June 29, 2020

Review : Godzilla: King Of The Monsters


“Long live the king.”

Raja Kaiju yang telah belasan tahun terlelap balasannya dibangunkan kembali oleh Legendary Pictures demi memenuhi ambisi mereka dalam merengkuh pundi-pundi dollar. Ya, pasca Godzilla (1998) yang dinilai gagal karena kurang merepresentasikan monster ikonik asal Negeri Sakura dan terlalu bergaya Hollywood, mereka mencoba memperbaikinya melalui versi upgrade yang dilepas di tahun 2014. Meski beberapa pihak menilai elemen drama manusianya kelewat kental sampai-sampai menggerus porsi tampil Gojira, tak sanggup dipungkiri kalau versi anyar ini mencetak sukses. Dari mulanya hanya terpikir untuk membuat standalone movie, pihak studio lantas mengekspansinya menjadi sebuah franchise berjulukan MonsterVerse yang diniatkan untuk mencapai puncaknya dalam pertarungan akbar yang memertemukan monster berukuran gigantis yang punggungnya bergaya Mohican mirip stegosaurus ini dengan monyet raksasa yang bersemayam di pedalaman berjulukan Kong. Namun sebelum kita menyaksikan Godzilla vs. Kong yang direncanakan rilis pada tahun depan, kita terlebih dahulu disuguhi Kong: Skull Island (2017) yang memaparkan latar belakang si Kong dan Godzilla: King of the Monsters yang difungsikan untuk mengelaborasi mitologi-mitologi terkait Godzilla yang telah diperkenalkan pada lima tahun silam. Guna memenuhi hukum tak tertulis dari sebuah sekuel, maka Michael Dougherty (Trick r Treat, Krampus) pun memperbesar cakupan skala dengan menambah partisipan dalam pertarungan monster.

Disamping Godzilla yang sudah barang tentu menjadi jualan utama film, Godzilla: King of the Monsters turut mempertemukan kita dengan sederet monster legendaris yang dulunya kerap wara-wiri dalam sejumlah instalmen Gojira produksi Toho. Beberapa nama yang ikut berpartisipasi di jilid kedua ini antara lain: 1) King Ghidorah yang berwujud naga berkepala tiga dengan kekuatan berupa sengatan listrik, 2) Mothra yang mempunyai keanggunan seekor kupu-kupu, dan 3) Rodan yang mirip reptil terbang dari masa purbakala. Kebangkitan monster-monster lawas yang dulunya menguasai bumi berjulukan Titan ini bermula dari planning seorang ekoteroris, Kolonel Alan Jonah (Charles Dance), untuk memperbaharui tatanan bumi yang dianggapnya telah carut marut jawaban tingkah polah insan yang tidak bertanggung jawab. Demi memenuhi tujuannya dalam membuat kehancuran di seantero planet semoga bumi mempunyai kesempatan untuk memulai segalanya dari awal, Alan pun menculik seorang ilmuwan yang tengah berduka, Dr. Emma Russell (Vera Farmiga), beserta putrinya, Maddison (Millie Bobby Brown), untuk memperoleh kanal ke sebuah alat berjulukan Orca yang konon sanggup mengontrol tindak tanduk para monster. Organisasi Monarch yang mengetahui planning wangi teroris-teroris ini lantas merekrut mantan suami Emma, Mark (Kyle Chandler), yang memahami betul mengenai Orca maupun sikap monster. Walau awalnya cenderung ogah-ogahan, Mark balasannya bersedia untuk bekerja sama dengan Monarch dalam menyelamatkan tidak hanya keluarganya tetapi juga umat insan yang nasibnya tengah berada di ujung tanduk menyusul bangkitnya Ghidorah.


Seolah mendengar segala keluhan yang kerap didengungkan oleh para penggemar berat Gojira alasannya yaitu si huruf tituler hanya diberi kesempatan seuprit buat nongol di Godzilla (2014), Godzilla: King of the Monsters berupaya untuk menebus kesalahan dengan menggeber sejumlah pertarungan antar monster dan pemandangan berupa bangunan-bangunan yang didestruksi oleh kawanan Titan di beberapa titik durasi. Bagi mereka yang menggilai Kaiju, apa yang disajikan oleh film ini terperinci akan membuat hati terasa bungah. Lagian, apa sih yang diperlukan dari monster movie selain menyaksikan makhluk-makhluk ganas ini saling melengking satu sama lain, sabung tonjok, hingga sabung jurus-jurus andalan mirip Godzilla yang melontarkan atomic breath yang sensasional ke lawannya? Ditengok sepintas, Godzilla: King of the Monsters terkesan enggan ribet dengan sebatas memenuhi ekspektasi penonton untuk menyimak para Titan mengobrak-abrik perkotaan mirip dilakukan oleh para pendahulu. Saya juga tidak mengeluhkan pendekatan ini alasannya yaitu memang sejatinya itulah yang semestinya kita peroleh dari film mengenai Gojira. Berhubung efek khusus yang menyokongnya tergolong ciamik, musik pengiringnya yang dahsyat memberi penghormatan terhadap skoring ikonik jilid terdahulu, dan sang sinematografer juga mempersembahkan beberapa tangkapan gambar yang layak dipajang di akun One Perfect Shot, tidak ada keraguan untuk menyampaikan bahwa tontonan ini menghadirkan pengalaman sinematik cukup mumpuni. Penonton awam akan sesekali mengucap “wih” begitu kuartet monster beraksi, sementara penggemar berat terperinci akan berdecak kagum melihat idola mereka unjuk gigi.

Hanya saja, ditengah segala keriuhan pertarungan, Godzilla: King of the Monsters ternyata menderita duduk masalah senada seirama dengan predesesornya yaitu narasi. Beberapa pihak mungkin berkata, “ngapain sih kau nyariin plot manis dari film soal monster mengamuk?” dan saya terperinci melihat poinnya. Tapi sulit untuk tidak terdistraksi ketika si pembuat film menempatkan penceritaan sebagai bab yang krusial dari film. Alih-alih menyodori kita dengan jalinan pengisahan yang remeh temeh nan klise, Dougherty beserta Zach Shields yang memegang divisi penulisan skenario malah menghadirkan narasi yang mencoba untuk sebisa mungkin kompleks dengan membagi sorotan kepada tim ekoteroris, tim Monarch, dan tim Russell. Apabila naskah menyanggupi untuk mengakomodir segala konflik tersebut, film terperinci berpotensi menggerus emosi. Namun realitanya ternyata tidaklah demikian karena: 1) para karakternya mempunyai motivasi yang membingungkan (khususnya Emma yang sangat tidak konsisten karakterisasinya), 2) dialognya acapkali konyol serta lebih bersifat eksposisi untuk menjelaskan setiap masalah ketimbang terdengar mirip obrolan konkret antar manusia, dan 3) naskah kesusahan dalam memilih prioritas penceritaan sehingga setiap konflik tak pernah tergali mendalam apalagi mempunyai rasa. Ketiadaan rasa yang menyebabkan narasi terasa sangat dingin ini menyampaikan pengaruhnya tatkala film mengalihkan fokusnya dari monster-monster mengamuk ke drama manusia. Saya jenuh, saya juga terjangkit kantuk. Ini kemudian berubah menjadi masalah signifikan karena porsinya tidaklah sedikit serta kerap disempalkan di sela-sela pertarungan yang berimbas pada menurunnya kesenangan. Menilik imbasnya, saya malah berharap Godzilla: King of the Monsters hanya fokus ke adegan laga yang memang menjadi keunggulannya dengan sejumput narasi ala film kelas B daripada memaksakan diri untuk memainkan emosi tapi malah membuat penonton pening saking tidak meyakinkannya.

Note : Godzilla: King of the Monsters mempunyai adegan pelengkap di penghujung durasi. Tidak terlalu penting jadi ditinggal pun tidak jadi soal.

Acceptable (3/5)