September 28, 2020

Review : Exit (2019)


“Earthquakes, tsunami, those aren’t the only types of disaster. Our current situation itself is a disaster.”

Biasanya, saya paling benci mendengar bunyi insan ketika pemutaran film sedang berlangsung di bioskop. Apalagi jikalau film yang tengah ditonton membutuhkan konsentrasi, perenungan, atau perasaan dari penonton semoga bisa merasuk ke dalam dunia ciptaan sang sineas. Rasanya ingin sekali menyuwir-nyuwir lisan si banyaomong yang mengganggu itu! Tapi ketika menyaksikan sajian terbaru keluaran CJ Entertainment yang menjejakkan dirinya di genre komedi laga, Exit, saya justru merasa sangat lega begitu menyadari bahwa diri ini dikelilingi oleh penonton-penonton reaktif alih-alih pemalu. Sepanjang durasi mengalun, ada bermacam-macam celotehan meluncur dari orang-orang di sekeliling berbunyi: 1) “Mas, mas, mas, ati atiiii….”, 2) “Ya Allah Ya Rabbi, astaghfirullah…”, hingga 3) “astaga, astaga, astaga, aaaaa… aaaaa… sik, sik sik, jangan lompat, jangan lompat.” Dan berhubung film debut penyutradaraan dari Lee Sang-geun ini memang berada di jalur eskapisme yang membutuhkan partisipasi penonton, maka menonton bersama crowd yang hidup yaitu sebuah berkah karena sanggup menebalkan sisi excitement yang diusungnya. Terkadang saya terkekeh-kekeh mendengar celetukan penonton yang heboh itu, tapi lebih seringnya, tawa dipicu oleh rentetan kekonyolan yang disodorkan oleh Exit. Sebuah film yang berulang kali menempatkan saya dalam fase bergembira ria alasannya humornya dan kesulitan untuk menghembuskan nafas saking tegangnya.

Dalam Exit, Lee Sang-geun tidak mengenalkan kita dengan seorang protagonis yang memenuhi kriteria sebagai pendekar sempurna. Sebaliknya, sang protagonis berjulukan Yong-nam (Jo Jung-suk) yaitu seorang pria pengangguran yang kerap menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan dan bergantung penuh pada kedua orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain skill dalam bidang panjat tebing, nyaris tak ada yang bisa dibanggakan dari Yong-nam. Bahkan keponakannya saja aib mengakui ia sebagai paman! Yong-nam yang menyadari betul bahwa ia tak lebih dari sekadar pecundang, mencoba untuk memperlihatkan kesan baik bagi keluarga besar dengan menghelat program ulang tahun sang ibu di sebuah gedung glamor berjulukan Dream Garden. Disamping berusaha membahagiakan sang ibu, Yong-nam rupanya menyimpan jadwal lain yakni berjumpa kembali dengan pujaan hatinya semasa kuliah, Eui-joo (Im Yoon-ah), yang bekerja di sana. Untuk sesaat, program ulang tahun sekaligus reuni kecil-kecilan ini berjalan secara semestinya… hingga kemudian sebuah truk melepas gas beracun ke seantero Seoul. Demi menghindari paparan gas yang sanggup membunuh insan secara seketika ini, para tamu seruan pun menentukan untuk bertahan di dalam gedung dan menunggu diselamatkan oleh tim SAR. Tapi ketika gas tersebut mulai bergerak naik, kemampuan Yong-nam dalam panjat tebing seketika dibutuhkan untuk menyelamatkan mereka yang terperangkap di dalam gedung.


Bagi saya, Exit yaitu sebuah tontonan yang memperlihatkan definisi atas kata “mengasyikkan”. Betapa tidak, sedari menit pembuka, si pembuat film telah mengondisikan bagi penonton untuk tertambat ke dalam sajian olahannya dengan meluncurkan serentetan humor pengocok perut. Humor-humor tersebut menempatkan Yong-nam selaku abjad utama sebagai target tembak. Ini dimungkinkan karena Yong-nam tak kunjung menikah dan tak kunjung pula memperoleh pekerjaan mapan sekalipun telah lulus dari universitas bertahun-tahun silam. Seperti diutarakan eksklusif olehnya, pekerjaan ia sehari-hari hanyalah “tidur, makan, beol, tidur.” Alhasil, segenap canda tawa yang didapat penonton di paruh awal ini berkisar pada kenelangsaan Yong-nam sebagai pengangguran sekaligus jomlo. Terdengar amat klasik, memang. Tapi berhubung Jo Jung-suk diberkahi comic timing mengagumkan, saya tak keberatan. Terlebih, kultur yang merongrong kebahagiaan sang protagonis tak jauh berbeda dengan kultur di negeri ini. Saya pun tak kuasa menertawakan nasib Yong-nam yang sedikit banyak mengingatkan pada diri saya sendiri di satu fase. Pilu dan lucu di waktu bersamaan. Selepas babak permulaan yang cenderung konyol, Exit secara perlahan tapi niscaya mulai meningkatkan intensitasnya tatkala ia membelokkan kemudi ke ranah disaster film. Sebuah gas beracun menyebar ke seluruh kota, menciptakkan kericuhan, dan satu-satunya jalan keluar yaitu melewati atap. Saat gas tersebut mendasak bergerak ke atas, maka satu pertanyaan pun timbul: berapa usang waktu yang tersisa bagi manusia-manusia ini sebelum mereka karenanya terpapar gas?

Dari sinilah film bergerak ke arah yang tidak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Ketimbang sebatas “kita keluar dari gedung ini kemudian selamat!”, Lee Sang-geun menentukan untuk meningkatkan ketegangan dengan memberi pertaruhan lebih besar bagi para karakter. Mereka harus berkejar-kejaran dengan gas putih, mereka juga harus menerjangnya… di luar gedung. Ya, alih-alih berputar-putar di satu tempat, si pembuat film memaksa para protagonis untuk berkeliling ke banyak sekali lokasi demi menaklukkan “tantangan”. Mereka diminta untuk bergelantungan, mereka diminta untuk memanjat, dan mereka diminta untuk melompat. Kekaguman saya terhadap kapabilitas Lee Sang-geun mengemuka tatkala ia cakap menjaga intensitas di sepanjang durasi mengalun. Terhitung sedari gas beracun dilepas, penonton tak banyak mempunyai kesempatan untuk menghembuskan nafas lega. Ada kalanya saya mendengar teriakan disertai derai tawa dari penonton lain, ada kalanya teriakan tersebut diiringi kepanikan. Mereka panik jikalau duo Yong-nam dan Eui-joo urung mencapai tujuan akhir: karantina. Kesediaan penonton untuk bersimpati kemudian memberi pertolongan kepada karakter-karakter ini sanggup tercapai karena Lee Sang-geun bersedia memberi waktu untuk perkenalan dengan mode mengocok perut di babak pendahuluan. Dari sana, kita mengetahui siapa saja personil keluarga Yong-nam yang ternyata oh ternyata turut memperoleh kesempatan untuk berkontribusi pada penceritaan alih-alih dibiarkan sebagai tim hore belaka. Disamping itu, penonton juga mengetahui ibarat apa karakteristik dari Yong-nam yang sejatinya lumrah dijumpai di sekeliling kita. Mungkin itu kita, mungkin itu saudara kita, mungkin itu teman kita. Ya, Yong-nam yaitu insan biasa, begitu juga dengan Eui-joo yang terkadang diperlihatkan sedang menangis ketakutan.


Berbekal afeksi, penonton terasa ikut dilibatkan ke dalam film. Penonton diposisikan ibarat keluarga besar Yong-nam yang bersorak-sorai dan berdebar-debar di waktu bersamaan tatkala melihat Yong-nam berjuang mencari jalan keluar melalui siaran televisi. Chemistry anggun yang terbentuk diantara Jo Jung-suk dan Im Yoon-ah juga memudahkan bagi kita untuk menaruh kepedulian kepada nasib mereka. Apakah mereka nantinya jadian atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting kini adalah, mereka harus bisa membebaskan diri dari segala kekacauan ini. Dan ketika sebuah film sanggup menciptakan penontonnya menaruh kepedulian kepada karakter-karakternya, pada ketika itulah kita mengetahui bahwa film telah berhasil. Exit terperinci berhasil. Tidak saja berhasil memantik kepedulian, tetapi juga berhasil bikin terbahak-bahak, kemudian mata berkaca-kaca ketika film mengulik soal keluarga, dan jantungan! Astagaaa… saya lega sekali tatkala film karenanya berakhir. Bisa nafas lagi, saudara-saudaraaa…

Outstanding (4/5)