October 15, 2020

Review : Hacksaw Ridge


“While everybody is taking life I’m going to be saving it, and that’s going to be my way to serve.” 

Mengistirahatkan diri dari karir penyutradaraan selama satu dekade tercatat sedari Apocalypto (2006) dan lantas mengalihkan energinya ke bidang lakonan maupun produser yang kurang menuai sukses, Mel Gibson jadinya memutuskan untuk kembali menekuni karir yang telah menghadiahinya satu piala Oscars (berkat Braveheart) lewat Hacksaw Ridge. Masih mengusung elemen epik kolosal menyerupai ketiga garapan terdahulunya – termasuk pemenang Oscars, Braveheart, dan film kontroversial wacana Yesus, The Passion of the ChristHacksaw Ridge didasarkan pada dongeng aktual menakjubkan dari seorang prajurit bab medis berjulukan Desmond T. Doss yang dianugerahi Medali Kehormatan atas jasa-jasanya menyelamatkan puluhan nyawa pada Perang Dunia II. Apabila fakta yang menyebutkan ia sanggup membawa pulang sebanyak 75 prajurit (malah ada kemungkinan lebih dari itu!) secara selamat dari medan peperangan belum cukup membuatmu takjub, tunggu hingga kau mengetahui kenyataan bahwa Doss sukses melaksanakan agresi evakuasi tersebut sekalipun dirinya sama sekali enggan memanggul senjata selama diterjunkan mengikuti pertempuran melawan Nippon. 

Ya, Doss (Andrew Garfield) telah menyatakan keberatannya untuk memegang senjata semenjak berada di kamp training karena membunuh orang bertentangan dengan fatwa agama yang dianutnya – Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Selain itu, mengingat Sabtu merupakan hari Sabat, Doss juga menentukan tidak mengikuti training di hari Sabtu. Keteguhan hati Doss untuk mempertahankan keyakinannya tentu mengundang kontroversi terlebih, hey, mana mungkin kau sanggup ikut berperang tanpa dilengkapi senjata dan peluru? Terdengar menyerupai misi bunuh diri. Nyatanya, sekalipun atasannya, Sersan Howell (Vince Vaughn), dan rekan-rekan infanterinya telah mengerahkan bermacam-macam upaya guna menggoyahkan imannya termasuk melancarkan agresi perundungan berbentuk mulut (menyebutnya seorang pengecut, salah satunya) dan fisik, menyeretnya ke pengadilan alasannya keenggannya berkompromi dengan keyakinannya berpotensi membahayakan nyawa prajurit lain, hingga memenjarakannya yang berdampak ke tertundanya ijab kabul Doss dengan sang kekasih, Dorothy (Teresa Palmer), Doss bergeming. Dia tetap menawarkan tekad bulatnya berpartisipasi dalam Pertempuran Okinawa tanpa sedikitpun bersentuhan dengan senjata alasannya tujuannya mengikuti perang bukanlah menundukkan musuh melainkan menyelamatkan nyawa orang lain. 

Diam-diam, ternyata Hacksaw Ridge bermain-main di ranah religi horor, atau setidaknya demikian menurut pandanganku. Sebetulnya, apabila kita berpatokan pada karya terdahulu Mel Gibson – plus fakta bahwa ia yakni penganut Kristen – pendekatan yang diambil oleh si pembuat film untuk memberikan dongeng hidup penuh keajaibannya Desmond Doss tidak lagi mengejutkan. Apalagi, sang subjek dideskripsikan pula taat beragama. Tapi jangan risau akan diperdengarkan ceramah-ceramah agama berkepanjangan (lengkap dengan kutipan satu dua ayat dari Injil) alasannya Gibson tak berniat mencekoki penonton dengan dogma-dogma. Dia berusaha sebisa mungkin biar nilai-nilai relijius yang diaplikasikan oleh Doss dalam kehidupannya tidak terlampau tersegmentasi ke agama tertentu, melainkan sanggup terkoneksi ke audiens secara universal. Penonton dibutuhkan memahami pesan yang coba dilontarkan Gibson melalui tindak-tanduk Doss. Bukan semata-mata mengenai patriotisme, keberanian, pembuktian diri, maupun determinasi, tetapi juga bagaimana mempertahankan keyakinan yang kau miliki ditengah-tengah gempuran pihak-pihak yang mencoba meruntuhkannya. Juga, sedikit banyak menyentil khalayak ramai yang berani mengklaim dirinya ‘beriman’ sekalipun perangainya tergolong kontradiktif – lebih menentukan membuatkan kebencian alih-alih kebaikan. Familiar? 

Dari penjabaran sekelumit ini, telah terkuak sisi religiusitas yang dikulik Hacksaw Ridge. Lalu, dimana letak horornya? Well, untuk sekali ini, istilah ‘horor’ tidak dipegunakan untuk merujuk kepada kehebatan film menggempur emosi pemirsanya sedemikian rupa, melainkan pada visualisasi yang nyata-nyata meneror. Disamping kerap mengusung tema berbau samawi, Gibson dikenal dengan kecintaannya mempresentasikan kekerasan serealistis mungkin. Ingat adegan penyaliban Yesus di The Passion of the Christ yang luar biasa bikin ngilu? Saya sanggup meyakinkan, itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang terpampang dalam Hacksaw Ridge. Medan pertempuran yang biasanya terlihat tak ubahnya wahana paintball di kebanyakan film Hollywood – salah satu alasan, demi memperendah batasan penjabaran usia penonton – disini menawarkan kengeriannya. Peringatan bagi kalian yang tidak tahan melihat darah, apalagi bagian-bagian badan insan tercecer, visualisasi dalam Hacksaw Ridge mungkin akan menonjok perutmu hebat-hebat. Gibson tak berkeberatan menampilkan pemandangan mengganggu kenikmatan menyantap cemilan semacam semburat otak jawaban kepala tertembus peluru, kaki-kaki terpenggal, usus terburai kemana-mana, hingga gelimpangan jenazah yang dikerumuni binatang pengurai bangkai. Semuanya dipertahankan atas nama ‘rasa’. 

Kehebatan Hacksaw Ridge setidaknya bersumber dari dua pilar, yakni elemen drama bernafaskan siraman rohani yang merasuk di hati dan elemen tabrak pada adegan peperangannya yang menggedor jantung. Keduanya bersinergi sempurna, turut terbantu pula oleh performa menakjubkan dari barisan bintang-bintang ternamanya. Kita telah mengetahui kapabilitas seorang Andrew Garfield berolah peran, namun Hacksaw Ridge boleh jadi merupakan ‘game changer’ bagi karir keaktorannya. Dengan keimanannya mendekati level Santo, Doss berpotensi bermetamorfosis sebagai sosok out-of-the-world yang sulit didekati (dan diyakini ada) apabila dimainkan bintang film yang tak tepat. Di tangan Garfield, kita sanggup terhubung dengan Doss sekaligus percaya pada perkembangan karakternya sepanjang film yang berujung ke terinspirasi terhadap tindakan-tindakannya. Selain Garfield, Hacksaw Ridge yang begitu jago menyentuh sensibilitas kemanusiaan penontonnya melalui tuturan mencerahkan nan mencengkram ini juga menjadi saksi atas kemahiran berlakon dari Vince Vaugh, Sam Worthington, Hugo Weaving, Rachel Griffiths, serta Teressa Palmer. Jika ada yang menyebutnya sebagai film perang terbaik semenjak Saving Private Ryan, itu tidaklah berlebihan. 

Outstanding (4/5)