July 15, 2020

Review : Green Book


“Being genius is not enough. It takes courage to change people’s hearts.”

Para moviebuff tentu mengenali Peter Farrelly sebagai salah satu personil dari Farrelly Brothers. Dua bersaudara dibalik terciptanya film-film komedi rusuh semacam Dumb and Dumber (1994), There’s Something About Mary (1998), serta Me, Myself & Irene (2000) dimana disabled people kerap dijadikan sebagai objek candaan sehingga tak mengherankan bila film-film mereka terkesan ofensif bagi sebagian kalangan. Pun begitu – bila kita berkenan menyelaminya lebih dalam – sesungguhnya Farrelly Brothers kerap menyematkan pesan bijaksana dalam karya mereka yang tak jarang karam karena humor urakannya. Sensitivitas keduanya gres benar-benar bisa dirasakan melalui film komedi romantis bertajuk Shallow Hal (2001) yang mendorong penonton untuk berhenti menilai kualitas seseorang menurut penampilan fisik semata. Deep, bro, deep! Memasuki kurun 2000-an, pencapaian duo ini tak lagi sesemarak di dekade sebelumnya dan perlahan tapi pasti, mereka menentukan untuk vakum sejenak dari mengerjakan film komedi yang membesarkan nama. Berpisah jalan sementara demi mengerjakan proyek masing-masing, Peter Farrelly menjajal mengambil tantangan dengan membesut Green Book yang berpijak di genre drama. Tak hanya itu, film yang judulnya dicuplik dari buku panduan bagi masyarakat kulit berwarna dalam menentukan penginapan dan restoran yang berkenan mendapatkan mereka ini (The Negro Motorist Green Book, 1936-1966) turut mengapungkan sederet info berat nan sensitif mencakup rasisme, prasangka, serta segregasi. Sebuah karya yang tak disangka-sangka bakal meluncur dari tangan salah satu personil Farrelly Brothers.

Dalam Green Book, penonton diajak untuk mengikuti sebuah pengalaman perjalanan kasatmata selama delapan pekan yang dialami oleh seorang pianis kenamaan berkulit hitam, Don Shirley (Mahershala Ali), bersama supir sekaligus bodyguard-nya yang berdarah Italia, Tony Vallelonga (Viggo Mortensen), di wilayah selatan dari Amerika Serikat pada tahun 1962. Mengingat wilayah ini dikenal memberlakukan segregasi ketat dalam aneka macam kemudahan publik untuk masyarakat kulit gelap pada waktu itu, keputusan Shirley untuk menggelar tur di sana terperinci merupakan keputusan sangat nekat. Tony sempat dibentuk bertanya-tanya, tapi kemudian ia berhasil memahami pilihan atasannya tersebut sehabis mendapatkan klarifikasi singkat nan menyentil dari rekan Shirley dalam grup band Don Shirley Trio. Ya, ada banyak hal yang dipelajari oleh Tony – begitu juga sebaliknya – mengenai Shirley lewat perjalanan ini. Dimulai dengan hubungan sangat kikuk karena Tony yang sangat rasis sejatinya setengah hati mendapatkan pekerjaan ini dan Shirley bukan pula seseorang yang bersahabat, keduanya secara perlahan tapi niscaya berkenan untuk saling memahami antara satu dengan yang lain usai mengalami serentetan insiden tak mengenakkan selama tur. Berkat Tony, Shirley yang selama ini membentengi kerapuhannya dengan perilaku flamboyan dan cenderung arogan alhasil bersedia untuk membuka diri, sementara berkat Shirley, Tony yang berpikiran amat dangkal ini mendapatkan perspektif lebih luas mengenai manusia. Tak ada lagi penghakiman hanya alasannya yakni seseorang mempunyai kulit, orientasi seksual, dan gaya hidup yang berbeda dari dirinya.


Meski info yang dikedepankan oleh Green Book terbilang kompleks, Peter Farrelly tak melantunkan narasi dengan nada penceritaan yang bikin dahi mengerut maupun bermuram durja melainkan dikemas menjadi feel good movie yang dibumbui banyak canda tawa disana sini. Sebuah pilihan kreatif yang tergolong kontroversial bagi sebagian pihak karena dinilai menyederhanakan kasus segregasi di kurun 1960-an. Tapi benarkah pendekatan yang diambil oleh Farrelly untuk menyampaikannya secara santai yakni sebuah kekeliruan besar? Bukankah The Help (2011) dan Hidden Figures (2016) yang mengambil latar waktu pada kurun yang sama juga menentukan untuk memberikan permasalahan dengan gaya penceritaan cenderung uplifting? Saya paham setiap orang pastinya mempunyai preferensi berbeda-beda, tapi bagi saya, pendekatan yang ditempuh oleh ketiga film ini malah lebih efektif. Mengutuk keras tindak rasisme tidak melulu harus disampaikan dengan kemarahan meluap-luap kolam kebakaran jenggot alasannya yakni ibarat salah satu obrolan yang diucapkan oleh Don Shirley, “you never win with violence. You only win when you maintain your dignity.” Ya, martabat yakni kunci. Green Book mengutarakan segala keresahannya terhadap diskriminasi, prasangka, hingga rasisme dengan cara elegan. Santai, jenaka, menyentuh tetapi tetap memberi tamparan hebat. Di sini, penonton sanggup melongok salah satu fase tergelap dalam sejarah negeri Paman Sam memakai kacamata seorang laki-laki berdarah Italia yang mencicipi privilege alasannya yakni warna kulitnya, dan memakai kacamata seorang laki-laki berkulit hitam yang cerdas, kaya, serta mempunyai pencapaian besar di bidang musik yang ironisnya tetap saja memperoleh perlakuan sangat tidak manusiawi alasannya yakni warna kulitnya sekalipun ia disebut sebagai “tamu kehormatan”.

Melalui Green Book, penonton disuguhi sebuah kisah kemanusiaan yang beranjak dari persahabatan tak biasa antara seorang musisi kenamaan dengan supir barunya dalam suatu perjalanan selama dua pekan yang menantang nyawa. Kita diperkenalkan pada Tony Vallelonga yang dimainkan dengan sangat asyik oleh Viggo Mortensen, kemudian dipertemukan dengan Don Shirley yang dibawakan secara flamboyan oleh Mahershala Ali. Disamping latar belakang, dua huruf ini pun mempunyai karakteristik bertolak belakang yang sejatinya agak sulit dibayangkan sanggup menyatu. Tony digambarkan ala huruf kelas pekerja tidak berpendidikan yang cenderung selow dalam menjalani hidup dan temperamen, sementara Shirley yakni kaum borjuis yang terobsesi dengan keteraturan. Dua dunia yang terperinci berbeda dan mengikuti hukum konvensional dalam buddy movie atau road movie, kedua protagonis ini pun tidak saling menyukai pada titik awal perjalanan. Tapi seiring berlalunya konser demi konser di beberapa kota, mutual respect diantara keduanya perlahan mengemuka dan di sinilah Green Book mulai menunjukkan pesonanya. Ada gelak tawa menyertai menyaksikan interaksi Tony-Shirley (adegan makan ayam goreng KFC itu lucu sekali, perhatikan deh ekspreksi Shirley!), ada kemarahan melihat bagaimana Shirley diperlakukan, dan ada pula kehangatan terdeteksi ketika dua sahabat anyar ini saling mencurahkan perhatian. Si bodyguard yang tadinya rasis luar biasa sampai-sampai enggan menyebarkan gelas dengan orang kulit gelap menemukan sudut pandang gres yang membuatnya bisa memanusiakan manusia, kemudian Shirley yang kesepian menyadari bahwa kesalahan terbesarnya yakni membuat dinding pembatas kelewat tinggi bagi insan lain. Ketakutannya akan dilukai, ketidakmampuannya untuk mendapatkan diri sendiri, dan keengganannya dalam membuka diri hanya membuat ia semakin terasing. Melalui perjalanan ini, dua insan yang sejatinya tidak berbeda satu sama lain ini saling menemukan life lesson yang sebelumnya tak pernah disangka akan mereka dapatkan.    


Outstanding (4/5)