December 3, 2020

Review : Evil Dead

“Feast on this, motherfucker!” – Mia

Tagline dari film ini telah memberi peringatan kepada Anda mengenai apa yang akan Anda hadapi selama 92 menit. Tulisan yang tertera besar-besar di posternya berbunyi ibarat ini; ‘the most terrifying film you will ever experience’. Jika telah menyaksikan versi aslinya – sebuah mahakarya dari Sam Raimi yang dirilis pertama kali pada tahun 1981 – maka Anda sudah tahu sedikit banyak mengenai pengalaman yang hendak dialami. Namun kalau ini ialah pertama kalinya merasakan franchise dari Evil Dead… bersiaplah! Khususnya bagi yang gampang mual dan tidak tahan terhadap tontonan yang memperlihatkan bergalon-galon darah yang membanjiri layar. Karena yah, itulah yang akan menjadi hidangan utama dari reboot yang dikreasi ulang oleh sutradara anyar asal Uruguay, Fede Alvarez, ini. Semuanya tentang… darah, darah, darah! Gedung bioskop pun mendadak memerah karena layar yang tak henti-hentinya diciprati oleh darah. Yah, terang bukan pengalaman indah yang akan Anda alami di sini. Teror dan mimpi jelek ialah yang dijanjikan oleh Alvarez. 

Anda tentu sudah tahu ihwal apa film ini bertutur, bukan? Entah sudah berapa film horor yang memiliki premis yang kurang lebih serupa dengan The Evil Dead, baik itu berupa tak lebih dari sekadar tiruan maupun sebuah penghormatan (yang teranyar ialah The Cabin in the Woods). Sebuah warisan yang berharga dari Raimi, sembah sujud! Jadi… apa yang terjadi dalam film ialah lima cukup umur menghabiskan liburan mereka di sebuah pondok kayu yang berlokasi jauh terpencil di tengah hutan. Kelima personil tersebut ialah abang beradik Mia (Jane Levy) dan David (Shiloh Fernandez), Olivia (Jessica Lucas), Eric (Lou Taylor Pucci), dan Natalie (Elizabeth Blackmore). Tujuan dari liburan ini ialah tidak lain untuk menyembuhkan Mia yang mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang. Setelah sedikit drama disana sini yang sekaligus bertujuan untuk memperkenalkan setiap tokoh dalam film, maka dongeng pun berlanjut dengan kehadiran buku ‘Naturom Demonto’ yang menjadi pemicu dari munculnya serangkaian teror dalam film. 

Tidak ibarat versi aslinya (The Evil Dead dan kedua sekuelnya), yang tidak melulu menggedor jantung penonton dengan tampilan-tampilan angker dan sesekali masih mengizinkan kita untuk menertawakan humor dari Raimi yang aneh, maka versi Alvarez ini benar-benar melarang Anda untuk tertawa… setidaknya kalau ada tawa itu bukan dari sesuatu yang lucu. Seolah ingin mewujudkan apa yang dijanjikan dalam tagline, maka si pembuat film yang bekerja sama dengan Rodo Savagues dan Diablo Cody membawa reboot ini ke dalam kegelapan. Jauh memasuki hutan belantara yang suram, gelap, dan dingin. Nyaris tidak ada keceriaan di dalamnya. Saya mungkin tidak akan menganggap apa yang dihidangkan oleh film ini sebagai sesuatu yang paling mengerikan – masih ada film horor lain yang melampauinya – tapi jelas, saya menerima pengalaman yang tidak menyenangkan (dalam artian anggun untuk film horor), mengganggu, dan ‘watdefak’. Perasaan tidak nyaman pun saya rasakan sepanjang durasi. 
Alvarez dan konco-konco membawa segala kegilaan dari film orisinil ke tingkatan yang baru. Dengan menyingkirkan segala humor-humor aneh, maka mereka pun mengeksplor lebih jauh segala kesadisan yang ada. Mencoba untuk meningkatkannya sampai mencapai batas maksimal. Alhasil, film pun menjadi gila-gilaan dimana muncratan darah, siksaan, dan potongan-potongan badan diobral habis-habisan sedemikian rupa. Beberapa adegan, khususnya yang melibatkan pisau, pistol paku, serta cutter, sanggup membuat saya merasa ngilu dan enggan untuk menatap layar selama sekian detik. Untuk membuat segala kesadisan di sini, Alvarez pun tak bergantung kepada rekayasa CG melainkan lebih kepada teknik klasik dan prostetik sehingga ‘feel’ yang didapat pun lebih terasa. Tidak hanya itu, skoring pun sengaja dibentuk menghentak sehingga, sekalipun tak ada apapun, penonton sanggup terlonjak dari daerah duduk (atau malah mengumpat ibarat penonton di sebelah saya). Benar-benar film edan. 

Bagi sebagian pecinta film yang telah terbiasa dengan kebrutalan yang disajikan dalam ‘gory film’ mungkin menganggap apa yang disajikan di sini belum ada apa-apanya. Memang, akad yang diumbar dalam tagline pun sejatinya, bagi saya, agak sedikit berlebihan. Ini tidak semengerikan itu, walau tetap mencekam. Evil Dead ialah sebuah sajian yang mengganggu, memperlihatkan perasaan tidak nyaman, namun tetap menyenangkan untuk disimak. Bagaimanapun, ini tetap menghentak dan bukan hidangan yang akan disukai bagi mereka yang gampang mual atau bermimpi jelek kala melihat ‘air mancur’ darah dan potongan badan yang berceceran. Sam Raimi yang sekali ini hanya duduk di kursi produser nyaris sanggup dipastikan tersenyum puas menyaksikan kinerja apik dari anak didiknya ini. Sebuah film horor klasik yang disebut-sebut mustahil untuk dibentuk ulang, berhasil ditampilkan kembali dengan gaya berbeda yang memikat tanpa harus ‘mengkhianati’ pendahulunya.

Exceeds Expectations