October 30, 2020

Review : Finding Srimulat

“Srimulat itu bukan gombal. Srimulat itu budaya.” – Adika Fajar

Saya bukanlah seseorang yang serba tahu atau ‘expert’ apabila berkenaan dengan grup lawak legendaris berjulukan Srimulat. Ilmu per-Srimulat-an saya pun masih tergolong teramat sangat ‘cethek’. Saya hanyalah seorang anak muda di usia 20-an yang beruntung sempat berkenalan dengan fenomena budaya lintas zaman ini berkat kegemaran orang renta menyaksikan tingkah polah Mamiek Prakoso dkk setiap Malam Jumat di salah satu stasiun televisi swasta – sebut saja, Indosiar. Ketika grup ini tetapkan untuk vakum dari panggung hiburan, saya benar-benar merasa kehilangan. Bagaimanapun, mereka ialah salah satu idola saya kala masih belia. Beruntung… Tuhan menurunkan seorang insan berjulukan Charles Gozali ke bumi. Srimulat yang telah beristirahat dengan hening selama bertahun-tahun, dibangkitkan kembali untuk ‘reunian’ dalam sebuah film layar lebar berjudul Finding Srimulat. Setelah melewati ‘cobaan’ melalui Demi Dewi dan Rasa yang mungkin hanya diingat oleh segelintir orang saja, Charles Gozali bersiap untuk naik kasta melalui film panjang ketiganya ini. Dan yang lebih menggembirakan lagi, Srimulat sudah siap untuk kembali mentas! 

Finding Srimulat berkisah mengenai pasangan muda Adika Fajar (Reza Rahadian) dan Astrid Lyanna (Rianti Cartwright) yang dihantam angin ribut finansial di dikala mereka tengah menantikan kehadiran buah hati yang pertama. Dalam kekalutan, Adika tanpa sengaja berjumpa dengan Kadir (Kadir Mubarak) yang membuka perjuangan warung makan. Kenangan masa kecilnya yang melibatkan Srimulat pun dengan cepat menyeruak serta memberikannya serangkaian inspirasi untuk direalisasikan. Demi menyelamatkan ekonomi keluarga, serta mewujudkan mimpi-mimpi yang terpendam, Adika pun nekat mencetuskan inspirasi mengembalikan Srimulat ke panggung hiburan meski konsekuensi yang kudu dihadapi ialah tabungan yang kian menipis karena tak ada investor yang bersedia mendanai dan berdusta kepada sang istri. Ditemani Kadir, Adika pun mencoba untuk meyakinkan anggota-anggota Srimulat yang lain ibarat Tessy (Kabul Basuki), Mamiek (Mamiek Prakosa), Gogon (Gogon Margono), dan Bu Djudjuk (Djudjuk Djuwariah), untuk kembali bersatu alasannya ialah pentas Srimulat akan segera digelar dalam waktu dekat. 
Apabila Anda ialah termasuk ke dalam generasi yang tumbuh bersama dengan Srimulat, maka tidak sukar untuk jatuh cinta kepada Finding Srimulat. Suguhan dari Charles Gozali ini sungguh memuaskan. Menontonnya kembali untuk kedua, ketiga, atau keempat kalinya akan dengan bahagia hati ‘dijabani’. Sejak menit-menit pertama, film telah berhasil mengikat saya untuk tetap duduk manis serta menahan tatapan mata semoga tetap fokus ke layar. Tidak ada kesempatan mengutak-atik ponsel, mengobrol bersama mitra (yang tentunya haram dilakukan di dalam bioskop!) atau melempar pandangan kesana kemari karena nyaris mati kebosanan. Yang terjadi, saya justru berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengontrol volume ledakan tawa semoga tak mengganggu penonton lain dan beberapa kali menyeka air mata yang tumpah tak tertahan. Emosi benar-benar berhasil dilibatkan. Sejumlah kenangan-kenangan indah bersama Srimulat – serta tentunya almarhumah Ibu yang menggemari grup ini – pun kembali hidup. Charles Gozali tidak main-main dengan proyek ambisiusnya ini. Menyaksikan Finding Srimulat mengingatkan saya kembali alasan utama mengapa saya dulu begitu mengidolakan Srimulat. 
Ya, ini bisa dikatakan sebagai film yang riil menggambarkan Srimulat apa adanya. Apa yang dihidangkan di layar tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang dihadapi oleh para anggota Srimulat sesudah mereka tidak lagi berada dalam satu panggung. Yang paling mengiris hati ialah Gogon. Menghabiskan hari-harinya dengan membuat lukisan yang tidak terperinci laris dijual atau tidak, menghadapi omelan-omelan sang istri yang digambarkan sebagai sosok yang ‘drama queen’, serta menemukan fakta menyakitkan bahwa penghasilan pengemis dalam sehari jauh lebih tinggi dari miliknya. Akan tetapi…. ketimbang menggambarkan dalam suasana yang dramatis nan melankolis yang berlebihan, dongeng pilu ini justru dihadirkan secara ringan dan penuh canda tawa dengan guyonan khas Srimulat. Seolah ingin memberikan pesan, ketimbang menghadapi segala permasalahan hidup dengan bingung gulana dan deraian air mata, bukankah lebih baik dengan senyuman dan tawa? Toh, air mata pun tidak akan merampungkan segalanya. Siapa tahu justru tawa ialah obat paling mujarab dalam merampungkan persoalan. 
Meski konflik yang dihadapi oleh Adika dan Astrid tergolong pelik, bagaimanapun juga Srimulat tetaplah fokus utama film ini. Penonton pun tidak diajak berlama-lama untuk menengok bagaimana rupa kehidupan keenam anggota Srimulat – termasuk Nunung yang menjadi cameo – paska vakum dengan segala kerumitan yang dihadapi alasannya ialah Srimulat segera diboyong kembali ke atas panggung. Sebagai permulaan, untuk membangun ‘hype’, panggung yang dimaksud ialah Stasiun Balapan. Setidaknya ada tiga adegan besar yang berkaitan dengan Pentas Srimulat dalam film ini. Ketika adegan-adegan lain patuh kepada skrip, maka khusus untuk pentas, para pemain dibebaskan untuk berimprovisasi. Banyolan-banyolan yang sangat khas Srimulat pun bermunculan. Yang paling saya kenang, kehadiran drakula (dimainkan oleh Cak Tohir) yang tetap memberi pengaruh ‘bergidik ngeri’ kepada saya. Saya dulu memang jengkel-jengkel bahagia setiap kali Drakula (saat itu diperankan oleh almarhum Paul) mulai menampakkan diri – terlebih kala itu tayang Malam Jumat!. Sekalipun durasi ketiga pentas ini, apabila digabungkan menjadi satu, masih kurang panjang, namun setidaknya berhasil menjadi ‘tombo kangen’ terhadap grup yang satu ini dan benar-benar berharap segalanya tidak hanya dihidupkan dalam film. 
Yang menjadi pertanyaan, apakah generasi 2000’an yang tidak terlalu familiar dengan Srimulat bisa menikmati Finding Srimulat? Saya sangat yakin, niscaya bisa. Ini bukanlah sebuah film yang segmentasinya hanya ditujukan kepada para fans semata. Malahan, Charles Gozali terlihat mencoba untuk mengenalkan sekaligus merangkul fans-fans anyar. Reza Rahadian, Rianti Cartwright, dan Nadila Ernesta dimanfaatkan untuk menjembatani ‘generasi lawas’ dengan ‘generasi anyar’. Pun demikian, meski Srimulat ialah bintang bekerjsama dari film ini – terutama Gogon yang menjadi ‘scene stealer’ – namun tidak berarti ketiga pemain ini hanya menjadi tempelan belaka. Ini ialah sebuah film yang dihiasi dengan akting-akting bagus dari jajaran pemainnya. Reza Rahadian terlihat semakin matang kemampuan aktingnya dengan sesekali turut ngelawak, sedangkan Rianti Cartwright yang memiliki porsi tampil terbilang minim sanggup menghidupkan suasana emosional terutama dalam sebuah titik puncak yang menghentak. Chemistry yang terjalin diantara keduanya, serta para anggota Srimulat pun ‘believable’. Para pemain drama pendukung dan ‘cameo’? Tidak mengecewakan dan semakin memberi warna terhadap film ini. 
Bisa dikatakan bahwa Finding Srimulat ialah sebuah ungkapan rasa cinta yang sangat lapang dada dan penuh makna dari seorang pecinta Srimulat. Ini ialah kado tawa yang istimewa, tidak hanya untuk para penggemar Srimulat tetapi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Digarap dengan memakai hati dan secara hati-hati, Charles Gozali sanggup menghantarkan sebuah sajian yang luar biasa elok dengan kadar hiburan tinggi. Usaha Charles Gozali, serta tentunya MagMA Entertainment untuk melestarikan salah satu budaya Indonesia sangat patut untuk dihargai dan diapresiasi lebih. Dalam film ini, Anda sanggup tertawa terpingkal-pingkal dan menyeka air mata di waktu yang bersamaan, atau setidaknya berurutan. Dimulai semenjak menit pertama sampai menit paling selesai – jangan terburu-buru meninggalkan bioskop alasannya ialah ada tribute dan bloopers dikala credit title merayap – tidak ada sekalipun momen yang menjemukan atau terasa garing. Penuh sesak dengan momen-momen mengesankan yang patut untuk dikenang. Segalanya makin terasa enak berkat kehadiran tembang ‘Lenggang Puspita’ gubahan Guruh Soekarno Putra yang dibawakan secara mengasyikkan oleh Ahmad Albar. Sungguh sebuah film yang sangat ‘MenSepona’…, eh salah, mempesona maksud saya.

Catatan : Menurut rencana, Finding Srimulat tidak akan edar dalam bentuk home video. Jadi, kesempatan Anda menonton hanya di bioskop. 

Outstanding