July 9, 2020

Review : Friend Zone


“The friend zone is just another kind of jail.”

Dalam Friend Zone, penonton diperkenalkan kepada dua sahabat baik yang telah menjalin ikatan persahabatan sedari duduk di kursi SMA, Gink (Baifern Pimchanok) dan Palm (Nine Naphat). Tak menyerupai Gink yang sebatas menganggap Palm sebagai sahabat yang siap menemani dalam suka maupun duka, Palm justru berharap lebih. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Gink sebagai istrinya bukan sebagai temannya. Berhubung Gink tak ingin merusak tali pertemanan diantara mereka dan Palm pun acapkali ragu-ragu untuk mengutarakan perasaannya, maka tentu saja hubungan keduanya pun tak pernah melangkah ke arah yang lebih serius. Mereka hanyalah sahabat, that’s it. Pun demikian, Palm masih mempunyai keyakinan bahwa gayung akan bersambut suatu ketika nanti sekalipun Gink tak kunjung merespon kode-kode dari sahabatnya selama satu dekade. Saat mereka jadinya menentukan jalan hidup masing-masing, Palm tetap dijadikan sahabat pelipur lara oleh Gink yang mempunyai trust issue terhadap pasangannya, Ted (Jason Young), yang merupakan seorang produser musik. Tidak jarang Gink tiba-tiba menghubungi Palm untuk menemaninya akhir rasa insecure yang mendadak menghujamnya. Sebagai sahabat yang baik, Palm tentu selalu siap sedia kapanpun beliau diharapkan walau terkadang posisi Gink berada nun jauh di negara lain. Meski keduanya sudah disibukkan dengan pekerjaan dan pasangan masing-masing, Palm dan Gink tetap sulit untuk dipisahkan. Dimana ada Gink yang sedang dirundung masalah, maka disitu ada pula Palm yang menenangkannya. Palm yang tetap berharap ada secercah cita-cita bagi beliau dan sang sahabat untuk mengucapkan janji suci bersama.

Sejujurnya, tak ada pembaharuan dalam guliran pengisahan yang dikedepankan oleh Friend Zone. Cerita mengenai dua sahabat baik yang menyimpan rasa tapi tak sanggup untuk mengungkapkan karena khawatir merusak ikatan persahabatan, telah berulang kali dipergunakan sebagai plot utama untuk film percintaan. Tak perlu jauh-jauh melempar ingatan ke sinema dunia, perfilman Indonesia pun gres saja menghadirkannya melalui Teman Tapi Menikah (2018) yang manis sekali dan Antologi Rasa (2019) yang yaaa… sudahlah tak usah kita bahas demi kebaikan bersama. Alhasil, gampang sekali untuk melabeli Friend Zone dengan sebutan “klise”, “membosankan”, “film yang malas”, serta sederet kata sifat yang mempunyai konotasi negatif menyerupai kerap dilakukan oleh sebagian pihak kepada film percintaan dengan narasi familiar. Padahal, apa yang salah dengan familiar? Friend Zone yang digarap oleh Chayanop Boonprakob (Suckseed, May Who) pun mengambarkan bahwa sebuah film tidak harus mempunyai narasi beserta penggarapan serba “diluar kotak” untuk bisa disebut sebagai sajian yang mengesankan. Bukankah seringkali kita ke bioskop hanya ingin mencari obat pelepas penat yang ditimbulkan oleh realita bercita rasa pahit? Bukankah terkadang kita membutuhkan suatu tontonan yang sanggup mewakili isi hati dan bisa sepenuhnya dipahami karena ada kedekatan representasi? Bagi saya, Friend Zone memenuhi dua pengharapan tersebut lantaran: 1) ini yaitu film yang menghibur, dan 2) jalinan penceritaan film ini yang sederhana kemungkinan besar pernah dialami oleh sejumlah penonton utamanya bagi mereka yang berkawan bersahabat dengan lawan jenis.


Ya, satu kelebihan yang dimiliki oleh Friend Zone yaitu bahan penceritaannya yang tergolong relatable. Mungkin kau pernah menyaksikan “zona pertemanan” ini diberlakukan kepada seseorang yang kau kenal, atau malah mungkin kau pernah terjebak di dalamnya secara langsung. Saya pribadi tidak pernah berada dalam posisi Palm, tapi saya cukup sering mendengar kisah bernada bingung dari beberapa sahabat wacana keberadaan zona berbahaya tersebut. Sebuah modal yang terbilang cukup bagi saya untuk bisa memahami perasaan kedua aksara utamanya yang tak menentu. Terlebih lagi, Chayanop Boonprakob turut menghadirkan karakterisasi mumpuni untuk Gink dan Palm sehingga pilihan atas tindakan-tindakannya sanggup dimengerti. Memang betul bahwa latar belakang keduanya kurang digali mendalam – khususnya Palm yang tidak pernah diketahui menyerupai apa keluarganya – tapi si pembuat film mencoba mengompensasinya dari motivasi kedua aksara yang terjabarkan secara jelas. Sikap ragu-ragu Palm dilandasi oleh keengganannya mempertaruhkan persahabatan yang penuh kenangan indah apalagi sang sahabat pun sudah terang-terangan menyatakan “menjadi sahabat saja sudah cukup, kan?”, sementara penolakan Gink dilandasi oleh trauma yang disebabkan oleh perselingkuhan sang ayah dan mantan kekasihnya. Dia tidak benar-benar bisa mempercayai cinta maupun janji nikah sehingga Gink seringkali mempunyai kekhawatiran hubungan asmaranya tidak akan berlangsung lama. Ditambah fakta bahwa beliau memandang Palm sebagai playboy, maka menjalin tali asmara dengan sang sahabat tidak terlihat menyerupai pilihan bijak karena kemungkinan keduanya untuk berpisah tampak begitu jelas.


Disodori pergulatan batin semacam ini, saya pun ikut dibuat bimbang. Seolah-olah saya diposisikan sebagai mitra baik mereka berdua yang tiba-tiba diberondong dengan pertanyaan, “jadi apa yang seharusnya kita lakukan?.” Karakterisasi kedua protagonis ditambah chemistry sangat anggun yang dibuat oleh Baifern Pimchanok dengan Nine Naphat membuat dua pilihan sama-sama terdengar masuk akal. Saya berharap mereka memberanikan diri untuk jadian, tapi saya pun tak keberatan bila mereka kemudian memutuskan untuk tetap bersahabat. Mengingat diri ini telah sepenuhnya bersimpati kepada Gink dan Palm (satu hal yang wajib bisa dilakukan oleh film percintaan!), saya tentu hanya menginginkan yang terbaik untuk mereka walau di lubuk hati terdalam berteriak “jadian dong!”. Sebuah teriakan yang tak terelakkan karena mau bagaimana lagi, rangkaian momen yang disodorkan di sepanjang durasi telah menggiring opini penonton untuk menyatakan “kedua manusia ini harus bersatu”. Rangkaian momen yang sejatinya klasik tapi bisa dimunculkan dengan luar biasa manis berkat sensitivitas si pembuat film dan chemistry dua pemain menyerupai adegan makan malam di gedung pencakar langit, menggubah ulang lirik lagu di pantai, hingga mencari cincin di bawah kolong meja. Disodorkan dengan bermacam-macam tone mencakup konyol yang membuat gelak tawa, lembut yang memantik senyum bahagia, serta haru yang mengundang air mata, Friend Zone terang memenuhi segala pengharapan saya untuk film percintaan. Ditambah dengan fakta bahwa film ini mempunyai babak ketiga yang dirangkai dengan sangat cerdik (well, salah satu kelebihan film Thailand memang terletak pada cara mereka mengemas proses puncak menuju konklusi), pada jadinya diri ini pun sulit untuk menolak pesona yang ditawarkan oleh Friend Zone. Bagus!

Trivia : Lagu tema dari Friend Zone yang berjudul “Kid Mak” dibawakan oleh sepuluh biduanita dari aneka macam negara di Asia termasuk dua personil GAC, Audrey Tapiheru dan Cantika Abigail, yang mewakili Indonesia. Keduanya juga tampil secara cameo di film.

Outstanding (4/5)