October 21, 2020

Review : Gerbang Neraka


“Yang diperlukan Indonesia itu sains, bukan klenik.” 

Jika kau selama ini mengeluhkan kurangnya variasi genre dalam perfilman tanah air, rilisan terbaru rumah produksi Legacy Pictures bertajuk Gerbang Neraka yang memperlihatkan tema gres ini semestinya tidak kau lewatkan begitu saja. Memiliki judul awal Firegate: Piramida Gunung Padang, film garapan Rizal Mantovani (Kuntilanak, 5 cm) ini menancapkan jejak utamanya di genre petualangan yang sebelumnya pernah coba dieksplorasi oleh sineas tanah air melalui Ekspedisi Madewa (2006) dan Barakati (2016) yang mungkin tidak terlalu familiar di indera pendengaran sebagian besar penonton tanah air. Yang lantas membedakan Gerbang Neraka dari kedua judul tersebut ialah Rizal bersama Robert Ronny selaku penulis skenario memadupadankannya dengan fantasi dan horor demi meningkatkan daya tariknya ke publik. Gagasan penceritaan untuk filmnya sendiri tercetus berkat keriuhan yang melingkungi situs punden berundak Gunung Padang di Jawa Barat pada tahun 2014 silam. Berbagai temuan para peneliti melahirkan sejumlah spekulasi dari aneka macam pihak yang salah satu paling santer terdengar menyatakan adanya piramida berusia sangat renta (konon usianya melebihi Piramida Giza di Mesir!) yang terkubur di bawah Gunung Padang. Sebuah spekulasi yang terperinci sangat menggiurkan untuk diejawantahkan menjadi tontonan layar lebar, bukan? 

Guna menggulirkan roda penceritaan, Gerbang Neraka menetapkan tiga abjad sebagai sorotan utama. Mereka ialah seorang jurnalis tabloid mistis yang mengorbankan idealismenya demi memberi penghidupan layak bagi anak istrinya berjulukan Tomo (Reza Rahadian), seorang dosen arkeologi yang mempunyai kecintaan terhadap ilmu pengetahuan berjulukan Arni (Julie Estelle), serta spesialis spiritual yang memanfaatkan kemampuannya untuk mengejar ketenaran berjulukan Guntur Samudra (Dwi Sasono). Ketiga insan yang mempunyai visi saling bertolak belakang ini saling dipertautkan usai proses eskavasi situs Piramida Gunung Padang yang melibatkan sejumlah arkeolog terbaik Indonesia termasuk Arni justru mendatangkan malapetaka. Satu persatu personil yang menemukan kebenaran tersembunyi dibalik Piramida Gunung Padang meregang nyawa dengan cara tak wajar. Dilingkupi kepenasaran yang membuncah mengenai sabab musabab tewasnya rekan-rekan kerjanya, Arni pun mau tak mau berhubungan dengan Tomo dan Guntur yang telah memperlihatkan ketertarikan pada situs ini sedari awal. Dari penelusuran bersama, mereka mendapati bahwa ada sosok jin penunggu berjulukan Badurakh yang berusaha untuk menghalangi para insan membuka Piramida Gunung Padang. Larangan Badurakh ini bukannya tanpa alasan alasannya ialah apa yang bersemayam di dalam piramida sanggup menghancurkan peradaban manusia.

Telah dirampungkan sedari tahun 2015, nyatanya membutuhkan waktu sampai dua tahun bagi Gerbang Neraka untuk akibatnya dilempar secara resmi ke hadapan publik. Salah satu faktor pemicunya yakni kebutuhan untuk menyempurnakan CGI yang memang memegang andil besar dalam memvisualisasikan Piramida Gunung Padang dan Badurakh. Pengorbanan selama dua tahun demi memperhalus tampilan ini untungnya terbayar impas dengan hasilnya yang sama sekali lumayan dan bisa dikata merupakan salah satu yang paling mulus dalam perfilman Indonesia. Efek khusus Gerbang Neraka bisa memberikan kita citra tergolong meyakinkan mengenai semesta berikut mitologi bentukan si pembuat film, ibarat bagaimana wujud si jin penunggu dan ibarat apa bentuk situs prasejarah incaran banyak pihak tersebut. Skripnya memang tidak sepenuhnya rapi – masih meninggalkan satu dua pertanyaan yang semestinya bisa dielaborasi lebih mendalam – namun mempunyai daya cengkram cukup berpengaruh yang menggelitik rasa ingin tau penonton untuk mengetahui wacana diam-diam nenek moyang yang terkubur di dalam Piramida Gunung Padang. Apakah ada sesuatu yang berharga di sana? Atau justru tersimpan sesuatu yang berbahaya? Apabila ya, apakah itu? Mengapa sosok Badurakh berusaha untuk menutup-nutupinya dari para manusia? 

Keinginan untuk memperoleh balasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut ditambah lagi adanya sempilan berupa sentilan sentilun terhadap situasi sosial Indonesia masa sekarang menciptakan saya tertarik mengikuti penceritaan Gerbang Neraka yang tanpa dinyana-nyana bisa dilantunkan secara mengasyikkan. Rizal Mantovani yang belakangan ini tampak kesulitan memberikan dongeng yang menghibur melalui medium audio visual, akibatnya sanggup menemukan ritmenya kembali disini. Tidak selalu mulus, terkadang penggunaan jump scare untuk menciptakan penonton terlonjak agak berlebihan dan humornya beberapa kali terasa janggal, akan tetapi Rizal cukup berhasil mengakibatkan kisah petualangan trio Tomo-Arni-Guntur terasa yummy untuk disimak. Beruntung bagi Rizal, ada sokongan mumpuni yang diperolehnya dari iringan musik gubahan Andi Rianto yang diberi sentuhan etnik dan jajaran pemain yang menghadirkan performa gemilang. Reza Rahadian sekali lagi memperlihatkan karisma berpengaruh sebagai lead, Julie Estelle berhasil melakonkan abjad wanita cerdas pula tangguh, Dwi Sasono meniupkan elemen komedik pada film (ada semacam ambiguitas antara karakternya memang sengaja dibuat agak komikal atau ada imbas dari tugas yang dibawakannya di sitkom), serta Lukman Sardi dalam tugas mengejutkan di titik puncak yang mengusik pemikiran. Berkat kombinasi baik dari unsur-unsur tersebut, Gerbang Neraka yang mengusung konsep segar ini pun berhasil tersaji sebagai tontonan yang menghibur sekaligus menjadi salah satu kejutan elok bagi perfilman Indonesia tahun ini.

Exceeds Expectations (3,5/5)