July 1, 2020

Review : Escape Room (2019)


“They knew everything about us.”


(Ulasan ini mungkin agak nyerempet spoiler, meski nggak separah filmnya itu sendiri yang melaksanakan spoiler kelas berat)

Apakah ada diantara kalian yang pernah menjajal permainan ‘escape room’ yang popularitasnya tengah melesat dalam beberapa tahun terakhir ini? Kalau belum, coba deh luangkan waktu (serta duit tentunya) kemudian ajak teman-teman terdekat buat menjajalnya. Saya sendiri ketagihan ingin memainkannya lagi sesudah berkesempatan untuk mencoba permainan ini pada setahun silam. Dalam permainan ini, sejumlah partisipan bakal ‘dikurung’ di sebuah ruangan dalam kurun waktu tertentu guna memecahkan teka-teki yang sanggup membebaskan mereka dari ruangan tersebut. Kerjasama tim terperinci diutamakan dan kalau kalian benar-benar sudah mengalami kebuntuan berpikir, bisa meminta petunjuk kepada gamemaster yang senantiasa mengawasi gerak-gerik pemain. Terdengar seru, bukan? Dan percayalah, permainan yang mempunyai banyak sekali tema ini (waktu itu aku menjajal tema zombie) memang seseru itu. Saking seru dan populernya game ini, tidak mengherankan kalau petinggi studio di Hollywood yang berakal melihat peluang karenanya tertarik untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Mengusung judul sesederhana Escape Room, film isyarat Adam Robitel (The Taking of Deborah Logan, Insidious: The Last Key) yang bergerak di jalur horor ini meningkatkan pertaruhan dalam permainan demi menggaet atensi penonton. Teka-tekinya tak hanya dibikin lebih rumit, tetapi juga mempunyai efek mematikan apabila si pemain tak sanggup menuntaskannya sempurna waktu.

Dalam Escape Room versi layar lebar, ada enam partisipan yang dilibatkan. Konfigurasinya terdiri dari seorang mahasiswi yang mempunyai otak encer tapi sukar bersosialisasi berjulukan Zoey (Taylor Davis), seorang pebisnis muda yang ambisius berjulukan Jason (Jay Ellis), seorang pekerja di toserba yang alkoholik berjulukan Ben (Logan Miller), seorang veteran perang yang mengalami stress berat berjulukan Amanda (Deborah Ann Woll), seorang pecandu permainan escape room berjulukan Danny (Nik Dodani), dan seorang pengemudi truk berjulukan Mike (Tyler Labine). Keenamnya mendapat undangan dari perusahaan Minos untuk mencoba mencicipi pengalaman memainkan escape room milik mereka yang digadang-gadang “imersif” atau mirip kenyataan. Agar mereka semakin tertarik, Minos menyiapkan hadiah uang tunai sebesar $10 ribu bagi pemain yang sanggup merampungkan tantangan hingga akhir. Didorong oleh motivasi berbeda antara satu dengan lain – sebagai contoh; Ben membutuhkan uang, Danny menyayangi permainan ini, dan Zoey memerlukan tantangan – mereka pun bersedia mencoba permainan ini. Tanpa ada kecurigaan sedikitpun, keenam partisipan mulanya menerka bahwa ini hanyalah sebatas permainan… hingga kemudian bahaya tertampang aktual di depan mata. Mereka memasuki ruangan demi ruangan yang mempunyai panggangan raksasa, udara dingin, ‘lantai berlubang’, hingga dinding bergerak yang sanggup mengakhiri hidup mereka apabila teka-teki gagal dipecahkan.


Jika yang kau butuhkan yaitu film untuk seru-seruan di kala senggang, Escape Room sejatinya bukanlah pilihan yang mengecewakan. Secara pribadi, aku bisa menikmati sajian dari Adam Robitel ini setidaknya hingga memasuki menit ke-70. Apresiasi terbesar yang sanggup aku sematkan kepada Escape Room adalah desain produksinya yang terbilang impresif sehingga memungkinkan setiap ruangan untuk mempunyai ciri khasnya sendiri-sendiri sekaligus memberi kesan ‘imersif’ mirip disebut oleh para partisipan. Dalam permainan rancangan Minos ini, kau akan menjumpai ruangan mirip ruang tunggu yang belakang layar menyimpan panggangan raksasa, ruangan mirip danau membeku yang dinginnya bukan kepalang, ruangan mirip kafetaria kawasan bermain billiard yang posisinya terbalik, hingga ruangan mirip bangsal rumah sakit. Adanya pembeda di setiap ruangan ini secara tidak eksklusif menghindarkan penonton dari kejenuhan karena muncul keingintahuan mengenai wujud ruangan selanjutnya. Berhubung tingkat kesulitan senantiasa menanjak, ada pula rasa ingin tau untuk mengetahui tantangan mirip apa lagi yang bakal dihadapi oleh para partisipan. Memang sih beberapa tantangan tampak terlampau gampang untuk dipecahkan, tapi syukurlah Escape Room masih menyimpan satu momen yang betul-betul menciptakan jantung ini berdegup kencang dan kaki terasa lemas. Bagi saya, momen tersebut sanggup dijumpai di ruang billiard.

Disamping desain produksi, faktor lain yang menyebabkan Escape Room terasa nikmat-nikmat saja buat dikudap yaitu laju penceritaan yang bergegas dan barisan huruf yang (syukur alhamdulillah) tidak terlalu menyebalkan. Kapan coba terakhir kali kau menonton sebuah film horor dimana sebagian besar karakternya sanggup diberi simpati dan kau tidak mengharapkan mereka mati? Jarang-jarang ada lho, dan untuk itu, Escape Room perlu diberi sedikit tepuk tangan. Yang juga perlu diapresiasi yaitu upaya Robitel dalam menyelamatkan film dari keterpurukan karena bahan narasi kurang memadai. Ya, si pembuat film menyadari betul bahwa skrip film ini mengandung penceritaan yang tipis dan terasa amat familiar sampai-sampai mengingatkan pada Cube (1997), Saw V (2008), hingga The Belko Experiment (2016). Itulah mengapa ia mengondisikan semoga laju penceritaan Escape Room melesat cepat demi menutupi kelemahan skrip dan menjauhkan penonton dari kemungkinan jenuh akhir beberapa trik yang kurang bergigi. Smart move, huh? Berhasil di satu jam pertama, sayangnya langkah Robitel terjegal begitu film memasuki babak pengungkapan yang bukan saja berlangsung datar tetapi juga tidak mempunyai daya sentak mirip diperkirakan. Keinginan untuk menyebarkan film menjadi sebuah franchise turut mempunyai andil pada konklusi yang terasa antiklimaks hingga memunculkan komentar “udah nih gitu aja?”. Beruntung Escape Room tergolong sukses di tangga box office sehingga kemungkinan bagi penonton untuk memperoleh balasan di jilid berikutnya seketika terbuka lebar. Coba bayangkan seandainya film ini gagal, maka kedongkolannya mungkin saja setara dengan The Mist (2007) yang penyelesaiannya masih belum bisa aku maafkan hingga sekarang.

Acceptable (3/5)