October 22, 2020

Review : Fantastic Four


“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Begini. Di atas kertas, proyek reboot dari Fantastic Four memang terdengar menjanjikan. Dengan versi satu dasawarsa kemudian biasa-biasa saja, maka ya bukankah kecil kemungkinan film pembaharuan untuk superhero Marvel kepunyaan Fox ini akan lebih jelek mengingat sekali ini diperkuat oleh sutradara dengan jejak rekam mengesankan (hey, Josh Trank memberi kita film found footage keren Chronicle!) dan jajaran pemainnya yang boleh dibilang pemain drama aktris muda berbakat masa kini? Ya, seakan-akan tidak mungkin memperoleh pengalaman sinematik penuh murung lara mirip aku alami awal tahun ini gara-gara Seventh Son dan Dragon Blade. Sebagai seseorang yang seringkali berhasil menemukan titik kesenangan dari suatu film – meski jelek sekalipun – maka diwanti-wanti oleh beberapa mitra tidaklah meresahkanku toh Fantastic Four-nya Chris Evans masih membuatku bersenang-senang. Segala perilaku optimis yang diboyong ke bioskop tatkala menyantap film garapan Bang Trank seketika meluntur selayaknya eye shadow terkena tetesan air begitu mendapati Fantastic Four yang tengah diputar ini bukanlah superhero movie melainkan kisah pengantar tidur! Damn, damn. 

Semenjak usia masih sangat belia, Reed Richards (Miles Teller) telah terobsesi untuk membuat teknologi yang melampaui zamannya. Salah satu eksperimen terbarunya, sekaligus paling ditekuninya, ialah alat teleportasi. Sekalipun orang-orang terdekat menganggap acara Reed ini sebagai kegilaan tanpa hasil, bersama dengan sang sahabat, Ben Grimm (Jamie Bell), keduanya tak pernah mengalah untuk terus berbagi inovasi ini. Setelah mengalami serangkaian penolakan, alat teleportasi ciptaan Reed hasilnya memperoleh ratifikasi dari ilmuwan berjulukan Dr. Franklin Storm (Reg E. Cathey) yang tengah meneliti keberadaan planet lain mirip bumi. Bersama dengan Sue Storm (Kate Mara), Johnny Storm (Michael B. Jordan), dan Victor Domashev (Toby Kebbell), Reed direkrut oleh Dr. Franklin menjadi bab tim ekspedisi guna memeriksa dunia alternatif tersebut. Walau memperoleh saingan keras dari pemegang otoritas untuk melanjutkan misi alasannya dianggap berbahaya, Reed dan kawan-kawan termasuk Ben nekat menjelajahi planet misterius tersebut. Benar saja, sebuah kesalahan kecil yang mereka perbuat di planet tersebut lantas memperlihatkan imbas sangat besar bagi mereka sendiri dan terlebih lagi, dunia. 
Apa yang pertama kali melintas di benakmu ketika mendengar “sebuah film superhero dari Marvel”? Rasa-rasanya ada semacam kesepakatan tidak tertulis diantara penggemar film maupun komik untuk memberi satu tanggapan serupa: fun. Marvel Studios memastikan setiap filmnya (entah itu dari huruf high profile atau low profile sekalipun) memberi tingkat kepuasan sama pada penontonnya. Tapi kemudian kita ingat, hak cipta untuk pembuatan film Fantastic Four tidaklah dipegang oleh mereka melainkan Fox yang notabene hanya menuai kesuksesan melalui rangkaian seri X-Men jadi pengharapan tersebut susah untuk ditanamkan di sini. Dan memang, bila kau melihat sendiri apa yang telah diperbuat oleh Josh Trank kepada Fantastic Four, ada baiknya kita tidak perlu memilih ekspektasi apapun terhadap produk Marvel keluaran Fox. Betapa tidak, Fantastic Four memperlihatkan salah satu kekecewaan besar pada kita yang mendamba memperoleh penghiburan dari tontonan di layar perak. Alih-alih membuat hati cerah ceria usai menyimaknya, film malah justru menggiring datangnya mendung gelap untuk mengisi ruang hati. 
Ya, sulit untuk bersenang-senang selama durasi Fantastic Four mengalun alasannya film ini sungguh membosankan. Paruh awal yang dipergunakan sepenuhnya oleh Trank untuk perkenalan kepada karakter-karakter inti bahwasanya cukup yummy buat dinikmati… pada mulanya. Walau humornya lebih sering jayus ketimbang manjur (kecuali ketika seorang bocah mengatai Reed, “you’re a dick!”, yang mirip menjumput acuan ke interview Miles Teller di majalah Esquire. Ha!), ada sedikit ketertarikan untuk mengetahui bagaimana reaksi empat sekawan ini menyikapi perubahan dalam diri usai badan mereka berevolusi alasannya paparan radiasi akan dipaparkan oleh sang sutradara hingga ketertarikan itu perlahan tapi niscaya mulai menguap karena momen perkenalan ini berlangsung kelewat bertele-tele, lambat dengan obrolan jauh dari kata menarik yang dipenuhi istilah ilmiah sulit dipahami. Rasanya ingin sekali berteriak, “woi, cepetan woi. Udah capek dengerin kalian ngoceh mulu!”. Dan begitu ekspedisi resmi dimulai, kita mungkin berpikir penderitaan ini telah berakhir dengan grafik ketegangan memperlihatkan sedikit kenaikan, tapi Trank rupanya hanya menabur impian palsu kepada penonton. Betapa teganya! 

Usai para jagoan kita ini menginjakkan kaki kembali di bumi, kehampaan yang menaungi menit-menit menjelang peluncuran misi menampakkan wujudnya lagi… dan kali ini semakin menjadi-jadi. Gundah gulana para huruf hanya digali permukaannya saja tanpa pernah sekalipun memunculkan emosi, ocehan apalah-apalah dari huruf pendukung yang masih saja berlarut-larut, sementara di sisa durasi kurang dari 40 menit pertarungan yang seharusnya menghiasi superhero movie pembiasaan komik Marvel belum juga ada gejala kemunculan. Setiap personil dalam Fantastic Four pun tidak memberi chemistry meyakinkan yang membuat kita percaya bahwa mereka satu tim dan seolah belum cukup parah, penonton juga masih belum menerima citra wacana villain yang hendak dihadapi hingga detik-detik terakhir. Lha piye to iki? Begitu sang tokoh jahat hasilnya memperoleh jatah tampil, waktunya pun dibatasi dan kemampuannya tak seberapa. Intensitas yang seharusnya memuncak di final showdown enggan untuk hadir mengingat Dr. Doom, sang villain di film ini, yang katanya penjahat super (salah satu villain populer dari Fantastic Four!) sanggup dibentuk keok hanya dalam tempo waktu sepersekian menit! Ciyus! 
Menunggu dengan kepala cekot-cekot selama puluhan menit hanya untuk memperoleh pertarungan puncak yang bisa saja terlewatkan dalam satu kedipan, bagaimana nggak pusing pala Barbie, tuh? Siapapun yang merogoh kocek dalam-dalam untuk tiket bioskop Fantastic Four demi menyaksikan pertempuran seru superhero hampir sanggup dipastikan akan mendengus kesal sesaat lampu bioskop dinyalakan alasannya ya, kau tidak akan mendapatkannya. Ugh, dwilogi Fantastic Four yang mengedepankan Ioan Gruffud, Jessica Alba, Chris Evans, dan Michael Chiklis saja jauh lebih mengasyikkan buat disantap ketimbang gugusan Miles Teller, Kate Mara, Michael B. Jordan, dan Jamie Bell ini! Setidaknya, versi terdahulu masih memiliki beberapa momen untuk bersuka cita. Lha kalau Fantastic Four terbaru ini sih cocoknya hanya dikonsumsi kau yang mengalami permasalahan dengan insomnia. Percaya deh, sesudah menyaksikan film ini di layar lebar, problematikamu seketika terpecahkan.

Troll