October 28, 2020

Review : Guardians Of The Galaxy Vol. 2


“Sometimes, the thing you’ve been looking for your whole life, is right there beside you all along.” 


Mengkreasi sebuah sekuel bagi salah satu film superhero rilisan Marvel Studios, Guardians of the Galaxy (2014), yang merupakan kepingan dari Marvel Cinematic Universe bukanlah kasus mudah. Pasalnya, judul satu ini telah menetapkan standar terhitung tinggi untuk film-film pembiasaan komik. Guardians of the Galaxy hadirkan rentetan tabrak luar biasa seru ala Star Wars dengan suntikkan melimpah humor-humor kocak dan barisan soundtrack dari kurun 60-70’an yang melebur mulus ke setiap adegan dalam film. Seolah belum cukup, pemain ansambelnya pun tunjukkan lakonan dengan chemistry membius. Sebuah film superhero dengan kesenangan tiada tara! Menariknya, semua ini muncul tiga tahun silam tanpa pernah diperkirakan sebelumnya. Betapa tidak, diantara rekan-rekan sesama pahlawan penyelamat alam semesta binaan Marvel yang telah dibuatkan filmnya, pamor Guardians of the Galaxy terhitung paling rendah di mata penonton awam dan sang sutradara, James Gunn (Super), bukan pula nama besar. Tidak mengherankan penonton tiba memenuhi bioskop tanpa dipenuhi ragam ekspektasi dan hasil jadinya justru amat mengejutkan. Bisa dibilang, kejutan merupakan salah satu poin penting yang menghantarkan film menuju gerbang kesuksesan. Mengingat sebagian khalayak ketika ini telah mengetahui formula yang diterapkan, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, akankah Guardians of the Galaxy Vol. 2 mempunyai kekuatan yang sama untuk memikat ibarat jilid pertamanya? 

Usai menyelamatkan alam semesta di film pendahulu, ketenaran para Guardian yang terdiri atas Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper), dan Baby Groot yang sungguh menggemaskan (Vin Diesel) seketika mengangkasa. Mereka lantas dipercaya oleh kaum Sovereign untuk merebut kembali sejumlah baterai bernilai tinggi dari sesosok monster lintas dimensi. Kerjasama tim membuahkan hasil memuaskan: monster berhasil ditumbangkan, baterai dikembalikan kepada sang pemimpin Sovereign, Ayesha, (Elizabeth Debicki), dan sebagai gantinya, Nebula (Karen Gillan) yang semula berstatus tahanan karena kepergok mencuri baterai diserahkan pada para Guardian. Sayangnya korelasi baik diantara dua pihak harus terlukai tatkala terungkap fakta bahwa Rocket mencuri beberapa baterai milik Sovereign. Alhasil, pengejaran atas Guardian pun dimulai. Dalam perang bintang yang berlangsung meriah, tiba-tiba sebentuk kapal misterius muncul dan membombardir pasukan Sovereign demi menyelamatkan Guardian. Sang nahkoda kapal, memperkenalkan dirinya sebagai Ego (Kurt Russell) yang tak lain ialah ayah kandung dari Peter yang selama ini tidak diketahui keberadaannya. Ditemani dengan tangan kanannya, Mantis (Pom Klementieff), Ego mengajak Peter beserta beberapa anggota Guardian untuk mengunjungi kampung halamannya demi memperbaiki kesalahan di masa lalu. Peter yang telah mendamba sosok ayah semenjak lama, menyambut baik proposal Ego sementara Gamora mencium ada sesuatu yang salah setibanya mereka di planet Ego.


Formula yang diterapkan oleh Guardians of the Galaxy Vol. 2 sebetulnya tidaklah berbeda jauh dengan instalmen pembukanya – kalau tak mau dibilang serupa. Beberapa menit selepas film memulai penceritaannya, ingatan seketika dilayangkan ke seri pertama. Beragam similaritas sanggup dijumpai dengan mudah. Bukan sesuatu yang salah, tentu saja, terlebih James Gunn memperoleh cara semoga kesenangannya tetap berada di level maksimal. Apabila ada kekurangannya, maka itu terhempasnya unsur kejutan sebab kita telah cukup familiar dengan atraksi-atraksi yang ditebar sepanjang durasi mengalir. Pertanyaan di paragraf pertama pun terjawab: Guardians of the Galaxy Vol. 2 tidak mempunyai kekuatan yang sama untuk memikat penonton ibarat halnya ‘sang kakak’. Jawab ini, mengundang tanya lain, apakah itu berarti film kelanjutan ini jelek atau berkurang jauh kadar kenikmatannya? Untungnya, sama sekali tidak. Walau sebagian diantaranya sebentuk pengulangan, Gunn piawai membuatnya tetap terasa segar sekaligus menyenangkan buat dinikmati. Formulanya ialah beri ruang gerak lebih luas bagi interaksi benci-tapi-sayang antara personil Guardian yang mengundang tawa pula rasa hangat, geber lebih banyak sekuens tabrak yang mengasyikkan, kurasi dengan cermat lagu-lagu dari kurun 60-70’an untuk mensugesti penonton, dan paling penting: sajikan plot dengan muatan konflik mengikat sehingga penonton pun bersedia menginvestasikan emosinya secara sukarela kepada film. 

Guardians of the Galaxy Vol. 2 berasa agak penuh sesak kala memperbincangkan soal plot. Pembahasan utama yang dikedepankan Gunn memang terkait pertemuan Peter dengan Ego, namun di sela-sela plot utama kita juga menerima suguhan berupa bagaimana Guardian harus menghindari kejaran kaum Sovereign yang meluap-luap amarahnya, kemudian pemberontakan di dalam badan Ravager disusul adanya upaya mengkudeta Yondu (Michael Rooker) sebab sang pemimpin dianggap kian lembek, hingga naik turunnya kekerabatan Gamora dengan saudarinya, Nebula. Ada kalanya memunculkan rasa lelah – apalagi jikalau Gunn berkenan memangkas salah satu subplot, durasi sanggup lebih hemat – tapi kabar baiknya, tak hingga memberi rasa pusing akhir kebingungan saking banyaknya cabang penceritaan apalagi kebosanan. Keputusan si pembuat film ini untuk menjlentrehkan banyak hal sanggup dipahami begitu film tutup durasi dan segalanya terbayar lunas melalui titik puncak emosional yang tanpa tersadar akan membuatmu mencicipi adanya air menggenangi pelupuk mata. Ya, jikalau disandingkan dengan film pertama, Guardians of the Galaxy Vol. 2 sanggup dikata lebih unggul dalam hal menguras emosi. Lalu bagaimana dengan humor, laga, dan pilihan lagu pengiring yang menjadi kekuatan franchise ini? Soundtrack masih ampuh membuat irama hentakkan kaki kendati tak semembekas jilid awal, sementara elemen komedik dan aksinya ditingkatkan. Telah dibombardir oleh Gunn sedari opening credit-nya yang lucu pula seru. 

Ya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 tidaklah mengecewakan kala berkenaan dengan humor dan laga. Malah, tergolong memuaskan. Sekuens tabrak yang menginjeksikan semangat di volume ini berada di tataran mencukupi, ibarat adegan pembuka menaklukkan monster yang diiringi tembang “Mr. Blue Sky”, kejar mengejar antara para Guardian dengan pasukan Sovereign, penumpasan para Ravager pengkhianat oleh Yondu dibantu Rocket dan Baby Groot, hingga konfrontasi simpulan yang berujung pada perpisahan emosional. Sedangkan kelakar pemicu gelak tawa, berhamburan dimana-mana termasuk ketika para Guardian tengah sibuk bertempur melawan musuh. Kentara sekali pemain ansambelnya begitu menikmati tugas masing-masing yang salah satu buktinya sanggup ditengok dari betapa meyakinkannya chemistry diantara mereka: kita meyakini bahwa mereka ialah ‘keluarga’ sekalipun saban detik tak pernah berhenti saling ledek. Bagusnya, mereka tidak hanya tampak tangguh kala dipersatukan melainkan juga ketika bangkit sendiri-sendiri. Chris Pratt punya karisma pemimpin dengan ketengilan sesuai porsi, Zoe Saldana tampak menarik hati dibalik perilaku garangnya, Dave Bautista mempunyai kesempatan untuk bersenang-senang bersama Pom Klementieff yang sungguh lucu, Bradley Cooper menyebalkan sekaligus ngangenin di ketika bersamaan, Vin Diesel… errr, maksudku, Baby Groot sangat menggemaskan, dan Kurt Russell menghadirkan ambiguitas menarik yang mengundang ketertarikan kita untuk mengetahui di sisi mana sebetulnya keberpihakannya. Pada akhirnya, walau tak sempurna, Guardians of the Galaxy Vol. 2 ialah sekuel yang apik. Kesenangan tetap berada dalam level maksimal. Amat kocak, amat seru, sekaligus mengharu biru. 

Note : Tak perlu terburu-buru tinggalkan gedung bioskop. Guardians of the Galaxy Vol. 2 punya lima (IYA, 5!) adegan bonus selama bergulirnya end credit.

Exceeds Expectations (3,5/5)