June 30, 2020

Review : Ghost Writer (2019)


“Lemes amat kayak nggak ada semangat hidup.”

“…”

“Semangat mati!”

“…”

“Ya semangat lah pokoknya.”

Seorang mitra pernah bersabda, “dari semua genre film, komedi dan horor termasuk yang paling sulit dibikin karena tawa dan takut itu subjektivitasnya paling tinggi.” Berhubung saya kerap menjumpai situasi dimana beberapa teman maupun pembaca ulasan mengajukan keberatan dengan menyatakan “ini nggak serem ah! Ini nggak lucu ah!” sementara saya mencicipi sensasi lucu dan menakutkan begitu juga dengan banyak penonton di bioskop, saya pun mengangguk setuju. Lebih sukar menjumpai film dari dua genre ini yang memperoleh resepsi anggun secara universal ketimbang genre lain semisal drama atau laga. Maka begitu mendengar Bene Dion Rajagukguk (sebelumnya menulis skrip untuk Suzzanna Bernafas dalam Kubur dan Stip & Pensil) mencoba untuk menggabungkan genre komedi dengan horor dalam debut penyutradaraannya, Ghost Writer, saya terperinci terkedjoet. Sebuah upaya yang terperinci sangat berani terlebih jarang-jarang ada sineas dalam negeri yang sanggup mengeksekusinya dengan baik. Malah, masih segar di ingatan, tandem ini memberi ‘mimpi buruk’ di permulaan abad 2010-an dikala marak diluncurkan film komedi horor berkualitas alamakjang yang menciptakan penonton lari tunggang langgang menjauhi bioskop. Menengok jejak rekam Bene, tentu sulit untuk membayangkan beliau akan menggarapnya sesuka hati walau terperinci ada sebersit keraguan di benak karena menyerupai telah dijabarkan sebelumnya, ini bukan perpaduan yang mudah. Jika Bene berhasil menaklukkannya, sudah barang tentu beliau seketika bergabung dalam jajaran “sutradara yang harus kau perhatikan.”

Ghost Writer yang didasarkan pada naskah racikan Nonny Boenawan (murid binaan sang produser, Ernest Prakasa, dalam kelas penulisan skenarionya) bersama Bene ini menempatkan seorang penulis berjulukan Naya (Tatjana Saphira) sebagai huruf utama. Usai tiga tahun lampau merilis sebuah novel yang disambut dengan sangat hangat oleh publik maupun kritikus, Naya tak kunjung terlepas dari kebuntuan ide yang menyulitkannya untuk mengkreasi karya anyar. Ini menjadi problem besar bagi Naya tatkala uang tabungannya semakin menipis sementara kebutuhan hidup terus meronta-ronta termasuk menyekolahkan sang adik, Darto (Endy Arfian), yang sebentar lagi mengenyam dingklik SMA. Writer’s block yang kerap menghantui Naya ini karenanya memperoleh solusi selepas Naya tanpa sengaja menemukan sebuah buku harian renta yang tergeletak di loteng. Dalam buku harian tersebut, Naya mendapati serentetan curahan hati bernada kelam, muram, serta penuh amarah dari si pemilik yang lantas menginspirasinya untuk diterjemahkan ke dalam bentuk prosa. Belum juga proses penulisan berjalan, Naya dikejutkan oleh kehadiran sesosok hantu, Galih (Ge Pamungkas), yang mengaku sebagai pemilik buku harian tersebut. Galih menolak dongeng masa lalunya yang merana dimanfaatkan oleh Naya untuk meraup untung. Berhubung Naya tengah membutuhkan uang, beliau pun bernegosiasi dengan Galih yang belakangan bersedia membantunya. Tapi usaha merampungkan novel ini tidak lantas berlangsung gampang karena terdapat hantu lain yang berupaya untuk menyingkirkan Naya.  


Premis menggelitik berbunyi, “bagaimana jadinya jikalau ternyata ada ghost writer (penulis sewaan yang namanya tidak dicantumkan dalam kredit) yang beneran ghost?”, yang diajukan oleh Ghost Writer nyatanya tak berakhir dengan sia-sia. Bene mengambarkan bahwa beliau ialah sutradara pendatang gres yang sangat layak untuk diperhitungkan di masa mendatang melalui kemahirannya memadukan tiga elemen berlainan: komedi, horor, serta drama. Memang betul teror yang dikedepankan oleh film ini tidak akan membuatmu mengkerut di kursi bioskop karena sebatas di level “ramah keluarga” dan tujuan utamanya pun bukan untuk menakut-nakuti penonton melainkan untuk menggerakkan narasi. Jika ada satu adegan paling mengerikan yang sanggup kau jumpai di sini, maka itu berafiliasi dengan pintu digedor-gedor dikala sedang nikmat-nikmatnya membuang hajat. Tanpa keterlibatan hantu sekalipun, kejadian semacam ini telah memperlihatkan definisi yang bekerjsama atas kata ‘horor’ di dunia faktual (ciyus!). Terdengar lawak? Begitulah semangat yang dijunjung tinggi oleh Ghost Writer. Berhubung Bene memiliki latar belakang sebagai komika, saya tidak terperanjat begitu mendapati kandungan komedi lah yang paling pekat di sini. Tidak semuanya tersampaikan secara efektif, bahkan ada kalanya terasa mendistraksi menyerupai duo Arie Kriting-Muhadkly Acho yang porsi tampilnya cenderung berlebih dan semestinya sanggup dihibahkan kepada huruf Bening (Asmara Abigail) yang kurang menerima sorotan. Namun dikala guyonan tersebut mengenai sasaran, bersiaplah untuk tergelak-gelak. Satu paling membekas di benak saya terperinci adegan chatting yang menjadi awal mula terbentuknya interaksi antara Naya dengan Galih. Sebuah interaksi lucu yang secara perlahan tapi niscaya bermetamorfosis hangat seiring berjalannya durasi.

Ya, Naya dan Galih membentuk korelasi lintas alam yang bersifat simbiosis mutualisme. Ketimbang mendera para penghuni rumah dengan teror hingga mereka terbirit-birit, Galih menentukan untuk berkawan dengan Naya. Pemicunya tidak dilandasi oleh cinta – Naya dikisahkan telah menjalin korelasi serius dengan seorang pemain drama berjulukan Vino (Deva Mahenra) – melainkan oleh kepedulian. Saya tidak akan menjabarkan secara detil mengenai latar belakang keduanya demi imbas kejut. Yang jelas, Bene memperlihatkan kepekaannya dalam meramu momen dramatik dengan memberi perhatian lebih terhadap tumbuh kembangnya korelasi dua huruf ini. Galih tidak ujug-ujug muncul kemudian mengiyakan penawaran Naya, tapi ada proses yang membawanya ke titik tersebut. Sebuah proses yang dijabarkan secara hati-hati sehingga tanpa sadar kita karenanya bersimpati kepada mereka. Adanya kepedulian terhadap karakter-karakter inti inilah yang menciptakan saya tak kuasa menahan air mata tatkala si pembuat film mengungkap sebuah kebenaran yang sekaligus bertujuan untuk memberikan pesan besar kepada penonton mengenai keluarga. Damn! Kesanggupan Ghost Writer dalam memenuhi potensinya ini tidak saja disebabkan oleh naskah beserta penyutradaraan yang solid, tetapi juga berkat permainan akting dari jajaran pemain yang mengagumkan. Tatjana Saphira membentuk chemistry padu bersama Ge Pamungkas yang rupanya mahir bersedu sedan, Deva Mahenra memberi keriaan sebagai pemain drama sinetron yang lebay, dan Endy Arfian tampil lucu sebagai adik Naya yang penakut.   

Exceeds Expectations (3,5/5)