October 27, 2020

Review : Habibie & Ainun 3


“Kita dalam buku yang sama, tapi halaman yang berbeda.”

Saat Habibie & Ainun (2012) dirilis di bioskop, impak yang dihadirkannya tidaklah main-main. Disamping sanggup mengundang empat juta pasang mata untuk berbondong-bondong memenuhi bioskop, karir dua pemain utamanya yakni Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari pun seketika meroket. Nama keduanya lantas tercatat sebagai “bintang film kelas A” berkat kesuksesan film yang sering pula dielu-elukan sebagai salah satu tontonan percintaan terbaik di tanah air ini. Sungguh luar biasa. Saking hebatnya dampak yang diberikan oleh Habibie & Ainun, MD Pictures selaku rumah produksi pun memutuskan untuk meneruskan legacy-nya dengan menghadirkan dua film kelanjutan. Sebuah keputusan yang tadinya sempat menciptakan beberapa pihak, termasuk saya, bertanya-tanya, “apa lagi yang ingin dicelotehkan? Bukankah segala sesuatunya telah tertuang di film pertama?.” Well, ternyata masih ada sejumlah fase hidup dari dua aksara tituler yang belum sepenuhnya tersentuh. Dua sekuel yang sejatinya lebih bersifat sebagai prekuel ini, menggali lebih dalam masa-masa yang hanya dituturkan secara sekilas kemudian di Habibie & Ainun. Yang pertama yaitu Rudy Habibie (2016) dimana kisah masa muda Bacharuddin Jusuf Habibie dihantarkan kolam tontonan blockbuster yang megah, dan yang kedua yaitu Habibie & Ainun 3 (2019, sebelumnya berjudul Ainun) yang narasinya mengetengahkan pada usaha Hasri Ainun Besari semasa menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.   

Dalam Habibie & Ainun 3 yang kembali disutradarai oleh Hanung Bramantyo usai dipercaya mengomandoi Rudy Habibie, penonton tak sekonyong-konyong dilempar ke periode 50-an. Kita terlebih dahulu dipertemukan dengan Pak Habibie (Reza Rahadian) yang tengah berkumpul bersama keluarga kecilnya di kediamannya. Sebelum menyantap hidangan untuk makan malam, salah satu cucunya, Tiffanie (Anodya Shula), meminta sang eyang kakung untuk menceritakan masa kemudian dari almarhumah eyang putri. Dari sini, film lantas memakai teknik kilas balik guna mempertemukan kita dengan Ainun di usia belasan (Maudy Ayunda). Sedari SMA, Rudy – sapaan dekat Pak Habibie – telah menaruh perhatian kepada Ainun yang tidak saja mempunyai tampang rupawan tetapi juga otak yang cerdas dan keteguhan tekad. Ainun berambisi ingin menjadi seorang dokter selepas menuntaskan studinya di Universitas Indonesia, padahal beliau paham betul bahwa pada masa itu bidang pekerjaan tersebut identik dengan dunia laki-laki dan tergolong tidak ramah kepada perempuan. Pun demikian, protagonis kita ini tak gentar dan kepribadiannya yang mencakup cerdas, tekun, serta berani lantas membuatnya menjadi sosok yang diidolakan oleh para laki-laki di kampusnya. Dari sederet mahasiswa yang menyatakan rasa kepadanya, perhatian Ainun tertambat pada mahasiswa dari Fakultas Hukum berjulukan Ahmad (Jefri Nichol) yang dipandangnya mempunyai semangat tinggi dan sanggup memperlihatkan rasa nyaman. Untuk sesaat, korelasi keduanya berkembang menjadi semakin dekat dan rekat. Tapi kita semua tahu, mereka tidak ditakdirkan untuk mengarungi perahu rumah tangga bersama-sama.


Mesti diakui, Habibie & Ainun 3 digarap secara kompeten. Jika ada satu hal yang menciptakan saya berdecak kagum di film ini, maka itu keberhasilan tim tata rias dalam menyulap Reza Rahadian menjadi Pak Habibie di masa tuanya memakai makeup prostetik yang konon membutuhkan waktu kerja selama 7 jam. Tidak mirip film pertama dimana wajah Reza masih terlihat plek ketiplek mirip Reza (hanya dibedakan oleh riasan uban semata!), disini beliau benar-benar bertransformasi menjadi Pak Habibie sampai-sampai tak sedikit penonton yang tertipu dan meragu yang memunculkan tanya, “benarkah sosok dibalik wajah tersebut yaitu Reza?,” lantaran saking detilnya. Sungguh mengagumkan. Yang juga layak diapresiasi dari sektor teknis yaitu kinerja tim imbas khusus dalam memudakan Reza. Meski hasil karenanya tak sama gilang gemilangnya dengan tata rias serta ada kalanya tampak menggelikan di beberapa titik, penggunaan teknik de-aging ini masih tergolong apik mengingat fakta bahwa hanya tersedia sedikit waktu dan biaya untuk mewujudkannya. Belum lagi ini pertama kalinya diaplikasikan di perfilman Indonesia. Jadi, tetap perlu dirayakan to? Disamping elemen teknis yang berada dalam kelas premium, faktor lain yang menunjang Habibie & Ainun 3 adalah performa sangat baik dari jajaran pemain. Reza Rahadian sekali lagi mencuri perhatian sebagai Habibie dengan gestur dan gaya berbicara yang ibarat sekalipun kiprahnya kali ini agak direduksi mengingat fokus penceritaan beralih ke Ainun.
Menyandang tanggung jawab besar sebagai sentral cerita, Maudy Ayunda nyatanya sanggup mempertontonkan lakon terbaiknya di sepanjang karir. Dia berubah menjadi menjadi Ainun yang anggun, cerdas, serta mempunyai jiwa sosial tinggi secara effortless sehingga penonton pun sanggup diyakinkan perihal status idola yang disandang oleh Ainun – yes, she’s so charming. Maudy yang tampak sangat meneduhkan ini menjalin chemistry padu bersama Jefri Nichol yang kembali mengambarkan bahwa beliau merupakan salah satu pemain drama muda berbakat di Indonesia. Memang betul kiprahnya masih senada seirama dengan peran-peran beliau sebelumnya; pemuda bengal yang cool, jago berantem, serta lihai merayu perempuan, tapi di tangannya, Ahmad menjadi aksara yang simpatik. Kita mendukungnya, kita pun iba kepadanya. Ketika karenanya Ahmad gagal mendapat Ainun sebab satu dua alasan, saya pun berharap semoga suatu ketika nanti Jefri akan kembali dipertemukan bersama Maudy sebagai satu pasangan dibawah pengarahan Hanung untuk sebuah film komedi romantis. Ya, mereka terlihat sangat cocok kala berpasangan. Tidak hanya mereka berdua dan juga Reza, Habibie & Ainun 3 juga mempersembahkan lakon apik dari Arswendi Bening Swara sebagai Pak Husodo, dosen Ainun, yang populer keras dalam mengajar tapi mempunyai kebaikan dan kehangatan hati kala film mengajak kita untuk mengenalnya secara pribadi. Tak ayal, kesan bijaksana nan berwibawa pun senantiasa menguar berpengaruh setiap kali sosoknya muncul di layar guna memperlihatkan wejangan-wejangan berharga bagi Ainun.


Sayangnya, di ketika elemen teknis dan departemen akting bisa bekerja secara semestinya (bahkan tergolong impresif!), tidak demikian halnya dengan jalinan penceritaan dalam Habibie & Ainun 3 yang cenderung bermasalah. Isu women empowerment yang dikedepankannya berakhir banal serta pretensius sebab obrolan ini tidak pernah betul-betul memperlihatkan relevansinya terhadap pergerakan dongeng maupun masa depan Ainun sendiri. Disini, laki-laki masih dianggap sebagai “penyelamat” dan satu obrolan menjelang pertarungan jujitsu malah cenderung memandang rendah laki-laki yang dianggap hanya bisa menuntaskan dilema lewat tabrak jotos. Saya paham tujuannya baik, tapi mengapa harus dipaksakan memperbincangkan soal kesetaraan gender kalau narasinya sendiri tidak pernah benar-benar menguatkan itu? Obrolan soal posisi wanita di dunia kedokteran hanya disampaikan sepintas kemudian melalui sesi perkenalan dengan Pak Husodo serta satu villain yang halunya kebablasan, Agus (Arya Saloka), tanpa pernah dikembangkan menjadi satu konflik tersendiri bagi si protagonis. Ainun mulus-mulus saja menjalani studi di Universitas Indonesia yang menghantarkannya sebagai lulusan terbaik, sementara perjalanan karirnya sebagai dokter pun tak pernah diulas. 

Menginjak pertengahan durasi, film seolah melupakan perihal impian Ainun untuk berbakti pada tanah air berikut pesan yang dihantarkannya demi memberi ruang bagi tumbuh berkembangnya elemen percintaan. Untung saja, dua pemain utama memperlihatkan ikatan kimia yang meyakinkan dan teknisnya mirip sinematografi, penyuntingan, tata bunyi (Dolby Atmos euy!) serta tata musik pun mumpuni. Jika tidak, bukan saja saya akan dirundung jenuh karena narasinya nyaris tidak mempunyai letupan emosi maupun rasa, saya mungkin juga akan bertanya-tanya mengenai poin yang ingin disampaikan oleh Habibie & Ainun 3 sebab sejujurnya pembicaraan mengenai mengejar mimpi, diskriminasi gender, hingga nasionalisme bagaikan pelengkap belaka di sini alih-alih dijabarkan secara menyeluruh.  

Exceeds Expectations (3,5/5)