July 2, 2020
2019 / Film / REVIEW / US

Review : Glass


“We are part of something larger. We are fighting for the broken.”

Bagaimana jadinya kalau ternyata selama ini superhero dan supervillain yang kita kenal melalui komik memang benar-benar ada? Mereka yakni orang yang kita jumpai di jalanan, mereka yakni orang yang kita kenal, dan bahkan, mereka yakni keluarga kita. Mereka bertindak menyerupai orang kebanyakan alasannya yakni mereka belum menyadari kekuatan yang dimiliki dan menganggap kisah dalam komik hanyalah imajinasi dari seorang pencerita ulung alih-alih merepresentasikan kejadian nyata. Melalui Unbreakable (2001), M. Night Shyamalan yang dijuluki sebagai “ahli twist” mengeksplorasi pengandaian ini menjadi sebuah narasi yang kala itu terbilang ciamik sampai-sampai disebut mendeskrontruksi genre superhero. Tak ada pahlawan berjubah yang perkasa dan bisa diandalkan kapanpun, si pembuat film justru menyodorkan kisah berpendekatan realistis dengan abjad utama seorang laki-laki paruh baya yang tak tahu menahu mengenai jati dirinya. Mengingat Shyamalan tak pernah sesumbar soal origin story dari superhero, babak pengungkapan dari tontonan thriller ini memperlihatkan kejutan tersendiri. Begitu pula dengan Split (2017) yang ternyata oh ternyata bukanlah psychological horror biasa alasannya yakni ini merupakan kelanjutan ‘tersembunyi’ dari Unbreakable yang menaruh fokus pada lahirnya seorang supervillain. Berhubung sang sutradara telah bermimpi sedari usang untuk mengkreasi sebuah trilogi berbasis kisah kepahlawanan, maka kesuksesan besar Split dimanfaatkannya sebagai jalan untuk mewujudkan babak ketiga bertajuk Glass yang digadang-gadang mempunyai showdown epik. Tapi bisakah pernyataan ini dipercaya?

Dalam Glass, penonton sekali lagi dipertemukan dengan Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) yang mempunyai 24 kepribadian termasuk “The Beast” yang buas kolam binatang liar, kemudian David Dunn (Bruce Willis) yang tubuhnya tahan banting serta bisa mengenali masa kemudian seseorang melalui sentuhan tangan, dan Elijah “Mr. Glass” Price (Samuel L. Jackson) yang tulang-tulangnya gampang patah. Ketiga abjad ini kesannya saling bersinggungan sehabis mereka ditempatkan dalam sebuah rumah sakit jiwa dimana Elijah telah mendiami daerah tersebut semenjak penghujung kisah Unbreakable. David yang selama ini bergerilya dalam menjalankan tugasnya sebagai pembasmi kejahatan turut ditangkap usai dirinya kedapatan tengah bertarung melawan Kevin dalam upayanya menggagalkan planning pembunuhan terhadap sejumlah dewasa perempuan. Ada dua alasan yang menciptakan pihak berwajib memutuskan untuk menahan David yang selama dianggap sebagai pahlawan; 1) beliau berlagak menyerupai hakim tanpa disertai bukti kuat, dan 2) beliau dianggap mempunyai gangguan kejiwaan “delusions of grandeur” karena menyatakan dirinya mempunyai kekuatan melebihi insan normal. Dibawah pengawasan seorang psikiater berjulukan Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson), ketiganya memperoleh perawatan yang bertujuan untuk mengenyahkan pemikiran bahwa mereka yakni manusia-manusia perkasa. Bertujuan supaya ketiganya sanggup bertindak lagi selayaknya insan normal. Ditengah perjuangan Ellie dalam ‘meluruskan’ pemikiran para pasiennya ini, Elijah belakang layar merencanakan sesuatu yang besar demi mengungkap kepada dunia mengenai keberadaan insan perkasa menyerupai David dan Kevin.


Sebagai sebuah film yang dipersiapkan menjadi babak pamungkas dari trilogi yang mempunyai dua film kece, sayangnya Glass terasa kurang ‘wah’. Showdown epik yang dijanjikan urung hadir, dan sejujurnya aku pun tak pernah berharap banyak mengingat film ini hanya memperoleh suntikan dana sebesar $20 juta yang tentunya tak cukup memadai untuk mengkreasi gegap gempita. Terlebih lagi, portofolio Pak Shyamalan dalam menggarap film langgar semacam The Last Airbender (2010) dan After Earth (2012) pun jauh dari kata menggembirakan. Lempeng selempeng lempengnya. Makara apakah masih bisa dibilang berlebihan kalau aku mendamba Glass bakal dikaruniai momen langgar yang mengasyikkan? Tentu tidak dan apabila ada penonton yang berekspektasi demikian pun aku tidak bisa menyalahkannya. Betapa tidak, Shyamalan telah sesumbar dengan menyebut film ini sebagai tontonan unik, menarik, dan tentunya, besar. Tiga kata sifat yang kesemuanya agak kurang cocok untuk dialamatkan kepada Glass. Saya tidak akan menyebutnya sebagai sajian yang jelek toh diri ini masih cukup menikmatinya. Selama durasi mengalun sepanjang 128 menit – dan ini sejatinya bisa dipangkas sekitar 20 menit tanpa harus menghilangkan esensinya – ada beberapa momen yang sempat menciptakan aku bersedia untuk menempatkan atensi pada layar lebar. Momen terbaik dalam Glass, setidaknya bagi saya, bisa dijumpai pada belasan menit pertama ketika David kesannya bisa melacak keberadaan Kevin, pada pertengahan durasi dimana Ellie mengeluarkan hipotesanya di hadapan tiga abjad utama, dan pada babak titik puncak tatkala Elijah mulai memperlihatkan planning besarnya.

Ya, bukan ketika film dipenuhi dengan percakapan-percakapan yang kurang menarik untuk didengarkan atau ketika si pembuat film mencoba unjuk kebolehan dalam mengkreasi adegan langgar yang nyatanya “gitu doang”, Glass berada di titik terbaiknya ketika elemen suspense yang memang menjadi keahlian dari Shyamalan menampakkan keberadaannya. Dan elemen ini sanggup terdeteksi melalui momen-momen terbaik yang telah aku sebutkan yang nyaris kesemuanya terletak di permulaan dan penghujung film, sementara pertengahan durasi yang kekurangan tenaga menjadi semacam dongeng pengantar tidur. Disamping keberadaan elemen suspense, hal terbaik lain yang bisa dijumpai dari Glass yakni performa jajaran pemainnya yang lumayan khususnya James McAvoy yang tampak bersenang-senang dengan kiprahnya yang sekali ini mempersilahkannya untuk memainkan lebih banyak kepribadian ketimbang ketika beliau berlakon dalam Split. Tidak sebatas menekankan pada gestur maupun mimik muka, McAvoy turut memberi perubahan pada intonasi bunyi sehingga penonton sanggup mengenali kepribadian mana yang tengah mengambil alih ‘cahaya’ milik Kevin. Berkat permainan lakon ini – oh, kredit khusus juga patut disematkan pada Samuel L. Jackson yang bikin gregetan! – ditambah adanya daya cekam di beberapa titik sedikit banyak membantu menyelamatkan Glass dari kemungkinan pecah berkeping-keping. Memang sih film ini tidak seunik, semenarik, serta sebesar yang dijanjikan terlebih kita hidup di masa dimana superhero movies telah sangat umum dengan ragam pendekatan. Tapi setidaknya film ini masih mempunyai setitik keunggulan yang membuatnya sanggup dinikmati, setidaknya itu bagi aku yang tidak pernah berekspektasi lebih pada Glass.
    

Acceptable (3/5)