rasanya menggunakan kacamata 3D yang mengganggu untuk menonton sebuah film berdurasi 100 menit yang tak kalah mengganggunya. Jelas sekali 3D, kebrutalan, ketelanjangan dan Nicolas Cage yang menjadi jualan utama film ini alasannya selain itu tak ada yang dapat dibanggakan dari Drive Angry. Perasaan tersiksa sepanjang film dengan menyaksikan sejumlah adegan agresi yang membosankan semakin ditambah melihat bagaimana LSF memotong film ini dengan kasar. Jika kalian memang menggemari tontonan agresi tanpa otak yang menjual kekerasan dan boobs mungkin akan sangat menikmati Drive Angry, tapi jikalau tidak mending pilih film lain saja daripada menyesal telah membuang – buang uang dan waktu untuk tontonan dangkal macam ini.

Poor

Trailer :