October 31, 2020

Review : Hangout


Apakah kau familiar dengan jalan penceritaan dari novel ternama Agatha Christie berjudul And Then There Were None (atau disini dikenal sebagai Sepuluh Anak Negro)? Apabila tidak, secara garis besar tuturannya berkisar pada sepuluh orang asing tanpa korelasi satu sama lain yang memperoleh ajakan dari seorang kaya nan misterius untuk berkunjung ke huniannya di sebuah pulau. Berharap memperoleh sambutan gegap gempita, nyata-nyatanya ajakan ini tidak lebih dari sekadar jebakan yang menuntun kesepuluh tamu tersebut menemui ajalnya masing-masing. Nah, disamping belasan judul penyesuaian resmi bersifat pribadi – merentang dari film hingga miniseri televisi – And Then There Were None yang mengusung teladan whodunnit (tebak-tebak manggis siapa pembunuhnya) pun telah diutak-atik puluhan sineas untuk diekranisasi secara lepas. Salah satu gelaran terbaru yang menerapkan jalinan kisah senada ialah Hangout, sebuah film bergenre komedi thriller kode Raditya Dika. Hangout sendiri tampak begitu menarik hati karena tiga faktor; premis, upaya memadupadankan genre komedi dengan thriller, serta fakta bahwa ini pertama kalinya Dika mencoba sedikit keluar dari zona nyamannya yang tidak jauh-jauh dari masalah kegundahan hati.

Dari sisi gagasan utama, Hangout sejatinya memang serupa tapi tak sama dengan And Then There Were None. Pembedanya, hanya ada sembilan aksara yang menjadi korban disini, mereka mempunyai latar belakang mata pencaharian sejenis, serta telah aktif berinteraksi bersama-sama sebelumnya. Kesembilan aksara tersebut terdiri atas Raditya Dika, Soleh Solihun, Surya Saputra, Mathias Muchus, Titi Kamal, Dinda Mayang Dewi, Prilly Latuconsina, Bayu Skak, serta Gading Marten yang kesemuanya dikenal sebagai public figure. Mereka mendapatkan ajakan secara bersamaan dari seorang misterius yang meminta mereka mengunjungi kediamannya di suatu pulau. Tanpa menaruh kecurigaan apapun – malah Mathias Muchus berspekulasi, mereka akan memperoleh proposal main film – Dika dan konco-konco pun bertolak ke lokasi dengan menaiki kapal. Tak ada sambutan apapun dari si empunya hajat begitu rombongan mencapai kawasan tujuan, kecuali hidangan makan malam yang telah tertata rapi di atas meja makan. Kendati aneh, para artis mencoba untuk tetap berpikir positif hingga kemudian… Mathias Muchus meregang nyawa secara tidak wajar. Terjebak di pulau karena kapal jemputan gres berlabuh beberapa hari kemudian sementara para personil mulai berguguran satu demi satu akhir dibunuh, mereka yang tersisa pun alhasil saling menaruh curiga mengingat besar kemungkinan bahwa salah satu dari mereka ialah sang pembunuh. 
Dalam upayanya untuk menyuguhkan tontonan menghibur bagi penonton, Hangout bersama-sama tidaklah bisa dikata gagal. Serentetan humornya masih bekerja secara semestinya dan tidak sedikit diantaranya tergolong efektif mengundang derai tawa. Memang sih ranah kelakar yang dijamah Dika disini masih belum jauh-jauh dari kisaran toilet jokes dan sebangsanya – salah satunya menyerupai bagaimana Dinda Mayang Dewi digambarkan sebagai artis yang luar biasa joroknya – yang boleh jadi terasa menjijikan pula mengganggu bagi sebagian orang. Bahkan, sifatnya yang cenderung repetitif juga ada kalanya agak menjengkelkan seperti si pembuat film kehabisan ilham dalam ngelaba. Namun satu hal yang menarik serta jarang dieksplorasi lebih jauh oleh Dika di film-filmnya sebelum ini ialah guyonannya dalam Hangout sarat akan rujukan budaya populer. Mempunyai barisan aksara dimana kesemuanya merupakan public figure kasatmata adanya, memungkinkan dirinya untuk lebih bebas melemparkan bahan ngebanyol berkenaan dengan dunia hiburan tanah air. Hampir setiap aksara kena tembak – paling habis-habisan nyaris tanpa ampun ialah Gading Marten – walau tidak kesemuanya juga sempurna mengenai sasaran. Yang bagi saya terhitung berhasil yakni kala Prilly mengungkit-ungkit soal sinetron Ganteng-Ganteng Serigala atau lebih baik lagi dikala Dinda membicarakan perihal Ada Apa Dengan Cinta? 3
Dan, untuk mencapai tahapan menghebohkan ini agak membutuhkan waktu. Hangout terhitung lambat memanas. Setidaknya pada 30 menit pertama sebelum pembunuhan pertama terjadi, film berlangsung agak hambar. Lawakannya banyak meleset, pengisahannya pun kurang mengikat apalagi membuat kesan misterius menyerupai diharapkan. Usai Marmut Merah Jambu, Single, serta Koala Kumal yang begitu lancar lantunan kisahnya, maka tentu mengecewakan (plus mengherankan) melihat Dika cenderung terbata-bata di Hangout. Apakah ini karena Dika masih belum terbiasa dengan sesuatu diluar area kekuasaannya? Bisa jadi. Begitu jatuh korban pertama, film perlahan mulai yummy buat dinikmati meski tidak hingga pada tahapan benar-benar mulus. Perpaduan elemen komedi bersama thriller berulang kali terasa janggal. Sang sutradara tidak tampak kesulitan mengorkestrasi momen-momen pengundang tawa alasannya bagaimanapun juga inilah keahliannya, tapi berbeda halnya ketika menyajikan daya cekam. Sejumlah adegan yang seharusnya bisa membuat penonton tersentak, memegang akrab dingklik bioskop atau mengucurkan keringat dingin, berlalu begitu saja tanpa kesan. Malah memunculkan reaksi, “lho, kok begitu saja?,” khususnya di babak titik puncak yang tensinya terus mengendor dan ini kian dilukai oleh momen pengungkapan si pelaku dengan motif jauh dari kata kuat. 

Kendati menghadapi serentetan problematika yang menghempaskan Hangout seketika dari jajaran film terbaik Dika, menyerupai telah disinggung di beberapa paragraf sebelumnya, ini bukanlah tontonan yang layak dilabeli “gagal” apalagi “buruk”. Usahanya untuk menghadirkan warna gres bagi perfilman tanah air (beserta filmografi Dika) tetap perlu mendapatkan angkat topi. Selain masih bisa memperlihatkan penghiburan lewat gelak-gelak tawa, Hangout teramat sangat beruntung alasannya mempunyai barisan pemain yang menghadirkan performa sangat memuaskan. Setiap pelakonnya terlihat begitu bersenang-senang dengan tugas yang mereka mainkan. Dika memang masih tampak lempeng menyerupai biasa, namun Dinda Mayang Dewi, Surya Saputra, Prilly Latuconsina, Gading Marten serta Soleh Solihun menandakan kelayakan masing-masing untuk mendapatkan tugas di Hangout. Berkat mereka, banyak energi positif berhasil tersalurkan ke film. Kemunculan mereka memberi keriaan tersendiri khususnya Dinda dan Soleh yang senantiasa dinanti-nanti sepak terjangnya oleh penonton alasannya bisa memperlihatkan tawa secara konstan.

Acceptable (3/5)