October 16, 2020

Review : Galih & Ratna


“Fokus dengan apa yg menciptakan kita senang bukan pada apa yg seharusnya menciptakan kita bahagia.”

Menjumpai film percintaan dewasa buatan dalam negeri yang enak ditonton itu sulitnya bukan kepalang. Bagai mencari jarum diantara tumpukan jerami. Dari sisi kuantitas sih stoknya melimpah ruah. Cuma dari sekian banyak judul, film yang tidak menimbulkan migrain atau gerutuan berkepanjangan ketika menontonnya bahkan kalah jumlah dari jemari tangan. Plot mengada-ada, aksara konyol jauh dari kesan membumi, dan dialog-dialog ala pujangga yang bikin lelah indera pendengaran dilontarkan tiap menit ialah beberapa penyebab mengapa film percintaan dewasa setempat sulit menciptakan penonton di luar pangsa pasarnya ikut klepek-klepek. Terakhir kali menyaksikan perwakilan genre ini yang terhitung “pas di hati” ialah lima bulan silam lewat Ada Cinta di SMA – sebuah film romantis menyenangkan yang sayangnya dipandang sebelah mata karena dibintangi oleh personil CJR (dunno why!). Dalam kurun waktu semenjak film tersebut rilis, beberapa film sejenis berlalu lalang namun tak satupun meninggalkan kesan hingga balasannya tibalah film terbaru isyarat Lucky Kuswandi, Galih dan Ratna, yang ibarat oase di gurun tandus. Galih dan Ratna membuatku tertawa oleh kejenakaannya, tersenyum kerena keromantisannya, sekaligus rindu manisnya masa-masa SMA. Jatuh hati! 

Kendati melompat kegirangan begitu mendapati betapa lezatnya Galih dan Ratna buat dikudap, sejatinya bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan mengetahui sajian ini akan meninggalkan after taste kuat. Betapa tidak, bahan sumbernya ialah novel legendaris dari periode 70-an karya Eddy Iskandar, Gita Cinta Dari SMA, yang lantas diterjemahkan pula ke film layar lebar laku manis berjudul serupa dan mengorbitkan kedua bintang utamanya, Rano Karno serta Yessy Gusman. Karakter yang mereka perankan amat ikonik yakni Galih dan Ratna yang merupakan Rangga dan Cinta bagi generasi dewasa tiga dekade silam. Dalam versi 2017, sekalipun garis besar dongeng berikut jajaran aksara pada dasarnya mengadopsi dari karya terkenal terdahulu, Lucky Kuswandi tidak serta merta sekadar copy paste kemudian diubahsuaikan dengan kondisi zaman. Galih dan Ratna lebih cocok disebut sebagai ‘adik’ ketimbang ‘kloningan’. Disamping plot utama mengenai kisah kasih dua sejoli terhalang perbedaan kasta sosial (dirombak dari sebelumnya, beda suku) dan satu dua lagu tema diaransemen ulang, nyaris tidak ada lagi persamaan dijumpai dari kedua film tersebut. Malah, sesuai dengan judulnya, latar belakang kedua aksara utama mendapat lebih banyak kulikan ketimbang versi lawas. 

Galih (Refal Hady) masihlah siswa Sekolah Menengan Atas yang cerdas, hanya saja sekali ini beliau bukan siswa terkenal dan cenderung tertutup. Impiannya terhalang oleh restu dari sang ibu (Ayu Dyah Pasha) yang menginginkan Galih untuk fokus di jalur akademik sehingga bisa memasuki universitas pilihan tanpa harus menghabiskan banyak biaya mengingat kondisi finansial keluarga mereka serba pas-pasan. Sementara Ratna (Sheryl Sheinafia) tetaplah siswi pindahan yang bagus dari keluarga terpandang, hanya saja sekali ini beliau lebih impulsif dalam bertindak dan mimpinya mengenai masa depan masih diawang-awang. Perkenalan keduanya secara resmi dimulai di lapangan belakang sekolah ketika Ratna menunjukkan ketertarikkan pada walkman milik Galih. Dari obrolan singkat mengenai musik yang mereka dengarkan bersama, penonton bisa menyimpulkan bahwa keduanya saling cocok. Hanya butuh alasan lain untuk mengeratkan relasi mereka. Fathan Todjon selaku penulis skrip bersama Lucky menghadirkan alasan tersebut dalam bentuk sebuah toko kaset milik mendiang ayah Galih yang telah tergerus modernitas dan terancam bangkrut berjulukan Nada Musik. Ratna iseng mampir kesana, kemudian malah dibentuk kesengsem oleh idealisme Galih. Percikan-percikan asmara diantara mereka kian menguat hingga balasannya Galih memberanikan diri untuk menciptakan mixtape sebagai bentuk pernyataan cintanya kepada Ratna. 


Melihat Galih ‘menembak’ Ratna memakai mixtape, seorang mitra nyeletuk, “ah, terlalu mengada-ada. Masa jaman serba digital begini masih ada yang mau nembak pakai mixtape? Muternya gimana coba?.” Untuk sesaat, saya membenarkan komentarnya hingga kemudian teringat pernah menjumpai seorang penggila musik idealis yang mengagungkan format fisik (termasuk kaset yang telah dianggap punah oleh banyak orang semenjak beberapa tahun lalu!) dan mendengar tanggapan Ratna ke salah satu sahabat sekelasnya, “jika beliau memang mencintaimu, beliau akan mencari cara untuk mendengarkannya.” Kehadiran mixtape justru memperkuat sisi romantis dari film. Menunjukkan adanya kesungguhan cinta diantara kedua aksara utama mengingat untuk sekadar ‘nembak’ dan ‘menerima tembakan’ saja membutuhkan daya juang lebih. Galih bersusah payah memilah-milah lagu yang cocok untuk mengutarakan isi hatinya kemudian dilanjut proses mengompilasi ke bentuk kaset yang rumit, dan Ratna, berusaha keras untuk mencari tape demi mendengar surat cinta sang kekasih. Adegan ketika Ratna balasannya berhasil mendengarkan mixtape pemberian Galih di angkot merupakan salah satu momen emas dalam Galih dan Ratna. Hati ini berdesir dibuatnya. Adegan lanjutannya berupa penyampaian jawaban pun tak kalah manis. Tanpa tersadar, seuntai senyum telah mengembang di bibir. 

Ya, Galih dan Ratna manis bukan disebabkan kedua insan insan yang tengah dimabuk asmara hobi saling melempar gombalan satu sama lain tiada berkesudahan. Manisnya terbentuk dari situasi dan keyakinan penonton bahwa kedua aksara memang saling jatuh cinta – atau dengan kata lain, chemistry ciamik. Refal Hady dan Sheryl Sheinafia mempersembahkan duet final hidup layak dikenang. Untuk ukuran pendatang baru, Refal tampil memikat sebagai Galih. Menguarkan aura misterius mengundang keingintahuan akan sosoknya. Emosinya dalam momen puncak, terpancar nyata. Sedangkan Sheryl menunjukan bahwa lakon bagusnya di Koala Kumal tahun kemudian bukanlah semata-mata keberuntungan pemula. Di tangannya, sosok Ratna yang sepintas kemudian tampak tipikal gadis rumahan terasa mempunyai kompleksitas. Ada kegetiran tersembunyi dibalik perilaku cueknya. Ketika mereka berdiri sendiri, masing-masing suguhkan akting solid dan ketika mereka dipersatukan, chemistry-nya sungguh menggigit. Itulah mengapa, mencuat kecemasan dalam adegan yang berlangsung di meja makan dan stasiun kereta karena emosi penonton telah terinvestasikan kepada dua sejoli ini. Memunculkan pengharapan, kisah kasih antara Galih dengan Ratna akan beroleh restu dari orang renta masing-masing khususnya ayah Ratna (Hengky Tornando) yang jarang berada di sisi putrinya serta enggan memahami kemauan sang putri. 

Menariknya, Lucky tak melulu berbincang soal cinta di Galih dan Ratna – walau sah-sah saja, toh ini film roman. Tak luput diselipkannya beberapa sorotan ke fenomena sosial masyarakat sekitar dan sejumput kritik mirip generasi muda yang mengalami ketergantungan terhadap sosial media, adanya kesadaran berpolitik di kalangan murid SMA, menjajikannya bisnis berbasis agama, perilaku adikara orang renta pada penentuan masa depan anak, hingga tugas serta guru di sekolah. Penyampaian Lucky terbilang halus tak berasa ceriwis, namun cukup efektif dalam menyentil. Daya pikat lain yang dipunyai Galih dan Ratna ialah film mempunyai barisan lagu pengiring bagus yang berkontribusi menghidupkan suasana romantis nan melankolis, kemudian pembawaannya seringkali ringan serta cenderung ceria. Serentetan humor-humor segar banyak disempalkan disana sini dari teman-teman sekelas dua aksara utama yang ajaib, sosok guru dalam wujud Pak Dedy (Joko Anwar) yang galak-galak ngangenin, hingga Tante Ratna (Marissa Anita) yang energinya berlebih. Manjur dalam mengundang gelak-gelak tawa renyah sekaligus membangkitkan kenangan-kenangan menyenangkan semasa masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kangen! Jika memang ada keadilan di muka bumi ini, seharusnya gampang saja bagi Galih dan Ratna untuk mendapatkan ratusan ribu atau malah jutaan penonton. Apalagi filmnya amat menarik dan tidak meninggalkan imbas migrain maupun gerutuan berkepanjangan kala menyantapnya.

Outstanding (4/5)