October 21, 2020

Review : Fast & Furious 8


“One thing I can guarantee… no one’s ready for this.” 

Siapa pernah menduga franchise The Fast and the Furious yang dimulai sebagai film balap kendaraan beroda empat liar pada 16 tahun silam, kemudian disisipi bermacam-macam elemen dari subgenre laga lain guna ‘bertahan hidup’ hingga telah ditinggal pergi oleh salah satu pelakon utamanya, Paul Walker, yang tewas ketika seri ketujuh tengah digarap, bakal menapaki jilid kedelapan? Satu dasawarsa kemudian tentu tak sedikitpun terbayang, namun sejak Fast Five yang menjadi titik gres dimulainya kehidupan dari franchise ini baik dari respon penonton – raihan dollar kian menggurita – maupun resepsi kritikus, kita sudah bisa mencium gelagat Universal Pictures bakal memperpanjang usia cerita petualangan Dominic Toretto (Vin Diesel) beserta ‘keluarga’ tercintanya. Mengingat sudah banyak kegilaan kita simak: menyeret brankas raksasa memakai kendaraan beroda empat di jalanan, berkejar-kejaran dengan pesawat siap tinggal landas, hingga kendaraan beroda empat yang melayang menembus dua gedung pencakar langit, tanya “apa lagi yang akan mereka lakukan kali ini?” pada Fast & Furious 8 (dikenal pula dengan tajuk The Fate of the Furious) pun sulit terelakkan – maklum, standar kegilaan laganya terus meninggi dari seri ke seri. Namun ketika kita menduga franchise ini akan mulai kehabisan materi bakarnya, Fast & Furious 8 justru tetap melaju kencang dan menggeber kegilaan laga yang sanggup menandingi, atau malah bisa dikata melampaui, jilid-jilid pendahulunya. 

Salah satu trik yang juga dipergunakan oleh F. Gary Gray (The Italian Job, Straight Outta Compton) biar atensi penonton tertambat pada Fast & Furious 8 disamping menghadirkan tata agresi mencengangkan yaitu membelokkan guliran cerita sedari mula: Dom yang semula berada di pihak protagonis, mendadak berpindah ke sisi gelap. Dia membelot dari kelompoknya, meninggalkan Letty (Michelle Rodriguez) yang sekarang telah dipersuntingnya dalam kegamangan, dan bergabung bersama teroris siber kelas kakap berjulukan Cipher (Charlize Theron). Tentu kita tidak mendapati pembagian terstruktur mengenai motivasi dibalik keputusan Dom merapat ke Cipher di menit-menit awal demi memunculkan daya pikat terhadap guliran pengisahan. Petunjuknya sebatas Dom telah melihat sebuah foto di layar ponsel genggam sang antagonis yang seketika merobohkan tembok pertahanannya. Penonton paham, bila Dom lantas bersedia mendapatkan usulan berbahaya dari Cipher untuk membantunya mencuri EMP – electromagnetic pulse – yang konon sanggup melumpuhkan gelombang elektromagnetik dan isyarat peluncuran nuklir kepunyaan Rusia, terperinci siapapun (atau apapun) yang terpampang di foto tersebut amat penting baginya. Sekelumit sisi misteri ini nyatanya terhitung ampuh mengundang rasa ingin tau penonton sehingga bersedia untuk mengikuti petualangan ala biro diam-diam yang melibatkan Dom beserta konco-konco. 

Ya, Fast & Furious 8 yang disulap oleh Gray menjadi spy movie selayaknya rangkaian seri James Bond maupun Mission: Impossible, mempunyai modal cukup berlimpah untuk menempatkannya sebagai salah satu seri terbaik dari franchise sekaligus mesin pengeruk pundi-pundi dollar. Ekspektasi bakal peroleh spektakel fun-tastic yang ditanamkan sebelum melangkahkan kaki memasuki gedung bioskop, sukses dipenuhi Fast & Furious 8. Ini menunjukkan bahwa seri yang tergabung dalam franchise The Fast and the Furious selalu mempunyai cara untuk mengkreasi gelaran laga over-the-top yang secara intensitas dan kreatifitas boleh dibilang lebih baik dibandingkan seri sebelumnya. Gray pun tak menyia-nyiakan kesempatan unjuk kebolehan tangani film laga yang terbukti dengan disodorkannya sejumlah momen yang rasa-rasanya bakal menciptakan penonton berdecak kagum hingga rahang terjatuh. Adegan pembuka Fast & Furious 8 berupa perlombaan balap kendaraan beroda empat ilegal berlatar pemandangan eksotis kota bau tanah di Kuba yang memberi penghormatan untuk jilid-jilid pertama franchise hanyalah pemanasan, begitu pula ketika bola penghancur dilibatkan guna menghantam habis mobil-mobil lawan. Hidangan utama dari film gres disajikan sedari kekacauan besar di penjara akhir sistem keamanan yang mengalami malfungsi. Selepasnya, Fast & Furious 8 yang mula-mula dihantarkan memakai kecepatan sedang seketika tancap gas dan daya cengkram pun terus dieskalasi hingga film tutup durasi.

Pada titik ini, penonton mendapati setidaknya dua momen laga gila yang patut dikenang. Pertama, serangan ‘zombie’ di New York City kala siang bolong, dan kedua, kejar-kejaran bermacam-macam jenis kendaraan dari kendaraan beroda empat Lamborghini glamor berwarna oranye mencolok, tank, hingga kapal selam (!) di atas kepingan es. Mengingat masing-masing momen dihukum dalam rentang durasi cukup panjang serta berlangsung ketika sinar matahari masih bersinar terang benderang yang memungkinkan detail aksinya tertangkap terperinci oleh mata, level keasyikkannya terperinci tinggi. Maka dari itu, ada baiknya urusan belakang (baca: toilet) telah benar-benar dituntaskan sebelum film memulai langkahnya atau paling lambat sebelum baku hantam di penjara terjadi. Percayalah, kau tidak akan rela melewatkan tiga gelaran laga dengan kata kunci penjara, zombie, dan es, yang notabene merupakan bab terbaik yang dipunyai oleh Fast & Furious 8. Bahkan saya bersedia untuk kembali membayar tiket nonton hanya demi menyaksikan ketiga kegilaan laga tersebut, plus bromance yang terjalin antara Dwayne Johnson dan Jason Statham. Betul, selain rentetan “bang bang boom!”-nya yang mengasyikkan dan plot yang sekalipun klise khas spy film sekaligus cenderung berbau opera sabun namun tak bisa disangkal mempunyai magnet, Fast & Furious 8 unggul di departemen lakonan yang membuatnya bisa bangkit sejajar dengan film-film terbaik di genrenya. 

Dengan seabreknya pelakon yang memperkuat jajaran pemain, Fast & Furious 8 memang serasa penuh sesak. Namun si pembuat film yang telah berpengalaman menangani ansambel pemain, tahu betul bagaimana caranya membagi porsi tampil biar berimbang dan beberapa huruf kunci pun sanggup bersinar. Mengingat perginya Paul Walker meninggalkan lubang yang menganga cukup lebar, beberapa pembiasaan pun dilakukan sehingga keluarga Dom tetap berasa utuh. Salah satunya, menggeret Jason Statham untuk berpindah haluan kemudian menyandingkannya dengan Dwayne Johnson. Twist-nya yaitu huruf mereka dikondisikan saling menaruh benci yang lantas menuntut keduanya tubruk jotos serta kemampuan berkelakar. Ini menciptakan bromance diantara mereka (atau bisa dikata, love-hate relationship) terasa menarik buat ditengok, ngangenin, dan memberi kesejukan bagi huruf masing-masing yang mulai berasa hirau taacuh di jilid ketujuh. Penyegaran bisa pula diraba pada sosok Dom yang memungkinkan Vin Diesel untuk menunjukkan sisi tangguh dan ringkih dari karakternya secara bersamaan, serta huruf villain yang untuk pertama kalinya dalam sejarah franchise The Fast and the Furious tampak amat mengancam. Berkat performa efektif Charlize Theron, Cipher mempendarkan aura menggoda, cerdas, sekaligus berbahaya. Berkat performa efektif Charlize Theron yang kemudian disokong pula barisan pemain lain yang membentuk chemistry lekat, level keasyikkan Fast & Furious 8 yang sudah tinggi karena agresi dan intriknya pun kian meninggi. Fun-tastic sempurna disematkan bagi jilid ini!

Trivia : Aktris senior penggenggam Oscar, Helen Mirren, ikut memeriahkan jilid ini. Apakah kau tahu, berperan sebagai siapakah dia?

Note : Tidak ada post-credits scene dan format 3D film ini tidak memberi banyak dampak.

Outstanding (4/5)