October 18, 2020

Review : End Of Watch


We’re cops, everyone wants to kill us.” – Taylor 

Apakah Anda pernah menyaksikan Cops yang ditayangkan oleh susukan berbayar, Fox Crime, saban hari? Acara realita tersebut mengikuti beberapa petugas polisi yang tengah berpatroli dan memerlihatkan sepak terjang mereka kala berjibaku dengan sejumlah pelaku tindak kriminal. Film ketiga dari David Ayer sehabis Harsh Times dan Street Kings yang diberi titel End of Watch ini mempunyai gaya tutur yang nyaris senada dengan program realita peraih empat nominasi Emmy tersebut. Selama kurang lebih 109 menit, Anda akan diajak oleh Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena), rekanan di Los Angeles Police Department, menyusuri jalanan di Los Angeles bab selatan dimana kriminalitas merajalela sehingga memaksa para petugas yang diterjunkan ke wilayah ini untuk senantiasa waspada setiap saat. Ayer memberikan kisah dua sahabat ini dengan menerapkan teknik kamera handheld yang menciptakan film ibarat sebuah tayangan reality show. Ya, mirip yang saya tulis di awal paragraf, End of Watch mengingatkan pada Cops. Apabila Anda menggemari Cops, maka tentu sulit bagi Anda untuk menampik pesona dari End of Watch
Tidak mirip film bergaya mockumentary kebanyakan, film garapan Ayer ini menghindari sebuah referensi penceritaan yang runtut dengan tata waktu simetris. End of Watch diperlakukan selayaknya sebuah program realita. Seolah-olah ada seorang produser dengan kewenangan penuh dalam memilih potongan-potongan insiden mana saja yang sekiranya bisa mengundang perhatian penonton yang akan dimasukkan ke dalam film. Itulah mengapa film loncat kesana kemari. End of Watch mengawali kisah dengan sebuah ‘car chase scene’ yang cukup seru dimana acara tersebut direkam oleh Brian untuk proyek filmnya. Pengejaran tersebut berakhir tragedi alam sehabis Brian dan Mike memberondong para tersangka dengan tembakan. Aksi kedua polisi ini mendapat teguran, terlebih keputusan Brian untuk memfilmkan setiap hela nafas kehidupannya mengganggu para rekan kerjanya terutama Van Hauser (David Harbour). Menit demi menit berikutnya, penonton digiring untuk menyaksikan rangkaian tindakan heroik – dan tidak jarang, tolol, iseng, dan menjengkelkan – dari kedua tokoh utama film ini. 
Di sela-sela rutinitas pekerjaan yang beresiko tinggi, Ayer tidak lupa untuk memperkenalkan latar belakang dari Brian dan Mike walau hanya sebatas pada kehidupan asmara mereka. Mike telah mempunyai seorang istri, Gabby (Natalie Martinez). Keduanya tengah menanti momongan pertama mereka. Sementara Brian yang terbiasa gonta-ganti pasangan kesudahannya bertekuk lutut ketika bertemu dengan Janet (Anna Kendrick). Dikemas dalam bentuk percakapan santai penuh humor, subplot ini menjadi pencair ketegangan seusai mengikuti duo sahabat ini berpatroli di daerah yang penuh dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Dengan adanya persaingan panas antara kartel dari Mexico dengan kartel kulit gelap untuk menguasai wilayah, maka sudah terperinci nyaris tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersantai. Berhenti di pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan melahap donat? Bisa saja dilakukan jikalau Brian dan Mike memutuskan untuk menjadi polisi malas atau polisi korup. Untungnya, Ayer tidak menggambarkan mereka mirip itu. Brian dan Mike dikisahkan sebagai sosok yang gemar menantang maut dan mengambil resiko ketika tengah bertugas. Inilah yang kemudian menuntun mereka kepada ‘villain’ utama dari film ini yang…. harus Anda cari tahu sendiri. 
Sungguh menyenangkan menyaksikan sebuah film dimana Anda merasa seakan-akan ikut terlibat di dalamnya. Tidak ada satupun momen dalam End of Watch yang menciptakan saya terkulai lemas kebosanan atau menguap lebar-lebar di dalam bioskop. Kerjasama yang solid antara pemain dan kru menciptakan Ayer bisa mengarahkan film ketiganya ini secara maksimal. Kekuatan utama dari film ini terletak pada naskahnya yang patut mendapat acungan jempol dimana dialog-dialognya yang mengalir lancar bisa menggambarkan keintiman dari setiap tokoh di film ini; baik Brian, Mike, Gabby, maupun Janet. Dari sinilah Ayer membangun ikatan antara penonton dengan setiap tokoh di film ini. Menyaksikan mereka berinteraksi dengan dialog-dialog yang seru, menggelikan, sekaligus menyentuh. Dengan hadirnya ikatan, maka rasa tenggang rasa penonton pun secara otomatis tumbuh. Apapun yang dilakukan oleh keempat tokoh utama film ini, saya peduli. Saya merasa kenal akrab dengan mereka. Saya merasa menjadi bab dari bundar kehidupan mereka. Dan ini menciptakan film terasa menyenangkan. 
Chemistry yang terjalin antara Jake Gyllenhaal dan Michael Pena luar biasa padu, intim dan believable. Dengan sokongan naskah dan pengarahan yang mumpuni dari Ayer, mereka kian bersinar. Kala menyaksikannya, saya benar-benar dibentuk percaya bahwa mereka ialah rekanan yang telah berhubungan selama bertahun-tahun. Dinilai dari cara mereka beraksi di lapangan, berkomunikasi maupun bersenda gurau. Dua aktris, Natalie Martinez dan Anna Kendrick, dengan porsi tampil tidak terlalu banyak dan mengiaskan bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi perhiasan mata, sanggup mengimbangi Gyllenhaal dan Pena. Anna Kendrick sekali lagi berteriak lantang, “berikan saya kiprah apapun, meski kecil sekalipun, saya akan melahapnya dengan habis!.” Di luar skrip yang matang dan dalam serta para pemain yang bermain apik, keunggulan lain sanggup ditilik dari pengambilan gambar serta editing cekatan dari Dody Dorn. 
Memang, dengan mengaplikasikan teknik kamera handheld yang senantiasa bergerak dan penuh goncangan, konsekuensi yang kudu dihadapi ialah tidak semua penonton bisa menerimanya. Cukup memusingkan. Jika Anda gampang mual, bukan mustahil akan muntah. Selain itu, sudut pandang yang terkadang kurang sempurna – dimana seharusnya tidak ada kamera bertengger di beberapa sudut mengingat film ini mengusung gaya mockumentary – terasa mengganggu di beberapa kesempatan dan sedikit banyak menodai konsep realistis yang ingin diusung Ayer. Akan tetapi, dengan teknik inilah penonton justru lebih terkoneksi dengan apa yang tersaji di hadapannya. Seolah apa yang tengah disaksikan ialah insiden nyata, bukan sebuah film. Tentu saja hal ini sia-sia belaka jikalau tidak mendapat sokongan dari departemen lain, khususnya akting dan skrip. Maka sesuatu yang masuk akal jikalau Ayer melayangkan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada para pemain drama yang telah berakting natural dan membangun chemistry yang meyakinkan serta intim. Pada akhirnya, End of Watch bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang lama dan gampang ditebak. Memilih pendekatan gres untuk genre ini dengan mencampurkan found footage dan mockumentary, menyuntikkan hati, dan menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah hidangan yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out. I highly recommend it.

Exceeds Expectations