October 19, 2020

Review : Get Out


“Man, I told you not to go in that house.” 

Berkunjung ke rumah calon mertua untuk pertama kali agaknya kerap meninggalkan dongeng menarik buat dikulik. Tatkala berkumpul bersama kerabat, pengalaman ini cukup sering diajukan sebagai topik pembicaraan. Ada yang mengaku biasa-biasa saja, ada pula yang mengaku memperoleh sensasi menegangkan terlebih kalau terpampang perbedaan antara kedua belah pihak entah itu status sosial, pandangan politik, agama, budaya atau suku. Perbedaan umumnya mendasari mencuatnya konflik atau setidaknya begitulah yang terjadi dalam film mengenai kunjungan ke rumah calon mertua menyerupai dimunculkan di Guess Who’s Coming to Dinner (1967), Meet the Parents (2000), hingga The Journey (2014). Mengedepankan perbedaan sebagai sumbu konflik, ada satu kesamaan yang menjembatani ketiga film ini: kesemuanya digulirkan secara komedik. Versi terbaru untuk pengalaman berkunjung yang dikreasi oleh Jordan Peele – seorang pelawak dari duo Key & Peele – berjudul Get Out (2017) pun mulanya mengisyaratkan akan mengambil jalur serupa mengingat latar belakang si pembuat film. Memang elemen komedinya masih pekat, hanya saja genre horor lah yang dikedepankan Peele untuk melantunkan penceritaan dalam Get Out. Sebuah pendekatan menarik yang rasa-rasanya akan menciptakan kunjungan ke rumah calon mertua serasa kian menegangkan.

Pasangan yang berkemas-kemas menunaikan kunjungan di Get Out yaitu Chris Washington (Daniel Kaluuya) dan Rose Armitage (Allison Williams). Berbeda ras; Chris berkulit hitam, sementara Rose berkulit putih, menciptakan Chris sempat was-was saat diundang untuk mengunjungi keluarga sang kekasih. Dalam upayanya menenangkan Chris, Rose sendiri menegaskan bahwa kedua orang tuanya tidaklah rasis yang dibuktikan salah satunya dengan pernyataan akan menentukan Obama sebagai Presiden untuk ketiga kalinya. Tentu Chris tidak semudah itu diyakinkan. Masih diliputi kekhawatiran, beliau mencoba mengontrolnya demi menghindarkan Rose dari kekecewaan. Sesampainya mereka di rumah orang renta Rose yang lokasinya terbilang terisolasi, kecemasan Chris sempat mereda begitu mendapati calon mertuanya, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener), menyambutnya dengan tangan terbuka. Seperti halnya Rose, keduanya pun berupaya meyakinkan Chris bahwa mereka tidak memiliki kecenderungan rasis dan bersedia menentukan Obama sekali lagi. Tidak menemukan sesuatu yang salah dari Dean maupun Missy kecuali ada kalanya mereka tampak terlalu ramah, Chris justru menjumpai kejanggalan dari dua pelayan kulit gelap di rumah itu. Dari mereka, ketidakberesan keluarga Armitage sanggup diendusnya dengan jelas. Kekhawatiran Chris kembali mengemuka dan balasannya terkonfirmasi pada satu malam tatkala beliau berjalan ke pekarangan rumah untuk menyalakan sebatang rokok. 

Dalam mempermainkan rasa takut penonton, Jordan Peele enggan untuk menerapkan konsep “geber saja jump scares sebanyak mungkin.” Meski bukannya tidak tersedia, keberadaan trik lama tersebut di Get Out sanggup dihitung memakai jemari tangan. Ketimbang menciptakan kita terlonjak dari bangku bioskop untuk sesuatu yang tidak perlu, Peele lebih suka membangun kengerian melalui emosi yang tumbuh bersama sang protagonis serta nuansa mengusik ketidaknyamanan yang intensitasnya terbangun setapak demi setapak. Resep dalam membangun kengerian yang dijumput si pembuat film bahu-membahu bukan juga sesuatu gres yakni “kamu sanggup mencium adanya sesuatu yang tidak benar di sekelilingmu, tetapi kau tidak sanggup melihatnya”. Yang memberikannya kesegaran, ada taburan warta rasisme diatasnya. Tengok saja pada satu momen di titik lontar film sebelum judul menyelinap masuk: seseorang berjalan sendirian dalam kegelisahan di perumahan pinggir kota yang sunyi pada suatu malam, kemudian sebuah kendaraan beroda empat membuntutinya. Sepintas tampak klise alasannya teror semacam ini kerap dipergunakan di genre horor. Pembedanya, sekali ini korban bukanlah seorang wanita melainkan pria muda berkulit hitam. Dimulai sejak menit pembuka, Peele telah mempergunakan Get Out sebagai medium untuk melontarkan komentar sosial. Bukan sebentuk keluhan melainkan lebih ke cerminan atas realita di Amerika Serikat yang kian tak bersahabat bagi warga kulit berwarna. Ini pun seringkali disempalkan dalam wujud satir menggelitik atau malah subteks sehingga atensi penonton tidak terpecah dan tidak pula mendistraksi bangunan terornya.


Selepas adegan pembuka yang terbingkai mencekam, Get Out mengalun santai. Kita berbasa busuk bersama Chris dan Rose, serta diperkenalkan pula dengan mitra baik Chris, Rod (Lil Rel Howery), yang nantinya bukan saja memegang peranan dalam melemaskan urat-urat tegang penonton dengan banyolan-banyolan segarnya tetapi juga berkontribusi ke pergerakan kisah. Begitu kendaraan yang ditumpangi Chris dengan Rose dalam perjalanan menuju rumah orang renta Rose menabrak seekor rusa kemudian mendatangkan seorang polisi yang gigih meminta kartu identitas Chris, eskalasi ketegangan mulai terpampang nyata. Pertambahannya terus terdeteksi seiring Chris menjejakkan kakinya di rumah sang calon mertua. Keramahan Dean beserta Missy kadang tampak terlalu dibuat-buat, sementara kedua pelayan berkulit hitam di rumah tersebut; Georgina (Betty Gabriel) dan Walter (Marcus Henderson) menunjukkan emosi kolam robot – kelewat terkontrol secara laris dan tutur. Berada dalam situasi ganjil semacam ini, siapa tak merasa was-was? Belum lagi saat rombongan tamu yang memeriahkan pesta keluarga Armitage yang kesemuanya berkulit putih berdatangan. Chris terjebak di kerumunan tamu dengan warna kulit sama sekali berbeda dan rentang usia terpaut cukup jauh yang mengaguminya secara tidak masuk akal termasuk menyinggung soal kehebatannya di atas ranjang. Bukankah ini amat sangat mengganggu? Seperti saat kita terjebak bersama kerabat yang tidak dikenal bersahabat kemudian mereka memberondong kita dengan serentetan pertanyaan bersifat personal. Sebuah kisah horor yang sesungguhnya. 


Chris sangat sanggup mencicipi ada sesuatu yang salah disini tetapi tidak sanggup menyebutkan dimana letak kesalahannya. Dimainkan amat baik oleh Daniel Kaluuya, sosoknya gampang menjerat simpati dari penonton. Ketika seorang kulit gelap lain secara misterius tiba-tiba memintanya untuk meninggalkan kediaman keluarga Armitage, kita pun berharap Chris bersedia menurutinya sekalipun tidak mungkin bakal dikehendaki si pembuat film alasannya si protagonis utama gres sekadar mengalami teror secara psikis – dan film gres separuh jalan. Saya tidak akan memberi paparan lebih lanjut terkait kecacatan apalagi yang menyergap Chris demi menjaga kenikmatanmu dalam menonton. Satu hal yang jelas: ada diam-diam mengerikan tersembunyi dibalik topeng-topeng anggun yang dikenakan oleh keluarga Armitage. Benarkah mereka tidak rasis? Bukankah ada kalanya mereka yang mengaku demikian justru lebih patut diwaspadai ketimbang mereka yang secara terang-terangan bertindak rasis? Performa mengesankan dari Bradley Whitford, Catherine Keener, Caleb Landry Jones (memerankan saudara Rose), Betty Gabriel, serta Allison Williams menciptakan kita yakin sepenuhnya bahwa mereka bukanlah keluarga kelas menengah biasa. Ditunjang iringan musik ngehe gubahan Michael Abels, Get Out kian membangkitkan sensasi merinding terutama sedari satu fakta dibongkar oleh Rod. Kegelisahan yang terus menerus mengusik balasannya mencapai puncaknya di babak epilog yang menghadirkan pertunjukkan berdarah nan memuaskan. Memiliki muatan teror mencekam, kunjungan ke rumah calon mertua bersama Jordan Peele di Get Out pun meninggalkan pengalaman mengasyikkan bagi para penikmat film horor.

Outstanding (4/5)