October 17, 2020

Review : Eye In The Sky


“Never tell a soldier that he does not know the cost of war.” 

Tatkala mengetahui bahwa Eye in the Sky bakal mengambil latar minimalis (sebagian besar di dalam ruangan!) dengan plot hanya berkisar pada pengambilan keputusan atas sebuah penyerangan, kesan yang mungkin pertama kali berkelibat di benak kebanyakan orang ialah “membosankan banget” terlebih kandungan politisnya cukup pekat. Setidaknya begitulah asumsi awal saya terhadap film isyarat Gavin Hood (Tsotsi, X-Men Origins: Wolverine) ini mengesampingkan rentetan daftar pemainnya yang menggiurkan. Tanpa memboyong ekspektasi tinggi ke dalam gedung bioskop, saya justru terkecoh alasannya ialah kenyataannya “membosankan” ialah kata terakhir yang bisa dipilih untuk mendeskripsikan film ini. Eye in the Sky sungguh piawai dalam membetot atensi penonton sedari adegan pembuka hingga credit title bergulung-gulung di layar melalui kemahirannya memberikan cerita, membuat nuansa yang tepat, dan parade akting-akting jempolan. Lebih dari itu, ini ialah sebuah tontonan dengan permainan emosi kelas wahid dan ketegangan yang diatur untuk senantiasa berada di level paling atas. 

Operasi penangkapan dua warga Inggris beserta satu warga Amerika Serikat yang tergabung dalam kelompok ekstrimis di Afrika bab Timur berjulukan Al-Shabaab oleh intelijen Inggris dan Kenya ialah sorotan utama Eye in the Sky. Kita diajak Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) mengikuti pelaksanaan operasi peringkusan teroris yang semula disangkakan akan berjalan mudah. Berbekal pemberian teknologi mutakhir, Powell bersama para pengambil keputusan yang terdiri atas Letnan Jenderal Frank Benson (Alan Rickman), Jaksa Agung George Matherson (Richard McCabe), Menteri Pertahanan Brian Woodale (Jeremy Northam), dan staf hubungan Benua Afrika Angela Northman (Monica Dolan) seharusnya hanya perlu mengintai melalui drone untuk mengonfirmasi identitas tiga teroris yang menjadi sasaran kemudian menyerahkan kiprah peringkusan ke pihak militer Kenya. Selesai sudah. Hingga keadaan tiba-tiba merunyam begitu para sasaran memasuki kawasan kekuasaan milisi Al-Shabaab dan muncul penampakan bom-bom yang dilekatkan pada rompi untuk misi bunuh diri yang seketika mengubah status operasi menjadi operasi pembunuhan. Dengan segala bentuk konsekuensi yang dihadapi, pengambilan keputusan “serang” atau “jangan serang” pun berjalan alot. 

Cakupan latar Eye in the Sky memang terbatas. Sepanjang durasi film kita hanya melihat ruang rapat para politisi, ruang pelaksanaan operasi pihak militer Inggris, hingga lingkungan sekitar markas rahasia Al Shabaab dalam rentang waktu tidak hingga satu hari. Namun keterbatasan ini sanggup dimanfaatkan secara maksimal oleh sang peracik skrip, Guy Hibbert, yang lantas disarikan Gavin Hood secara gemilang ke bahasa gambar. Tuturan kisahnya berdetak begitu cepat, begitu rapat, sehingga penonton dikondisikan memberi fokus lebih supaya tidak kelewatan sederet warta yang berulang kali berkelebat. Mempergunakan kata kunci ‘fokus’, jangan terburu-buru ciut nyali alasannya ialah baik Hood maupun Hibbert tidak menyesaki film dengan istilah-istilah politik dan militer yang serba rumit hanya demi mendapat label “film cerdas”, mereka justru menentukan pendekatan yang memungkinkan penonton memahami dengan sangat baik kondisi ‘di belakang layar’ dari sebuah operasi pembunuhan teroris. Pendeskripsian yang detil dari plot yang bergerak dinamis ditambah pula bangunan aksara yang ciamik memungkinkan Eye in the Sky tidak membutuhkan waktu usang untuk membuat penonton merasa terlibat. Penonton seperti turut berada di salah satu ruangan bersama para politisi atau pihak militer. 

Kita ialah saksi dari sebuah pengambilan keputusan yang krusial. Masing-masing aksara memiliki argumentasi sama kuat, sama masuk akalnya, dengan kekuatan dan kelemahan yang berimbang tanpa ada kebenaran sewenang-wenang sampai-sampai kita memberi anggukan baiklah (atau bahkan berpikir keras) kepada pendapat kedua kubu untuk opsi “serang” serta “jangan serang”. Pilihannya memang sangat dilematis alasannya ialah memiliki konsekuensi politik sangat besar dan sisi kemanusiaan para pengambil keputusan pun terusik begitu mendapati estimasi korban sipil yang menjulang tinggi apabila salah satu opsi dihukum secara gegabah. Cerdiknya, sebelum Eye in the Sky memasuki tahapan kritis, si pembuat film sempat pula mengajak kita berkenalan dengan seorang gadis kecil penjual roti yang di permulaan masih kabur relevansinya dengan plot utama. Begitu keadaan genting mulai membayangi film, kita jadinya menyadari mengapa gadis berjulukan Alia (Aisha Takow) ini mendapat sorotan lebih. Sosok Alia dimanfaatkan untuk memperkeruh suasana pengambilan keputusan. Penonton yang kedarung jatuh hati atau bahkan iba kepada Alia, tentu akan sangat bisa terhubung dengan kebimbangan para aksara yang dimintai pendapat untuk operasi pembunuhan teroris ini. 

Menyaksikan perdebatan yang hasil jadinya terus menerus mengalami tarik ulur sepanjang durasi membawa kita melalui beberapa macam fase; tertawa lepas, teriak-teriak gemas, menitikkan air mata, hingga bertepuk tangan penuh kelegaan. Tanpa harus mengobral keberisikan medan peperangan, malah tak jarang senyap, film tetap bisa memunculkan teror sekaligus genjotan jago pada adrenalin. Kapan coba kau pernah mencicipi gregetan setengah mati dengan keringat mengucur deras menyaksikan seseorang berjualan roti? Sensasi yang rasa-rasanya gres akan kau peroleh untuk pertama kalinya di Eye in the Sky. Emosi penonton memang dimainkan secara paripurna oleh Eye in the Sky berkat kehebatan skrip dan pengarahan yang memperoleh tunjangan pula dari departemen akting – setiap pemain memberi donasi sangat baik, khususnya Helen Mirren dan Alan Rickman yang memberi salam perpisahan membanggakan – beserta penyuntingan gambar. Jika ada padanan kata paling sempurna untuk menggambarkan menyerupai apa Eye in the Sky, maka itu ialah menegangkan, emosional, dan brilian. Ya, brilian. Kita bahkan bisa mengetahui bahwa ini merupakan film yang brilian hanya dari melihat reaksi penontonnya yang tertawa, teriak, menyeka air mata, hingga tepuk tangan gotong royong sepanjang film persis menyerupai sejumlah fase yang saya jabarkan di awal paragraf ini. Bravo!

Outstanding (4,5/5)