September 29, 2020

Review : Dumbo


“We’re all family here, no matter how small.”

Sedari kesuksesan secara finansial yang direngkuh oleh Alice in Wonderland (2010), Walt Disney Studios mendadak keranjingan untuk menginterpretasi ulang film animasi klasik koleksi mereka ke dalam format live action. Meski satu dua diantaranya menerima ulasan kurang menggembirakan dari kritikus karena dianggap tidak bisa menangkap sisi magis dari materi sumbernya, tapi sulit untuk disangkal bahwa demand dari publik terhitung tinggi – pengecualian untuk Alice Through the Looking Glass (2016) yang babak belur dihajar banyak sekali pihak. Maka jangan heran kalau kemudian rumah produksi penghasil Mickey Mouse ini terus menelurkan judul-judul pembiasaan dari tontonan animasi legendaris. Bahkan, pada tahun 2019 ini sendiri terdapat 4 film yang siap dilepas (!) termasuk The Lion King, Aladdin, serta Dumbo yang dipilih sebagai “pembuka parade”. Berbeda dengan dua film pertama disebut yang berasal dari kurun keemasan atau Disney Renaissance (1989-1999), Dumbo merupakan versi live action dari salah satu film animasi Disney di era-era awal yang berlangsung bersamaan dengan Perang Dunia I. Sebuah pilihan yang harus diakui beresiko mengingat film ini kemungkinan kurang familiar di indera pendengaran penonton awam khususnya bagi mereka yang tinggal di luar negeri Paman Sam. Terlebih lagi, versi orisinil Dumbo hanya berdurasi sepanjang satu jam dengan sebagian besar karakternya diisi oleh binatang-binatang yang berdialog memakai tindakan dan gaya penceritaannya pun tergolong surealis. Saya pun dibentuk bertanya-tanya, “apa ya pendekatan yang akan ditempuh oleh si pembuat film biar membuat sajiannya ini terlihat menarik di mata penggemar sekaligus penonton anyar apalagi ada gajah bertampang menggemaskan disini?.”

Dalam Dumbo versi mutakhir ini, penonton dilempar jauh kembali ke tahun 1919 dan dipertemukan dengan rombongan sirkus berjulukan Medici Brothers’ kepunyaan Max Medici (Danny DeVito). Salah satu personil yang memegang peranan penting dalam dongeng yaitu Holt Farrier (Colin Farrell) yang gres saja pulang dari medan perang. Dia mempunyai dua anak; Milly (Nico Parker) yang tergila-gila pada sains dan Joe (Finley Hobbins) yang tertarik pada banyak hal, sementara sang istri telah berpulang alasannya sakit. Disamping upayanya untuk berdamai dengan kenyataan bahwa ia sekarang menjadi orang renta tunggal dan lengannya pun tak lagi utuh, Holt juga harus merelakan kuda atraksinya dijual oleh Max demi menutupi biaya operasional sirkus. Demi membuatnya tetap berkhasiat di kelompok sirkus ini, Holt pun mau tak mau mendapatkan pekerjaan sebagai pengurus gajah. Dalam kiprah barunya tersebut, Holt bertemu dengan si aksara tituler yang merupakan anak dari salah satu gajah, Mrs. Jumbo. Seperti bisa diterka dari hubungan antara dua aksara terpinggirkan, keduanya pun tak pribadi mempunyai ikatan. Holt masih membuat jarak dengan Dumbo yang kerap menjadi materi olok-olok akhir ukuran telinganya yang sangat besar. Selain Mrs. Jumbo, anggota sirkus lain yang bersedia untuk berinteraksi dengan Dumbo hanyalah Milly dan Joe. Mereka berupaya untuk menggali potensi si bayi gajah biar ia bisa tampil dan tak disingkirkan begitu saja oleh Max. Ditengah-tengah proses pendekatan, keduanya menyadari bahwa Dumbo mempunyai talenta terpendam. Sebuah talenta yang tidak hanya sanggup mengukuhkan status si gajah sebagai bintang sirkus, tetapi juga sanggup menyelamatkan Medici Brothers’ dari keterpurukan.


Seperti bisa diperlukan dari film-film isyarat Tim Burton (Charlie and the Chocolate Factory, Alice in Wonderland), Dumbo pun mempunyai tampilan visual yang bisa dikagumi. Entah itu berasal dari gaya hias bangunan yang menerapkan desain art deco, warna-warni kostum yang dikenakan oleh jajaran karakternya yang menjajaki bisnis sirkus, kemeriahan pertunjukkan-pertunjukkan sirkus yang meliputi homage ke adegan-adegan ikonik di versi animasinya, hingga visualisasi taman bermain milik V. A. Vandevere (Michael Keaton) yang sedikit banyak terinspirasi dari Disneyland. Disamping itu, ciri khas si pembuat film yang gemar “gelap-gelapan” dalam bercerita – biasanya ia menerapkan visual beraroma gothic sebagai hiasannya – masih bisa pula dijumpai di film yang mengaplikasikan nada penceritaan lebih konvensional demi mengganti narasi surealis versi animasinya ini. Kita bisa mencecapnya melalui keberadaan karakter-karakter nyentrik yang terpinggirkan, adegan janjkematian akhir Mrs. Jumbo yang mengamuk andal atau lewat obrolan yang menyiratkan wacana “masa depan” Mrs. Jumbo sehabis tak lagi dieksploitasi oleh Vandevere. Namun berhubung Dumbo diniatkan sebagai film untuk segala usia yang sanggup menghangatkan hati dan menginspirasi generasi muda dengan pesan watak klasik ala film-film Disney ibarat “percayalah pada kemampuanmu sendiri!”, maka tentu saja ada batasan-batasan yang harus dipenuhi. Malah bisa dibilang, Dumbo yaitu salah satu film Tim Burton yang paling ramah penonton cilik. Di sini kita diupayakan untuk jatuh hati terhadap si aksara tituler yang diwujudkan dengan sangat brilian oleh tim dampak khusus sehingga membuatnya tampak begitu nyata, kemudian terenyuh mendengar kisah mengharu birunya dimana ia dipaksa berpisah dengan sang ibu, dan bersemangat menyaksikan petualangannya dalam memperjuangkan kebebasan.

Pada menit-menit awal terutama dikala Dumbo terbang melewati penonton-penonton sirkus, saya bisa mendeteksi sekelumit sensasi magis dari film. Saya terperangah melihat pahlawan mungil ini melayang-layang di udara, saya juga bersuka cita menjadi saksi kemenangannya dalam menampik nyinyiran para peragu. Tapi film mulai terasa goyah sehabis penonton dikasih lihat bahwa Dumbo memang benar-benar bisa terbang. Di versi aslinya, moment of truth ini gres terjadi di menit-menit pamungkas mengikuti tujuannya untuk menawarkan gong pada kisah pembuktian diri si aksara utama. Sedangkan di versi anyar ini, kita telah diposisikan sebagai saksi mata sedari Milly dan Joe tanpa sengaja membuat bayi gajah ini terbang akhir bulu angsa. Keputusan untuk menempatkan kejutan di paruh pertama film tentu mendatangkan resiko besar alasannya penonton akan otomatis menelurkan pertanyaan, “apa yang akan terjadi kemudian?” dan sialnya, Burton bersama Ethan Kruger selaku penulis skenario tidak mempunyai suplai materi bakar memadai guna mempertahankan api (baca: daya pikat) pada penceritaan biar tetap menyala-nyala. Keduanya membiarkan para aksara insan menjadi aksara satu dimensi nan kosong yang sebatas bertengger di area “hitam” maupun “putih”. Kalaupun ada yang dikelokkan ke area “abu-abu”, aksara tersebut tak menerima character arc yang layak sampai-sampai saya pun dibentuk bingung: kok ia bisa tiba menjelma baik? Lantaran tiada kompleksitas dalam bangunan aksara plus konflik yang dikedepankan pun dipaparkan sekenanya saja (seperti bagaimana Holt membangun kepercayaan kedua anaknya), saya pun kesulitan besar dalam menginvestasikan emosi kepada mereka. Saya bisa jatuh hati pada Dumbo, tetapi tidak kepada teman-teman manusianya. Hanya Michael Keaton yang bermain meyakinkan sebagai villain, sementara sisanya menawarkan rasa hambar dan hampa khususnya duo cilik Nico Parker-Finley Hobbins yang aksara mereka mainkan seharusnya krusial alasannya difungsikan sebagai pengganti mitra baik Dumbo di versi asli, Timothy Mouse.


Pada akhirnya, ketimbang diselimuti kepenasaran dengan modal pertanyaan “apa yang akan terjadi kemudian?”, saya justru dipenuhi dengan keingintahuan untuk menemukan jawab atas pertanyaan “kapan film akan mencapai titik konklusi?” alasannya film menjadi semakin tidak menarik usai porsi tampil Dumbo mulai tergerus.

Acceptable (3/5)