October 20, 2020

Review : Ghost In The Shell


“They created me. But they can not control me.” 

Sekalipun Astro Boy (2009), Dragonball Evolution (2009), serta Speed Car (2008) mengantongi resepsi tak memuaskan dari kritikus maupuk publik, agaknya Hollywood masih belum juga jera untuk mengejawantahkan goresan-goresan gambar komikus Jepang ke dalam medium audio visual sesuai citra mereka. Malahan Hollywood pun terbilang amat percaya diri terbukti dari keberanian mereka mempersiapkan beberapa judul pembiasaan dari manga/anime lain untuk stok di masa mendatang sekaligus menafsirkan ulang Ghost in the Shell yang dikenal mempunyai muatan kisah cukup njelimet. Ya, proyek film Ghost in the Shell – menurut manga bertajuk serupa hasil karya Masamune Shirow rilisan dua dekade silam yang lantas disesuaikan pula ke anime – yang sejatinya telah dicanangkan semenjak usang karenanya berhasil diwujudkan juga oleh Paramount Pictures dengan menempatkan Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman) dibalik kemudi. Jalannya pun tidak juga mulus, sempat diwarnai kontroversi atas pemilihan Scarlett Johansson sebagai pemain drama utama yang notabene berdarah Jepang (whitewashing!), walau bagi saya eksklusif penunjukkan Sanders untuk mengomandoi Ghost in the Shell versi Hollywood semestinya lebih dikhawatirkan ketimbang perekrutan Johansson mengusut apa yang telah dilakukannya di film terdahulu.

Penceritaan Ghost in the Shell mengambil latar beberapa tahun ke depan di kota tanpa nama kala teknologi telah amat maju yang memungkinkan adanya pencangkokkan otak insan dalam badan robot. Salah satu korporasi yang ulet membuatkan robot dengan kecerdasan buatan yaitu Hanka Robotics. Berbagai eksperimen belakang layar untuk menyempurnakan robot buatan mereka telah dilaksanakan puluhan kali dengan hasil mengecewakan hingga karenanya Dr. Ouelet (Juliette Binoche) dan CEO Hanka, Cutter (Peter Ferdinando), berhasil membuatkan produk tepat dalam wujud Mira Killian (Scarlett Johansson). Setahun berselang sedari dilahirkan ke dunia, Mira dipercaya untuk menempati posisi Mayor dalam tim keamanan anti terorisme, Section 9, dibawah kepemimpinan Chief Daisuke Aramaki (Takeshi Kitano). Bersama dengan Batou (Pilou Asbæk), Mira ditugaskan untuk menelusuri rencana kejahatan terhadap Hanka Robotics yang belakangan diketahui digawangi oleh seorang hacker berjulukan Kuze (Michael Pitt). Di tengah-tengah penyelidikannya terhadap Kuze, Mira kerap dibayangi kelebatan-kelebatan misterius dari masa kemudian yang kemudian mendorong Cutter untuk menghentikan langkah Mira. Mencoba pula mencari tahu kebenaran dibaliknya, Mira justru memperoleh paparan fakta mengejutkan dari sesosok yang tidak pernah disangka-sangka olehnya.

Keragu-raguan atas kapabilitas Rupert Sanders dalam menangani materi senjelimet yang dipunyai Ghost in the Shell, sayangnya harus terbukti. Tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukannya pada Snow White and the Huntsman, Sanders pun lebih mengedepankan soal tampilan ketimbang substansi dalam Ghost in the Shell. Dampaknya yaitu film lezat buat dipandang mata namun tuturannya sulit buat meresap ke dalam hati. Ya, Ghost in the Shell terang sama sekali tidak kekurangan materi untuk menciptakan para penontonnya takjub kala mengamati parade visualnya yang imajinatif. Dari latar kota futuritisnya – tampak menyerupai perpaduan antara Jepang dengan Hong Kong – yang dipenuhi gemerlap neon disana sini dan dimeriahkan iklan berbentuk hologram raksasa, kemudian desain robot unik dengan salah satunya berbentuk Geisha yang bisa berkembang menjadi sebagai mesin pembunuh, hingga tentunya paras rupawan Scarlett Johansson yang sedikit banyak berhasil menghipnotis penonton untuk mengikuti sepak terjang Mira sekalipun tidak cukup mempunyai ketertarikan terhadap sosoknya dan performanya pun tak ada greget (oke, ini bias!). Namun dikala membicarakan soal jalinan pengisahan yang diusung, lain lagi ceritanya. Film tidak dibekali amunisi mencukupi semoga penonton sanggup terhanyut secara sukarela memasuki dunia Mira. 
Ghost in the Shell bersama-sama tawarkan materi kisah cukup menarik untuk diikuti. Si pembuat film memboyong kita ke dalam penyelidikan Mira terhadap suatu kasus yang lantas berganti dengan pencarian atas jati dirinya. Hanya saja ketiadaan daya cengkram menjadi sabab musabab dari ketidakmampuan menaruh ketertarikan pada guliran cerita. Disamping itu, masih semacam ada sekat yang membatasi kita untuk menjalin kekerabatan dekat bersama Mayor Mira. Tatkala kita tidak sanggup menginvestasikan emosi kepada tokoh kunci, sedahsyat apapun problem yang dihadapinya pun akan membal. Keinginan untuk mengetahui ujung dari kisah bukan lagi dipicu kepedulian terhadap nasib sang huruf utama melainkan tidak adanya lagi kesabaran tersisa dalam mengikuti proses. Pada akhirnya, diluar geberan visualnya yang memukau, Ghost in the Shell tidak lebih dari film yang kering, dingin, dan hambar. Keputusan untuk kelewat menyederhanakan penceritaan dengan menghempaskan pembicaraan soal eksistensialisme dan hiperrealitas yang sejatinya disodorkan oleh materi sumbernya, turut berkontribusi pada tergerusnya daya tarik Ghost in the Shell. Khalayak yang tiba memenuhi bioskop demi memperoleh tontonan yang bukan saja manis tetapi juga bernutrisi bagi otak bisa jadi akan kecewa. Bahkan buat mereka yang mengharap ini yaitu spektakel seru pun sebaiknya mengontrol ekspektasi alasannya yaitu tata laga di Ghost in the Shell tidaklah impresif. Malah terkadang sama malasnya dengan caranya menuturkan kisah.

Acceptable (2,5/5)