June 28, 2020

Review : Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald


“Do you know why I admire you, Newt? You do not seek power. You simply ask, “Is a thing… right?” 

Bagi Potterheads, keputusan Warner Bros. dalam memfilmkan buku Fantastic Beasts and Where to Find Them terperinci patut dirayakan dengan penuh sukacita. Betapa tidak, mereka mengekspansi Wizarding World – sebutan untuk semesta film yang bersentuhan dengan franchise Harry Potter – sehingga para penggemar berkesempatan untuk melongok lebih jauh world building rekaan J.K. Rowling di luar tembok Hogwarts. Kita disuguhi narasi seputar kehidupan penyihir di masa lampau secara umum, sementara secara spesifik kita bisa melihat kehidupan penyihir remaja yang telah memasuki dunia kerja (atau dalam hal ini, Kementrian Sihir). Saya akui, ini terdengar menggiurkan. Jilid pembuka Fantastic Beasts pun mengindikasikan bahwa franchise ini berada di jalur yang sempurna dengan perkenalannya terhadap dunia pra-Harry Potter yang tetap menguarkan nuansa magis. Membangkitkan segala kenangan indah terhadap tujuh seri petualangan si bocah penyihir. Tapi keputusan para petinggi untuk mengkreasi lima seri, dari rencana awal hanya tiga, mau tidak mau memunculkan kekhawatiran bahwa film akan mempunyai guliran pengisahan berlarut-larut. Pengalaman kurang menyenangkan dari trilogi The Hobbit masih terpatri besar lengan berkuasa di ingatan dan sosok Newt Scamander (Eddie Redmayne) sebagai abjad utama pun tak semenggigit Harry – bagi saya ia agak lempeng. Itulah kenapa masuk akal kalau ada yang kemudian bertanya, “apa konflik besar yang bisa melingkungi Newt sehingga pihak studio dan Bu Rowling merasa layak untuk menceritakannya ke dalam lima instalmen?” 

Dalam jilid kedua Fantastic Beasts yang mengaplikasikan subjudul The Crimes of Grindelwald, J.K. Rowling yang kembali ditugasi menulis naskah – David Yates pun kembali sebagai sutradara (duh!) – menghadirkan setumpuk konflik sebagai upayanya untuk menjawab pertanyaan penuh keraguan tersebut. Dia seolah berkata, “ada banyak yang bisa saya ceritakan untuk kalian.” Berlatar tiga bulan selepas adegan pamungkas film pertama yang menyisakan kekacauan besar di New York, Newt Scamander menerima larangan keras untuk bepergian ke luar negeri. Mengingat ia yaitu seorang magizoologist yang salah satu tugasnya yaitu meneliti fauna absurd di banyak sekali penjuru dunia, larangan ini terperinci menyulitkan pekerjaannya. Dia pun mengajukan banding kepada Kementrian Sihir yang hanya bersedia memenuhi permintaannya apabila Newt bersedia bekerja untuk mereka mendampingi sang kakak, Theseus (Callum Turner), dalam memburu Credence Barebone (Ezra Miller) yang ternyata masih hidup. Newt menampik proposal tersebut – yang secara otomatis menggugurkan permintaannya – tapi ia tak bisa mengelak dari proposal Albus Dumbledore (Jude Law) yang turut menitahkannya untuk menemukan Credence di Paris. Salah satu alasannya karena ia berharap bisa berekonsiliasi dengan wanita yang ditaksirnya, Tina Goldstein (Katherine Waterston), yang ternyata sedang berada di Paris guna menjalani misi yang sama. Ditemani oleh seorang No-Maj/muggle yang sekarang menjadi sobat baiknya, Jacob Kowalski (Dan Fogler), Newt pun mesti berpacu dengan waktu dalam perburuan ini karena seorang penyihir fatwa gelap, Gellert Grindelwald (Johnny Depp), tengah menyiapkan rencana besar nan keji untuk Credence beserta para penyihir ‘tersesat’ lainnya di waktu bersamaan.

Jika instalmen pendahulu bisa ditonton oleh penonton awam tanpa dibekali pengetahuan komprehensif soal dunia ciptaannya Bu Rowling, The Crimes of Grindelwald terasa lebih eksklusif. Jangankan mereka yang belum pernah mengunjungi Wizarding World, mereka yang sudah ‘lulus’ dari Hogwarts dengan nilai setara Ron atau Harry pun akan cukup dibentuk pusing oleh guliran pengisahan yang ditawarkan. Film seolah menuntutmu untuk mempunyai daya ingat setajam Hermione karena serentetan kejadian dan abjad yang bersliweran di sini mempunyai keterkaitan dekat dengan jilid-jilid lain (termasuk versi novel). Itulah mengapa, The Crimes of Grindelwald bukanlah sebuah film yang bisa berdiri sendiri karena ia difungsikan sebagai penjembatan antara seri pertama dengan seri-seri berikutnya. Kamu perlu menonton setidaknya Fantastic Beasts and Where to Find Them guna mengetahui akar permasalahan, kau pun perlu menonton seri selanjutnya untuk memperoleh balasan atas pertanyaan-pertanyaan menggantung di sini. Apakah ini berarti membuatnya terlihat sebagai film yang buruk? Bagi saya sih, tidak. Kesalahan terbesar jilid ini bukan disebabkan oleh narasinya yang menganakemaskan Potterheads sejati, melainkan karena Bu Rowling memperlakukan naskah film selaiknya naskah novel dengan mempergunakan banyak sekali subplot guna menggulirkan roda penceritaan. Ini mungkin masih akan berhasil di atas kertas, tapi ketika divisualisasikan ke dalam bahasa gambar… tunggu dulu. Sejujurnya, saya mengalami kebingungan dan kebosanan dalam menonton The Crimes of Grindelwald karena ada banyak sekali cabang dongeng untuk diikuti – belum lagi lajunya pun lambat di pertengahan film. 

Bukan sebatas perburuan Credence dan rencana keji Grindelwald, film turut menyodorkan beberapa subplot lain mencakup upaya Credence dalam menguak masa lalunya yang mempertemukan ia dengan Nagini (Claudia Kim), pertengkaran Jacob dengan Queenie Goldstein (Alison Sudol) dipicu oleh keraguan Jacob untuk menikahinya karena ketakutannya dalam melanggar aturan “menikah beda kaum”, hingga kisah cinta segirumit antara Newt, Tina, serta Leta Lestrange (Zoe Kravitz) yang memunculkan obrolan khas opera sabun alias sinetron menyerupai “dengerin dulu penjelasanku” ketika si cewek pujaan hati ngambek-ngambek manjya. Meriah sekali, ya? Saking meriahnya, film hingga terlihat kebingungan dalam meletakkan fokus sehingga satu pertanyaan pun tak terelakkan: apa sih sebetulnya yang ingin diceritakan di sini? Meski memakai komplemen Fantastic Beasts, kenyataannya fauna absurd hanya muncul sebagai penghibur ketika film membutuhkan agresi atau komedi. Meski menempatkan Newt Scamander sebagai abjad utama, ia nyaris tak melaksanakan suatu tindakan yang signifikan di sini (bahkan jatah tampilnya pun mangalami pengurangan cukup banyak). Meski nama Grindelwald muncul pada judul, ia pun tak banyak diberi kesempatan untuk menjabarkan motivasi berikut pemikiran-pemikirannya secara terperinci – apalagi memperlihatkan kejahatan menyerupai diutarakan oleh judul. Kita hanya mengetahuinya dari obrolan yang tak cukup besar lengan berkuasa dalam memperlihatkan bahwa ia yaitu sosok penyihir bengis yang semestinya ditakuti. Tak ada kompleksitas dalam karakterisasinya, Grindelwald tak ubahnya penjahat satu dimensi di banyak film yang tujuan utamanya semata-mata “ingin menguasai dunia”. 

Yang kemudian membantu menyelamatkan The Crimes of Grindelwald dari keterpurukan akhir naskah yang Ya-Tuhan-gini-amat-ceritanya (dan saya masih belum membahas soal twist absurd yang memperlihatkan obsesi terselubung Bu Rowling terhadap soap opera melibatkan dongeng “saudara yang tertukar”) yaitu performa pemain. Ditengah keterbatas penulisan karakter, para pelakon masih sanggup memperlihatkan akting yang lumayan khususnya Eddie Redmayne dengan segala kecanggungannya, Johnny Depp (akhirnya!) sanggup melepaskan bayang-bayang Jack Sparrow dalam kiprah antagonis cukup menarik, Zoe Kravitz memperlihatkan guratan penyesalan dibalik air muka muramnya, beserta Dan Fogler yang memberi banyak asupan tawa dalam setiap celetukannya sekalipun karakternya tak berkontribusi banyak pada penceritaan kecuali dipergunakan sebagai comic relief. Yang juga layak diapresiasi yaitu tampilan visualnya yang masih sanggup menguarkan nuansa magis lebih-lebih ketika musik tema Harry Potter turut berkumandang mengiringi beberapa adegan. Secara personal, saya menyukai penggambaran adegan pembukanya yang mempunyai excitement tinggi, kunjungan Newt ke “ruang kerjanya”, kunjungan ke Kementrian Sihir, dan tentu saja ketika para abjad mengunjungi Hogwarts untuk menemui Dumbledore yang menciptakan saya bernostalgia. Visual yang ditonjolkan dalam rangkaian adegan ini memperlihatkan setitik alasan sederhana mengapa franchise dunia sihir ini bisa banyak dicintai dan dikagumi oleh banyak orang. Visual yang mewarnai The Crimes of Grindelwald ini pula yang menciptakan saya bisa bertahan menyaksikan sinetron versi Bu Rowling. Saat film berakhir, saya hanya berdoa biar Bu Rowling segera kembali ke jalan yang benar sehingga seri-seri Fantastic Beasts berikutnya bisa menunjukan bahwa seri ini memang layak diceritakan dalam lima instalmen. Jika seri berikutnya tidak ada bedanya dengan The Crimes of Grindelwald, mungkin sudah saatnya saya memutuskan untuk murtad dari Potterhead.

Acceptable (2,5/5)