July 9, 2020

Review : Dua Garis Biru


“Jadi orang renta itu bukan cuma hamil sembilan bulan sepuluh hari, itu pekerjaan seumur hidup.”


Saat kau tetapkan mengulik informasi yang dinilai tabu untuk diperbincangkan secara umum oleh masyarakat Indonesia dalam suatu film, maka bersiaplah menanggung resiko besar berwujud prasangka dan asumsi. Dua Garis Biru, sebuah film yang menandai untuk pertama kalinya penulis skenario Gina S Noer memegang kemudi penyutradaraan, mendapatkan resiko tersebut tatkala dirinya nekat memperbincangkan “urusan ranjang” di hadapan publik. Lebih-lebih, target utamanya ialah cukup umur usia belasan yang matanya masih sering ditutup-tutupi oleh orang renta mereka ketika melihat adegan ciuman dalam film. Maka ketika gelombang keluhan bergulir di media umum termasuk dilayangkannya petisi yang meminta film dihentikan tayang pada dua bulan lampau (hanya) berlandaskan trailer dan sinopsis, saya tentu tak heran meski sangat menyayangkan. Ditengah iklim masyarakat yang kian konservatif, memperbincangkan soal seks secara terbuka terperinci tergolong berani. Apapun tujuannya. Hanya saja, satu hal yang selalu saya dengungkan dan pertanyakan: apakah bijak menilai suatu film dari tampilan luarnya semata? Apalagi, bila kita berkenan menelusuri jejak rekam sang pembuat, Dua Garis Biru berada dibawah naungan Starvision beserta Chand Parwez Servia selaku produser yang terhitung higienis dari kontroversi serta mempunyai visi misi memajukan perfilman nasional dengan mengkreasi film berkonten baik. Kaprikornus apakah mungkin mereka mempertaruhkan reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun dengan mengkreasi “film durjana” yang berpotensi merusak generasi muda bangsa ini demi sensasi yang sifatnya sementara? Hmmm…rasa-rasanya mustahil.

Dalam Dua Garis Biru yang guliran pengisahannya dikembangkan sendiri oleh Gina S Noer (Posesif, Keluarga Cemara), penonton diperkenalkan kepada dua huruf yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Mereka ialah Dara (Zara JKT48) yang mempunyai prestasi gemilang di sekolahnya dan Bima (Angga Yunanda) yang terbilang santun dalam berperilaku sekalipun nilai akademisnya berada di bawah rata-rata. Kedua cukup umur dari dua dunia berbeda ini – Dara bergelimang harta sementara kondisi finansial keluarga Bima serba mepet – dipersatukan oleh dingklik di kelas. Mereka duduk bersebelahan yang memungkinkan untuk berinteraksi secara intens setiap hari. Dari mulanya sekadar teman sebangku dan sepermainan, korelasi mereka berubah menjadi percintaan. Baik Bima maupun Dara saling goda satu sama lain, saling menawarkan perhatian kecil satu sama lain, hingga kerap menjauhi keramaian demi menghabiskan waktu untuk berduaan. Untuk sesaaat, korelasi dua cukup umur ini terlihat tak ubahnya cukup umur kebanyakan yang sedang berada dalam fase “cinta monyet”. Namun segala kebahagiaan dan keceriaan yang mewarnai hari-hari keduanya perlahan sirna tatkala mereka tetapkan untuk berafiliasi badan. Tanpa dibekali pendidikan seks mumpuni, dua cukup umur lugu ini pun menghadapi konsekuensi terburuk yang mungkin terjadi, yakni Dara berbadan dua. Mengira segalanya akan usai dengan pernyataan “saya akan bertanggung jawab”, keduanya justru terseret ke dalam duduk kasus yang jauh lebih kompleks dimana kemarahan, kekecewaan, serta penyesalan dari banyak sekali pihak bercampur baur menjadi satu.


Seperti telah saya perkirakan, Dua Garis Biru tidak berakhir sebagai tontonan “nakal” yang mengglorifikasi seksualitas maupun kebengalan cukup umur selaiknya dikhawatirkan oleh sebagian pihak. Sebaliknya, film ini berupaya menawarkan keuntungannya dengan cara memberi penyuluhan mengenai seksualitas yang notabene hanya dijadikan sebagai “poster pajangan” di Unit Kesehatan Sekolah tanpa pernah disampaikan eksklusif kepada pelajar. Tentu saja beberapa pihak akan berargumentasi “berpotensi memantik pemikiran kotor remaja” seraya berlindung dibalik kata “tabu” serta “tidak sesuai moral ketimuran” guna menawarkan keberatannya terhadap konten yang diusung oleh Dua Garis Biru. Akan tetapi, apakah kita akan selamanya menghindari pembicaraan mengenai seksualitas sementara topik ini sejatinya terintregasi secara eksklusif dengan kehidupan khalayak ramai? Maksud saya, seksualitas tidak semata-mata berkenaan dengan bersenggama alasannya cakupannya terperinci lebih luas daripada itu. Melalui debut penyutradaraannya ini, Gina S Noer mencoba untuk membuka ruang diskusi di kalangan penonton – khususnya anak dengan orang renta – demi meminimalisir ketidaktahuan, kesalahpahaman, serta efek-efek negatif yang mungkin timbul akhir keengganan berbicara soal seks. Oleh Gina, penonton diberi pola masalah dari duduk kasus yang dihadapi oleh Bima dan Dara. Keduanya ialah cukup umur baik-baik dengan masa depan cemerlang menanti, tapi mengapa mereka justru berbuat blunder yang menghancurkan segalanya? Dalam satu dua dialog, kita sanggup menarik kesimpulan: tidak pernah ada pembicaraan mendalam antara Bima dengan orang tuanya (berlaku juga pada Dara) mengenai seksualitas dan pihak orang renta lebih menaruh kekhawatiran kepada narkoba karena membicarakan heroin beserta rekan-rekan sejawatnya tidak dianggap memalukan.  


Dari konflik awal seputar “ngebuntingin anak orang” dan pembicaraan mengenai ancaman kehamilan di usia dini, Dua Garis Biru berkembang menjadi lebih menggigit ketika materi obrolan turut merangkul sederet informasi lain terkait budaya victim blaming yang berkembang di masyarakat (termasuk institusi pendidikan yang semestinya mempunyai pemikiran terbuka), pola asuh orang tua, hingga korelasi dalam keluarga. Tidak ada huruf yang sepenuhnya putih higienis disini, tidak ada pula huruf yang diperlihatkan hitam legam tanpa ada setitik nilai kebaikan yang dipercayainya. Baik Bima beserta keluarga, maupun Dara beserta keluarga pernah berlaku, mengambil keputusan, atau minimal mengucap keliru dan itu tidak masalah. Mereka mencar ilmu dari konflik yang mengikat mereka, mereka tumbuh menjadi insan yang lebih baik berkat masalah tersebut. Satu hal yang paling saya sukai dari Dua Garis Biru adalah penggambaran si pembuat film terhadap dua belah keluarga. Mereka diperlihatkan mirip keluarga sangat serasi di permukaan, tapi kenyataannya berkata lain. Kenyataan yang perlahan tersingkap ketika dua huruf utama bertindak keliru. Pun demikian, penonton tidak dikondisikan untuk membenci mereka karena ada sabab-musabab yang menciptakan kita sanggup memafhumi mereka. Ada sisi manusiawi yang tetap dijaga oleh Gina. Bahkan, kita sanggup menyematkan simpati kepada karakter-karakter paling menyebalkan sekalipun alasannya konflik yang sepertinya akan menghancurkan mereka justru menghadirkan pembelajaran besar yang membawa pada kesadaran mengenai pentingnya komunikasi dari hati ke hati antara orang renta dengan anak. Terkesan terlambat, tapi setidaknya mereka bakal enggan sesumbar “saya orang renta yang tepat dan tak pernah berbuat salah.”


Disamping berkat skrip yang melontarkan materi obrolan menggelitik pemikiran dan pengarahan sangat baik dari Gina yang cukup sering menyelipkan simbol-simbol sarat interpretasi di sepanjang durasi (seperti buah stroberi yang diasosiasikan dengan janin bayi, atau kerang yang diibaratkan mirip wanita dengan keperawanannya), Dua Garis Biru sanggup tampil menjulang berkat bantuan Padri Nadeak yang memberi tangkapan-tangkapan gambar menawan nan menguarkan nuansa intim, mendiang Khikmawan Santosa beserta Syamsurrijal yang memperdengarkan kita dengan suara-suara di sekitar para huruf yang mempertegas terciptanya bermacam-macam suasana, Aline Jusria yang penyuntingannya memungkinkan penonton untuk menyelami dunia yang dikreasi oleh Gina, serta barisan pemain yang mempunyai ikatan berpengaruh antara satu dengan lain; Zara JKT48 kembali menunjukan bahwa ia ialah aset berharga bagi perfilman Indonesia, Lulu Tobing memberi akting meletup-letup dalam comeback yang mengesankan, dan Cut Mini berfungsi memberi kehangatan sekaligus bertindak selaku comic relief melalui ujarannya yang cenderung ceplas ceplos. Diantara riuhnya bintang yang memeriahkan Dua Garis Biru, saya menilai Angga Yunanda (sebelumnya ia bermain baik di Sunyi) sebagai bintang bahwasanya bagi film ini. Dia tampil melas sekaligus gampang diberi simpati sebagai lelaki lugu yang terperangkap dalam keadaan pelik yang semestinya belum dihadapi cukup umur seusianya. Kita meratapi kecerobohannya, tapi kita juga dibikin tertawa oleh pernyataan polosnya, dibikin bersimpati oleh kesungguhannya untuk memperbaiki keadaan, dan dibikin pula terenyuh ketika ia berbincang-bincang dengan sang ibu (Cut Mini) mengenai “surga dan neraka” yang merupakan adegan terbaik dalam film sampai-sampai sulit rasanya untuk menahan-nahan air mata semoga tidak bercucuran. Bagus!

Outstanding (4/5)