July 2, 2020

Review : Goosebumps 2: Haunted Halloween


“Let me get this straight. We’re living a Goosebumps story right now?” 

Sebagai seorang bocah yang tumbuh besar ditemani rangkaian dongeng menakutkan Goosebumps rekaan R.L. Stine, saya tentu senang tatkala Sony Pictures mengumumkan planning untuk memboyong Goosebumps ke format film layar lebar. Baru membayangkan para monster rekaan Stine berkeliaran di depan mata saja sudah bikin berjingkat-jingkat apalagi dikala menontonnya di bioskop. Nostalgia masa kecil menyeruak! Dan untungnya, versi film panjang yang dilepas pada tahun 2015 silam ini tak mengecewakan dan terbilang mengasyikkan buat ditonton. Memenuhi segala pengharapan yang sanggup disematkan untuk tontonan ini. Ada Slappy si boneka ventriloquist yang licik beserta konco-konconya sesama monster menebar teror yang cukup mengerikan bagi penonton cilik, ada petualangan seru dua dewasa ditemani oleh Stine (diperankan oleh Jack Black) dalam upaya mereka menyelamatkan dunia dari cengkraman monster-fiktif-menjadi-nyata ini, dan tentunya, ada humor menggelitik yang menyertai. Narasinya yang menempatkan manuskrip Stine sebagai sumber mencuatnya musibah harus diakui cukup kreatif sehingga memungkinkan si pembuat film untuk mempertemukan penonton dengan karakter-karakter favorit dari banyak sekali judul yang sejatinya tak saling berkaitan. Syukurlah, upaya untuk mempertahankan legacy dari Goosebumps ini memperoleh sambutan hangat baik dari kritikus maupun penonton, jadi kehadiran sebuah sekuel pun tak terelakkan dan saya terang sama sekali tak merasa keberatan. Saya malah ingin franchise ini terus berkembang! 

Dalam sekuel yang mengaplikasikan tajuk Goosebumps 2: Haunted Halloween, penonton disodori bahan penceritaan yang bangkit sendiri dan tak memiliki koneksi dengan film terdahulu – jadi bila kau belum menonton seri pertamanya pun tak jadi soal. Para dewasa berakal baligh di instamen pertama tak lagi muncul, begitu pula dengan Stine (damn!), sebab posisi huruf utama sekali ini diserahkan kepada dua sahabat, Sonny (Jeremy Ray Taylor) dan Sam (Caleel Harris), beserta abang Sonny, Sarah (Madison Iseman). Pertautan ketiga huruf ini dengan dunia Stine dimulai usai Sonny dan Sam yang mengisi waktu luang sebagai pembersih sampah menerima panggilan untuk mengenyahkan barang-barang di sebuah rumah terbengkalai yang belakangan diketahui pernah dihuni oleh Stine. Tatkala mengumpulkan rongsokan, dua sahabat ini menemukan sebuah peti berisikan manuskrip yang digembok. Dasar bocah, alih-alih ditinggalkan begitu saja, mereka justru membukanya dan Slappy pun muncul secara mendadak. Belum berhenti hingga di situ, mereka juga membaca sebuah mantra yang terselip di kantong Slappy. Mulanya sih tak terjadi apa-apa (FYI, Slappy ditemukan menyerupai boneka pada umumnya), hingga Slappy menampakkan wujud hidupnya kepada Sonny dan Sam. Sebagai bentuk ‘balas budi’, Slappy berjanji akan menjadi anggota keluarga yang baik dan membantu keduanya – yang kita ketahui bersama bahwa itu hanyalah kebohongan belaka. Dan memang tak berselang lama, serangkaian insiden gila pun terjadi sampai-sampai Sarah pun ikut turun tangan membantu adiknya guna menghentikan Slappy karena keselamatan keluarga mereka dan warga kota menjadi taruhannya.
Seperti halnya sang kakak, Goosebumps 2: Haunted Halloween pun masih menyampaikan sajian menghibur bagi seluruh anggota keluarga. Sebagai penggemar karya si pengarang, tentu ada kebahagiaan tersendiri sanggup menyaksikan tingkah polah Slappy dari Boneka Hidup Beraksi yang ngeselin, nyeremin, sekaligus nggemesin di waktu bersamaan. Ada kebahagiaan pula melihat monster-monster kreasi Stine menyerupai insan serigala dari Manusia Serigala Rawa Demam, insan salju dari Misteri Manusia Salju, hingga orang-orangan sawah dari Teror Orang-orangan Sawah – walaupun kesemuanya telah diperkenalkan melalui film pertama. Selain parade para monster yang membuat kekacauan disana-sini diorkestrai oleh Slappy, kesenangan yang muncul di film kedua ini dipersembahkan oleh interaksi yang mencuat diantara kedua pemain utamanya. Jeremy Ray Taylor dan Caleel Harris bermain lepas sekaligus memberi kesan kepada penonton bahwa mereka memang akrab sehingga gampang bagi penonton untuk bersorak sorai mendukung keduanya dalam menghentikan planning anyir si boneka hidup. Harus diakui, para bocah ini memang suguhkan performa kompeten tapi itu sama sekali tak cukup untuk menambal kekosongan akhir minimnya porsi tampil Jack Black yang sebatas cameo. Kita membutuhkan kehadiran R.L. Stine versi rekaan lebih dari sebatas pendekar kesiangan. Duh! Terlebih, relasi benci-cinta antara dirinya dengan Slappy merupakan potongan terbaik dari seri terdahulu yang semestinya sanggup dieksplorasi di sini mengingat ‘si anak yang dicampakkan’ memutuskan untuk membalas dendam dengan berburu keluarga baru. Materi yang menarik, mengusik kenyamanan, dan creepy yang sayangnya tak dikembangkan. 

Alih-alih mengkreasi narasi yang lebih kompleks dengan pertaruhan yang menjulang selaiknya film kelanjutan pada umumnya, Goosebumps 2: Haunted Halloween malah sebatas mengkreasi ulang apa yang telah disodorkan di film terdahulu. Portal menuju dunia Stine terbuka, para monster yang dipimpin oleh Slappy bebas berkeliaran kemudian membuat masalah, dan pahlawan-pahlawan kita yang masih ABG pun bersatu padu untuk menghentikannya. Familiar? Saya langsung tidak ambil pusing apabila sebuah sekuel mengedepankan narasi senada dengan film sebelumnya – selama masih bekerja dan menghibur, why not? – hanya saja Ari Sandel (The DUFF, When We First Met) tak memberi banyak sentuhan menyegarkan bagi film arahannya ini. Malah, bujet cekak yang digelontorkan oleh pihak studio terlihat sangat membatasi kreativitasnya di sini sehingga film acapkali tampak murah (polesan CGI kasar yaitu salah satu buktinya) serta seakan-akan direncanakan untuk masuk ke bioskop pada menit-menit terakhir. Saya sanggup mengatakan, untuk ukuran sebuah film kelanjutan yang biasanya memiliki energi lebih besar dibanding film pembuka, Goosebumps 2: Haunted Halloween cenderung gontai. Keputusan untuk meredam adegan-adegan terornya demi tersaji sebagai tontonan yang kid-friendly terang hanya memperburuk keadaan. Saya memang masih sanggup menikmati gelaran ini sebab bagaimanapun juga elemen hiburannya tetap berjalan dengan baik, tapi saya tak sanggup menampik bahwa sekuel ini mengecewakan dan lebih cocok untuk ditonton di layar televisi tolong-menolong anggota keluarga.

Acceptable (2,5/5)