October 20, 2020

Review : Ghostbusters


“It’s really easy sit there and be the naysayer when you don’t actually do anything.” 

Sebelum balasannya diputuskan sebagai reboot dengan konfigurasi pemain lini utama dirombak drastis – termasuk beralih gender yang kemudian ditengarai sebagai pemantik kontroversi di kalangan penggemar setia – pada mulanya Ghostbusters direncanakan menjadi film kelanjutan kedua dari film orisinil rilisan tahun 1984. Terkatung-katung selama bertahun-tahun lamanya karena pengembangan naskah yang rumit menyusul harapan hasil lebih baik dari film kedua, ketidaksetujuan salah satu pemain inti Bill Murray untuk bergabung, hingga meninggalnya Harold Ramis, memaksa Sony putar otak supaya proyek ini tetap berjalan sesuai rencana. Solusinya yakni reboot yang membutuhkan penantian sepanjang dua dasawarsa lebih untuk direalisasikan oleh Sony Pictures terhitung semenjak Ghostbusters II (1989). Dengan sang nahkoda dua jilid pertama, Ivan Reitman, menentukan menduduki bangku produser tanggung jawab penyutradaraan diserahkan kepada Paul Feig (Bridesmaids, Spy) yang kemudian merekrut aktris langganannya, Melissa McCarthy dan Nasrani Wiig, guna mengisi jajaran pemain bersama duo komedian, Kate McKinnon dan Leslie Jones. Hasilnya, sekalipun memperoleh saingan keras dari para penggemar bahkan jauh sebelum filmnya dirilis ke pasaran, nyatanya Ghostbusters versi Feig yakni salah satu tontonan animo berkadar hiburan paling tinggi tahun ini. 

Melissa McCarthy yakni Abby Yates, ilmuwan di sebuah universitas teknik bereputasi rendah yang mengkhususkan penelitiannya pada aktifitas paranormal bersama seorang insinyur nuklir bergaya eksentrik, Jillian Holtzmann (Kate McKinnon). Sejatinya, penelitian mereka tidak menghasilkan apapun hingga suatu ketika mereka mendapat panggilan dari mantan teman baik Abby yang telah usang menjauhi dirinya, Erin Gilbert (Kristen Wigg), karena satu dan lain lain hal – utamanya disebabkan kegagalan buku wacana eksistensi fenomena paranormal yang mereka tulis bersama dan Erin memutuskan mengabdi sebagai dosen di universitas bergengsi. Erin meminta proteksi Abby sesudah didatangi seorang laki-laki paruh baya yang menjumpai adanya keanehan di kawasan kerjanya. Meyakini bahwa inilah ketika paling sempurna untuk mengambarkan eksistensi aktifitas gaib, mereka bertiga pun meluncur ke lokasi kejadian. 

Benar saja, ada hantu wanita bergentayangan disana. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam kehidupan Abby, Jillian maupun Erin yang lantas menentukan meninggalkan lingkungan akademisi guna fokus terhadap penelitian soal hantu. Bergabung bersama mereka, yakni pekerja subway yang mengenal baik kota New York, Patty Tolan (Leslie Jones), dan cowok tampan namun agak bodoh, Kevin Beckman (Chris Hemsworth). Tidak butuh waktu usang bagi mereka untuk segera memulai penelitian, sekaligus bisnis, karena secara cepat berdatangan laporan soal gangguan-gangguan makhluk gaib. Banyaknya penampakan di New York belakangan diketahui jawaban ulah seseorang yang ingin kekuatan jahat mengontrol dunia dengan cara membuka portal alam lain. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan dunia dari marabahaya ini yakni Ghostbusters – julukan untuk keempat wanita pembasmi hantu tersebut, minus Kevin yang bertindak selaku resepsionis. 

Well, well, well. Agaknya gerakan memboikot versi termutakhir Ghostbusters dari para purist di negeri Paman Sam cenderung berlebihan usai menyaksikan secara penuh film ini karena Ghostbusters bukanlah reboot yang buruk. Malah, sama sekali tidak buruk. Direntangkan sepanjang dua jam, Feig memberimu semua kesenangan yang diperlukan oleh sajian animo panas. Sebutkan saja apa yang kau inginkan: humor lucu? Bertebaran di setiap sudut. Parade agresi seru? Kamu akan menjumpainya ketika Ghostbusters memulai pembasmian hantu dengan highlight ada di konser metal dan titik puncak gegap gempita yang akan membuatmu bersyukur teknologi telah sedemikian maju ketika ini. Hmmm… karena mengandung unsur mistis, sesuatu yang seram atau menegangkan? Tentunya, meski jangan harap akan semeneror Valak mengingat bagaimanapun juga ini yakni suguhan komedi. Chemistry jago dari ansambel pemainnya? Tersedia. Tunggu, tunggu, chemistry hebat? Apakah itu berarti barisan pelakonnya menyuguhkan akting memuaskan? 

Ya, apabila kau termasuk yang menentang penunjukkan Melissa McCarthy dan konco-konco sebagai pengganti Bill Murray beserta rekan-rekan nerdy-nya semenjak awal, bersiaplah untuk mendengus kesal. Kenyataannya, McCarthy, Wiig, McKinnon dan Jones merupakan kombinasi yang jitu. Mereka mengalirkan energi positif kala dipersatukan di layar sehingga memberi sensasi asyik menyaksikan keempatnya berinteraksi, sedangkan ketika dilepas untuk bangun sendiri-sendiri pun mereka tetap tangguh. Dan, empat wanita ini bukanlah satu-satunya yang membawa kehidupan pada Ghostbusters karena para pemain pendukung plus gugusan cameo-nya perlu tak kalah mahirnya membuat gol indah. Chris Hemsworth, dalam tugas yang tak pernah terbayangkan akan dimainkannya, mampu menanganinya seolah tanpa kesulitan berarti. 

Seperti halnya Leslie Jones, kemunculannya senantiasa dinanti-nanti karena selalu ada tawa renyah yang menyertainya. Bagian terbaik yang menonjolkan comedic timing juara dari Chris yakni wawancara kerja Kevin yang berlangsung menggelikan dan khusus Leslie terletak pada penangkapan hantu di konser metal. Lalu, Ghostbusters masih memiliki seabrek cameo menghibur yang dominan diisi oleh cast film aslinya ibarat Bill Murray, Dan Aykroyd, Ernie Hudson, Sigourney Weaver, serta Annie Potts. Kehadiran mereka semakin meningkatkan level keasyikkan film yang sejatinya bahkan sudah tinggi. 

Note : Jika di bioskop terdekat juga menayangkan Ghostbusters dalam format SphereX 3D, pilih opsi tersebut. Percayalah, Ghostbusters akan memberikanmu pengalaman menonton film 3D terbaik yang pernah kau rasakan!

Outstanding (4/5)