October 21, 2020

Review : Gangster


“Saya tidak pernah percaya pada orang lain alasannya percaya pada orang lain bagi saya ialah kelemahan” 

Para penikmat film Indonesia tentu sama-sama tahu bahwa Fajar Nugros telah terbiasa berkecimpung di ranah komedi dan drama romantis – setidaknya dalam filmografinya didominasi genre ini. Maka ketika ia menjajal keluar dari zona nyamannya dengan menggarap film beraliran laga, respon pertama kali meluncur dari verbal adalah, “heh, Fajar Nugros dan film action?.” Sepintas terdengar sangat meremehkan, memang. Bukan apa-apa, genre yang memperkenalkan kita kepada Barry Prima atau George Rudy ini bukanlah tipe gampang dieksekusi… setidaknya di sinema Indonesia. Dalam kurun satu dasawarsa terakhir bisa dikata hanya segelintir film action produksi lokal berkualitas diatas rata-rata dengan dwilogi The Raid telah menetapkan standar begitu tinggi sehingga kemunculan film teranyar Fajar Nugros, Gangster, produksi Starvision ini sedikit banyak diiringi perilaku skeptis bertingkat. Satu-satunya yang mendesak minat saya untuk tetap menyimak Gangster di layar perak ialah melihat Dian Sastrowardoyo mencak-mencak dalam three-way fight bersama Kelly Tandiono dan Yayan Ruhian. 

Sepeninggal sang ayah angkat, Jamroni (Hamish Daud), membulatkan tekad meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara ke Jakarta demi menemukan sahabat masa kecilnya, Sari (Eriska Rein). Setibanya di Jakarta, Jamroni memperoleh sambutan tidak ramah dari sekelompok preman yang berniat menghajarnya. Dalam upayanya menyelamatkan diri, Jamroni berjumpa dengan Retta (Nina Kozok) yang sedang dalam pelarian dari kejaran orang-orang suruhan sang ayah, Hastomo (Agus Kuncoro). Melihat kemampuan bertarung Jamroni yang mumpuni – bisa mengalahkan sejumlah bodyguard bertubuh kekar – Retta pun meminta tunjangan kepada Jamroni untuk membantunya keluar dari permasalahan perjodohan yang telah dirancang Hastomo bersama rekan bisnisnya, Amsar (Dwi Sasono), dengan cara berpura-pura sebagai kekasihnya. Memperoleh isu bahwa Retta telah mempunyai kekasih yang bukan seharusnya, Amsar pun kebakaran jenggot. Dia lantas menitahkan para bawahannya untuk memburu Jamroni dan kemudian, mengibarkan bendera perang kepada Hastomo. 

“Film itu mengenai kerjasama tim. Satu kesalahan sanggup mengacaukan segalanya dan satu kehebatan sanggup membantu semuanya,” demikian ujar seorang rekan pembuat film kepada saya sekali waktu. Dan, Gangster merupakan teladan kasatmata dari pernyataan tersebut. Ditinjau dari sisi penceritaan yang dirakit oleh Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?), Gangster cenderung lemah nyaris tidak mempunyai daya. Cukup sulit menemukan keistimewaan dibalik guliran kisah yang sudah mengalami bongkar pasang berulang kali di film bergenre serupa ini. Disamping cukup lama serta gampang ditebak muaranya, naskah juga kurang dalam mengeksplor interaksi antar tokohnya dan cukup sering memunculkan momen yang jika kata orang Jawa serba ujug-ujug sehingga sedikit banyak kuat terhadap kadar kenikmatan mengikuti alunan kisah utamanya di menit-menit menjelang tutup film. Tapi, kemudian kita ingat bahwa inti utama dari suatu film tabrak tidak harus bertumpu pada bangunan kisahnya yang cerdas, melainkan lebih kepada seru-seruan. Tentang bagaimana emosi penonton dibentuk bergejolak oleh serangkaian adegan baku hantam maupun baku tembak meriah. Untuk urusan satu ini, Gangster boleh dibilang cukup berhasil. 

Kerjasama tim pun menunjukkan risikonya disini. Kelemahan skrip sanggup ditutupi oleh kinerja menawan dari departemen lain. Koreografi tarung ciptaan Yayan Ruhian memunculkan cukup banyak jurus-jurus mengesankan dengan adegan terbaik terletak pada three-way fight yang melibatkan para wanita (salah satunya, Dian Sastrowardoyo). Meski ada kalanya kesan terlalu tertata mencuat, namun tidak memberi efek besar kepada sisi keasyikkan laganya. Selain itu, Gangster juga dikaruniai performa menakjubkan dari duo maut Dwi Sasono-Agus Kuncoro. Ya, kapabilitas keduanya dalam dunia seni tugas memang sudah tidak perlu dipertanyakan, namun sungguh, inilah pertunjukkan akting terbaik dari Dwi Sasono! Pergantian mood secara cepat sosok Amsar – dari tenang, bercanda, murka besar, takut, kemudian kembali hening – diterjemahkannya brilian tanpa pernah mendistraksi laju film. Dia bisa menciptakan penonton tertawa tergelak sekaligus cemas gemas di ketika bersamaan. Fajar Nugros memang telah mencampurkan elemen tabrak dan komedi di Gangster dengan tidak mengecewakan pas – pertanda bahwa kekhawatiran saya tidak terbukti – tapi tak bisa dipungkiri sumbangan permainan apik para bintangnya lah yang menciptakan film mempunyai cita rasa greget. Menjadikan Gangster mempunyai sinonim dengan kata fun dan enjoyable.

Acceptable