July 2, 2020

Review : First Man


“That’s one small step for man, one giant leap for mankind.” 

Meski tak ada lagi bunyi gebukan drum yang intens maupun dua sejoli bersenandung dengan indah, karya terbaru dari sutradara penggenggam piala Oscar, Damien Chazelle (Whiplash, La La Land) yang bertajuk First Man masih mengusung tema kesukaannya tentang ‘ambisi dan menggapai mimpi’. Tak tanggung-tanggung, subjek kulikan Chazelle kali ini yakni sosok konkret yang namanya terukir di sejarah dunia sebagai insan pertama yang menjejakkan kaki di bulan, yakni Neil Armstrong. Disadur dari buku rekaan James R. Hansen, First Man: The Life of Neil A. Armstrong, si pembuat film tak hanya merekonstruksi insiden bersejarah tersebut yang masih diyakini oleh sebagian umat insan sebagai kebohongan belaka tetapi juga menelusuri sisi personal dari sang astronot yang tak banyak diketahui oleh khalayak ramai termasuk pergolakan batin yang mewarnai detik-detik jelang peluncuran Apollo 11 (kendaraan ruang angkasa yang berjasa dalam membawanya membumbung ke bulan). Sebuah bahan untuk sajian biopik yang menggugah selera, tentu saja, terlebih sang sutradara menentukan untuk melantunkan penceritaan dengan metode character-driven dengan memanfaatkan sosok Neil Armstrong. Metode ini memang memungkinkan bagi penonton untuk melongok masa-masa penting bagi misi penjelajahan luar angkasa ini secara intim. Namun resiko yang diboyongnya pun tak kecil terutama kalau huruf yang dimanfaatkan sebagai kacamata penonton tak cukup besar lengan berkuasa dalam menggugah ketertarikan. 

First Man sendiri mengambil latar penceritaan ditengah berlangsungnya space race – sebutan untuk persaingan sengit antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet dalam bidang penjelajahan luar angkasa – atau lebih spesifiknya sedari tahun 1961 hingga 1969. Pada kala 1960-an awal, Neil Armstrong (Ryan Gosling) yang bekerja sebagai pilot penguji kelayakan di National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengalami fase-fase terberatnya dalam hidup. Karirnya mengalami kemerosotan karena sejumlah kecelakaan yang disinyalir akhir pikiran Armstrong yang tak fokus dan putri bungsunya, Karen, mengidap tumor otak yang mengharuskannya untuk mengikuti serangkaian metode perawatan. Saat Karen kesannya berpulang, Armstrong mencoba mengalihkan murung laranya dengan mendaftar pada Proyek Gemini yang berambisi untuk membawa insan ke bulan. Armstrong berhasil lolos tes sehingga beliau bersama istrinya, Janet (Claire Foy), dan putra mereka pun pindah ke Houston dimana mereka menjalin ikatan persahabatan dengan keluarga astronot lain. Selama beberapa tahun berikutnya, karir Armstrong secara perlahan tapi niscaya mulai berkembang seiring dengan menonjolnya kemampuan analitisnya hingga kemudian beliau dipercaya untuk mengomandoi Apollo 11. Bukan perkara gampang bagi Armstrong dalam mengemban tanggung jawab ini mengingat beberapa mitra baiknya tewas dalam misi-misi sebelumnya. Tak hanya menyiapkan mental bagi dirinya sendiri, beliau pun harus menyiapkan keluarganya untuk mendapatkan kemungkinan paling jelek yang akan terjadi dalam peluncuran Apollo 11 ini. 


Harus diakui, menyaksikan First Man di layar bioskop bukanlah pengalaman sinematik yang mudah. Film ini tidak buruk, malah terbilang sangat baik, alasannya Chazelle bisa menghadirkan sebuah sajian biopik dalam kualitas mengesankan di sektor lakonan pemain dan teknis utamanya pada tata bunyi (coba dengarkan detilnya penggarapan suasana di roket dan ruang angkasa) beserta iringan musik menghanyutkan dari Justin Hurwitz yang beberapa melodinya melemparkan ingatan ke La La Land. Hanya saja membutuhkan fisik segar bugar supaya sanggup melalui durasi yang merentang hingga 140 menit tanpa harus terkantuk-kantuk maupun mual-mual. Terkantuk-kantuk, alasannya film menerapkan laju penceritaan dengan tempo lambat dan tak banyak menyuplai letupan-letupan emosi. Sosok Neil Armstrong yang selama ini saya bayangkan sebagai pribadi penuh warna dengan kepercayaan diri tinggi, ternyata diinterpretasikan secara jauh berbeda oleh Ryan Gosling. Dia tampak menekan emosi yang dipunyainya sehingga kesan didapat dari karakternya yakni kalem, kaku, serta cenderung dingin. Gosling kerap memanfaatkan mulut dan gestur untuk memperlihatkan perasaannya tanpa pernah sekalipun meluapkannya. Bukan pilihan yang salah, tentu saja, hanya saja mengingat Chazelle ‘meminjam mata’ Armstrong sebagai sudut pandang penonton, plus pergerakan kisah bergantung pada Armstrong termasuk bagaimana beliau berdamai dengan murung dan trauma, agak sulit untuk benar-benar menaruh afeksi kepadanya ketika karakternya terasa berjarak. Dampak dari ketidakmampuan dalam memahami si huruf utama secara menyeluruh yakni dua babak pertama berlangsung cukup sulit – kalau tidak mau dibilang menjemukan. 

Yang justru mencuri perhatian yakni Claire Foy sebagai seorang istri yang senantiasa dirundung was-was dalam menanti kepulangan sang suami. Foy mempersembahkan akting gemilang ketika Janet terjangkit panik menyusul terputusnya siaran radio yang mengabarkan status terkini dari Armstrong sehingga beliau pun mendatangi eksklusif kantor NASA, dan tentu saja, momen titik puncak yang mempersilahkan karakternya untuk mengonfrontasi sang suami yang mengalami ketakutan dalam mengutarakan kemungkinan terburuk kepada bawah umur mereka. Berkat Foy, adegan di meja makan menghasilkan sebuah getaran – yang sebelumnya hanya muncul kurang jelas – dan bulir-bulir air mata bisa dirasakan yang lantas secara resmi mengalir tatkala Armstrong bisa memenuhi mimpinya, mimpi-mimpi rekan-rekannya yang gugur dalam tugas, dan mimpi umat insan untuk menjejakkan kaki di bulan. Adegan berjalan di bulan yang ditangkap memakai kamera IMAX menawarkan sensasi merinding. Apa yang disajikan oleh Chazelle di menit-menit jelang penghujung durasi ini mengompensasi perjalanan ‘menaiki roket sekaligus menyelami kehidupan Armstrong’ yang tak sepenuhnya berlangsung nyaman menyerupai menjadikan efek samping berupa kantuk dan mual. Mual yang saya maksud merujuk pada kamera yang seringkali berguncang ditambah pewarnaan yang grainy dan adakanya blur demi menawarkan kesan otentik seperti kita yakni astronot di kala 1960-an. Tidak hanya ketika memasuki roket tetapi juga ketika kita mengikuti para huruf utama dalam bersosialisasi. Itulah mengapa pihak bioskop semestinya mencantumkan satu persyaratan mutlak bagi calon penonton First Man, yakni fisik segar bugar.

Exceeds Expectations (3,5/5)