October 27, 2020

Review : From Up On Poppy Hill


Pada awalnya, saya sama sekali tidak yakin terhadap From Up on Poppy Hill. Melihat Goro Miyazaki kembali ke dingklik penyutradaraan sesudah enam tahun sebelumnya sukses menjatuhkan reputasi Ghibli lewat Tales from Earthsea yang memble yaitu sebuah mimpi buruk. Saya pun berdoa, “Tuhan, tolong jangan biarkan putra Hayao Miyazaki ini kembali menodai gambaran Ghibli menyerupai yang telah ia lakukan sebelumnya. Berikan keajaiban.” Doa orang yang teraniaya cenderung dikabulkan. Tuhan menjawab doa saya. Karya terbaru dari Goro Miyazaki yang diubahsuaikan dari manga berseri berjudul sama hasil gesekan tangan Chizuru Takahashi dan buah pikiran Tetsuro Sayama ini sama sekali tidak memalukan. Sebuah peningkatan yang amat baik. Agaknya rehat selama enam tahun dipergunakan secara maksimal oleh Goro Miyazaki untuk memelajari kesalahannya, belajar kepada sang ayah, dan menajamkan skill. Hasilnya yaitu From Up on Poppy Hill, sebuah film drama romantis yang manis, menghibur dan menyentuh. Tidak memasukkan sedikit pun unsur fantasi, keluaran teranyar dari Ghibli ini menjadi semacam penyegaran bagi Anda yang mungkin sedikit jenuh dengan kisah petualangan berbalut fantasi yang kerap disuguhkan oleh studio animasi jempolan ini. 

Bersetting di tahun 1960-an, tokoh utama dari film animasi terlaris di Jepang tahun kemudian ini yaitu Umi Matsuzaki (Masami Nagasawa), gadis berusia 16 tahun. Terbiasa hidup tanpa orang bau tanah – sang ayah gugur dalam Perang Korea, sementara sang ibu tengah menimba ilmu di Amerika – menuntut Umi untuk hidup mandiri. Malahan, dengan absennya sang ibu, ia pun mau tak mau harus menggantikan kiprah sang ibu dalam merawat kedua adiknya beserta sejumlah orang yang tinggal di Kokuriko Manor. Rutinitasnya setiap pagi diawali dengan mengibarkan bendera instruksi untuk kapal-kapal yang melintasi Pelabuhan Yokohama, dan dilanjutkan dengan menyiapkan sarapan untuk penghuni apartemen. Pun begitu, Umi digambarkan selalu mengawali hari dengan penuh semangat, tanpa sekalipun mengeluh dan menebarkan keceriaan sekalipun kudu menjalani rutinitas yang menjemukan nan melelahkan. Kebiasannya dalam mengibarkan bendera setiap pagi berhasil mencuri perhatian masyarakat. Bahkan, seorang siswa terkenal di sekolahnya, Shun (Junichi Okada) menulis puisi untuknya di koran sekolah. Berkat puisi ini, keduanya berkenalan. Umi dan Shun perlahan tapi niscaya menjadi dekat. Umi pun bersedia meluangkan waktunya untuk membantu Shun dan Shiro (Shunsuke Kazama) dalam memerjuangkan Quartier Latin – sebuah gedung yang di dalamnya berisi ruang-ruang ekstrakurikuler – yang hendak dirobohkan karena dianggap tak lagi layak pakai. 

From Up on Poppy Hill tampil menawan di sektor animasi. Goresan tangan para animator sanggup menghasilkan serangkaian gambar-gambar anggun yang menggambarkan suasana Jepang di tahun 1960-an dengan cukup detil dan realistis sehingga penonton pun turut terbawa suasana. Tidak semenakjubkan apa yang telah diperlihatkan melalui The Secret World of Arrietty, namun tetap bisa menciptakan penonton terkagum-kagum. Ditilik dari segi penceritaan, naskah olahan Hayao Miyazaki dan Keiko Niwa sebetulnya tidak terlampau istimewa, akan tetapi sanggup menghangatkan hati dan mengaduk-aduk emosi penonton. Karakterisasi dari Umi dan Shun yang berpengaruh menjadi nilai lebih. Penggambaran korelasi percintaan diantara mereka berdua disampaikan secara sewajarnya, tanpa pernah terlalu lebay atau cengeng. Mengalir dengan tenang, ditimpali dengan musik dari Satoshi Takebe yang mengalun indah, pemandangan hamparan bahari yang membiru dari atas tebing, rintik hujan di pagi hari, serta hiruk pikuk sebuah sekolah menengah atas, menciptakan beberapa momen yang melibatkan Umi dan Shun seringkali terasa romantis dan syahdu. Dan untuk sekali ini, Ghibli tidak berkomentar mengenai lingkungan. Sebagai gantinya, disodorkan problem menyikapi kehilangan figur seorang ayah, dampak dari peperangan terhadap kehidupan manusia, hingga perubahan ideologi dan filosofi dari sebuah bangsa. Tidak lupa, mengingat film ini bersetting di awal tahun 1960-an, turut disinggung pula bagaimana persiapan Jepang menghadapi Olimpiade Tokyo 1964, salah satunya ditandai dengan perjuangan untuk merobohkan Quartier Latin yang dianggap sebagai sebuah penghalang modernisasi. Pada akhirnya, From Up on Poppy Hill, sekalipun bukanlah sebuah mahakarya dari Ghibli, merupakan sebuah kemajuan yang membanggakan dari Goro Miyazaki. Dengan kemampuannya yang kian terasah, maka para administrator di Ghibli – setidaknya untuk ketika ini – tidak perlu mengkhawatirkan masa depan studio mereka. Sedikit lagi, Goro Miyazaki siap untuk mengikuti jejak sang ayah.

Exceeds Expectations