October 22, 2020

Review : Habibie & Ainun

“Setiap terowongan niscaya mempunyai ujungnya. Setiap ujungnya niscaya ada cahaya. Saya komitmen akan membawamu ke cahaya itu.” – Rudy Habibie

Begini, anggap saja saya sedang tidak ingin bertele-tele dalam memberikan maksud goresan pena atau Anda sedang tidak rela membuang waktu untuk membaca goresan pena saya ini yang mungkin akan melebar kemana-mana di paragraf-paragraf selanjutnya. Maka, dengan menimbang dua alasan tersebut, saya akan memulai ulasan teranyar buatan saya ini dengan sebuah kesimpulan dari hasil menyantap Habibie & Ainun selama kurang lebih dua jam di layar lebar tempo hari. Dengan senyum manis terurai dari bibir saya yang indah, saya akan berkata kepada Anda, Habibie & Ainun yaitu sebuah film yang cantik. Salah satu dari sejumlah film Indonesia yang berhasil tampil mengagumkan di tahun 2012. Bersanding dengan 5 cm, yang sejatinya agak mengecewakan saya, Habibie & Ainun menggoreskan catatan manis bagi perfilman nasional di penghujung tahun. Saya cukup yakin, Bapak B.J. Habibie menyunggingkan senyum penuh kelegaan di kursi bioskop yang empuk kala mengetahui bahwa buku memoir yang digarapnya dituangkan ke dalam bahasa gambar oleh Faozan Rizal secara bersahaja. 

Habibie & Ainun sedikit banyak mengingatkan saya kepada The Lady besutan Luc Besson dari sisi penceritaan. Kedua film ini yaitu sebuah biopik dari seorang tokoh di suatu negara, akan tetapi baik Habibie & Ainun maupun The Lady lebih menekankan kepada kisah cinta dari sosok penting tersebut dengan turut menyoroti orang paling berjasa dan paling dicintai bagi B.J. Habibie dan Aung San Suu Kyi. Apabila Suu Kyi mempunyai Michael Aris, maka B.J. Habibie didampingi oleh Hasri Ainun Besari yang senantiasa memberi pinjaman penuh kepada suaminya semenjak pertama kali merintis karir di negeri orang sampai menjalani ‘kehidupan normal’ usai dilengser dari kursi kepresidenan. Pertemuan dari dua sejoli ini bermula ketika keduanya masih duduk di dingklik SMP. Belum ada percikan asmara diantara mereka ketika itu, malah Habibie secara terang-terangan menyebut Ainun menyerupai gula jawa karena penampilan fisiknya yang kurang cihuy. Tapi yang namanya jodoh ya, tidak akan lari kemana meski Habibie (Reza Rahadian) telah ‘terlempar’ ke Jerman sementara Ainun (Bunga Citra Lestari) masih berdiri tegak di atas bumi pertiwi. Nyaris satu dekade mereka berpisah, keduanya kembali bertemu di rumah Ainun dimana benih-benih cinta diantara mereka mulai menampakkan diri. Si gula jawa rupanya telah berkembang menjadi menjadi gula pasir. 
Tahap penjajakan tidak berlangsung lama, keduanya mantap membawa hubungan percintaan ini ke tingkatan yang lebih serius dengan mengikat komitmen suci melalui jalinan pernikahan. Apa yang akan saksikan dalam menit-menit berikutnya yaitu usaha dari mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga ini dari bukan siapa-siapa, menjadi seorang insinyur, diangkat menjadi menteri, merangkak ke posisi wakil presiden, sampai risikonya ditahbiskan sebagai presiden Republik Indonesia. Nah, jikalau ini pada risikonya ini yaitu sebuah film biopik dari Pak Habibie, lantas mengapa nama Ibu Ainun turut dicatut sebagai judul? Well… menyerupai yang telah saya jelaskan sedikit di paragraf sebelumnya, meski Habibie & Ainun yaitu film biopik seorang tokoh, namun fokus utama justru kepada kisah cinta yang terjalin antara Pak Habibie dengan Bu Ainun. ‘Behind every great man, stands a great woman.’ Kehadiran Ainun menguatkan Habibie, begitu pula sebaliknya. Saling menunjukkan dukungan, dan saling mengingatkan ketika salah satu berbuat kesalahan. Setiap momen istimewa dan ikonik dari kehidupan Pak Habibie dan istri ini berhasil dirangkum dalam skrip luar biasa dan bernyawa hasil racikan Ginatri S Noer dan Ifan Ismail. Beruntung, sutradara debutan, Faozan Rizal, pun sama sekali tidak terlihat gugup menuangkan kisah hidup salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa ini ke dalam bahasa gambar sehingga hasil selesai yang terpampang di layar lebar yaitu berupa film yang cantik. 
Apalah artinya Habibie & Ainun apabila tidak menerima sokongan yang memadai dari departemen akting. Anda boleh saja mengeluh bahwa Reza Rahadian terlalu tampan, terlalu tinggi, terlalu tegap, dan terlalu terlalu lainnya untuk menggambarkan sosok B.J. Habibie, akan tetapi saya pribadi sangat puas melihat aktingnya. Setelah beberapa kiprah yang menjemukan, Reza Rahadian kembali membuat saya terpukau melalui Test Pack: You’re My Baby dan akhirnya… beliau menunjukkan kemampuan akting terbaiknya dalam film ini! Gestur badan dan gaya bicara Pak Habibie yang sangat khas berhasil diadopsinya dengan tepat tanpa terkesan dibuat-dibuat. Coba pejamkan saja mata Anda, bergantunglah kepada indera pendengaran, dan Anda akan seakan-akan mendengar Pak Habibie bukan Reza Rahadian sedang berbicara. Sangat mirip. Rekan main Bang Reza di sini, Bunga Citra Lestari, pun menyuguhkan sebuah performa yang memikat. Saya sempat mewaspadai Neng BCL ketika mengetahui beliau terpilih untuk memerankan Bu Ainun, bahkan dalam trailer pun tak meyakinkan. Namun saya harus menjilat ludah saya sendiri tatkala menyimak film ini secara utuh. Kasih sayang, kegelisahan, rasa khawatir, sampai batin yang bergejolak ditampilkan dalam emosi yang tepat. Chemistry yang terjalin dengan Reza Rahadian pun terasa padu, hangat, dan menawan. 
Jika saya meneruskan celotehan ini demi memenuhi kuota review seribu kata, maka saya akan menyampaikan bahwa jikalau Anda melongok ke sisi teknis, Habibie & Ainun pun memperoleh pinjaman yang kuat. Ipung Rachmat Syaiful selaku penata gambar menyajikan gambar-gambar indah yang bisa mendukung film secara keseluruhan. Belum ditambah di departemen musik dimana Tya Subiakto sanggup memunculkan ilustrasi musik yang cukup megah dan lagu ‘Cinta Sejati’ yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari turut menyuntikkan emosi. Habibie & Ainun pun siap untuk melenggang menerima skor tepat sebelum risikonya saya menyadari… ini yaitu produksi dari MD Pictures! Whoaaa… apakah ini sentimen pribadi? Bukan, sama sekali bukan. Apakah Anda masih ingat apa yang telah diperbuat oleh PH yang satu ini kepada Di Bawah Lindungan Ka’bah? Jika masih, ya, Anda tidak salah, hal itu kembali terulang di sini, product placement yang seenak jidat. Gerry Chocolatos yang fenomenal kembali mengulang kiprahnya yang untuk sekali ini (untungnya!) tak dipaksa untuk ‘memakai’ kemasan vintage. Si Gerry pun tak sendirian. Dia turut mengajak rekan-rekannya dari masa depan untuk meramaikan suasana menyerupai Wardah, Sirup Markisa Pohon Pinang, Freshcare, sampai e-Toll. Sungguh sangat meriah, bukan? Berhubung saya sedang berbaik hati, maka saya tidak akan terlalu memusingkan tindakan penyusupan tersebut. Anggap saja, itu yaitu salah satu cara untuk membuat gelak tawa penonton di tengah-tengah suasana serba serius dan suram. Sedikit ber-positive thinking ria bolehlah. 

Saya telah selesai menunaikan kiprah saya untuk memberikan unek-unek yang terpendam di kepala selama dua hari kepada Anda. Persoalan apakah sehabis membaca ulasan yang panjang dan memusingkan ini Anda akan tergerak untuk menyaksikan Habibie & Ainun atau tidak di layar bioskop, berpulang kepada Anda. Tidak ada paksaan. Saya hanya akan menyampaikan kepada Anda – untuk terakhir kalinya sebelum ulasan ini benar-benar diakhiri – bahwa ini yaitu sebuah sajian yang manis, lembut dan hangat di penghujung tahun 2012. Tidak pernah terbayangkan saya akan mengasihi film ini. Faozan Rizal telah menjalankan kiprah perdananya sebagai ‘pemimpin orkestra’ dengan sangat baik. Pandangan saya terhadap Pak Habibie dan (almarhumah) Bu Ainun seusai menyimak film ini berubah seketika. Rasa kagum dan simpati yang mendalam saya haturkan untuk mereka berdua. Bahkan, saya tidak malu-malu untuk mengakui bahwa saya tidak kuasa untuk membendung air mata kala film mencapai klimaksnya. Ketika sebuah film sukses membuat mata saya sembab, maka saya akan berkata bahwa film tersebut yaitu film yang bagus. Emosi berhasil dilibatkan, dibangkitkan dan diaduk-aduk sedemikian rupa.

Exceeds Expectations