October 20, 2020

Review : Hansel & Gretel: Witch Hunters


Some people will say that not all witches are evil, that their powers could be used for good. I say burn them all!” – Hansel 

Jika Hollywood bisa mengacak-acak sejarah hidup dari presiden favorit milik Amerika Serikat, mengapa tidak dengan sebuah kisah dongeng yang telah mendunia? Sejatinya, penceritaan ulang dengan komplemen elemen gres dari sebuah kisah klasik bukan lagi sesuatu yang gres di dunia perfilman. Bahkan, kita gres saja menyaksikannya tahun kemudian dimana dongeng kenamaan ‘Snow White’ direka ulang di layar perak dengan tiga penafsiran berbeda dari kepala-kepala yang berbeda pula. Dengan resepsi bermacam-macam yang diterima, Hollywood memberi lampu hijau untuk pembuatan versi anyar dari dongeng populer lain yang juga dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, ‘Hansel and Gretel’. Hingga dikala ini, tercatat setidaknya ada 3 versi Hansel and Gretel yang siap menyapa pecinta film sepanjang tahun 2013. Yang paling pertama, dan yang paling dikenal tentunya, yaitu milik MGM Pictures yang diberi judul Hansel & Gretel: Witch Hunters. Haaa… Dari judulnya saja kita sudah bisa menebak apa yang akan dikisahkan dalam versi anyar ini. Dengan sineas asal Norwegia yang namanya menjadi materi omongan moviegoers sedunia berkat Dead Snow, Tommy Wirkola, ditahbiskan sebagai sutradara, proyek ini sedikit banyak terdengar cukup menjanjikan. 

Berdasarkan versi yang pernah aku lahap sampai tuntas, Hansel and Gretel mempunyai epilog layaknya dongeng kebanyakan, ‘happily ever after’. Sang penyihir berhasil dikalahkan, abang beradik ini menemukan tumpukan harta milik sang penyihir, membawanya pulang, dan merayakan kemenangan bersama sang ayah yang senantiasa berduka usai istrinya dipanggil Yang Maha Satu. Akhir semacam ini tak akan Anda temukan dalam Hansel & Gretel: Witch Hunters. Mengambil latar bertahun-tahun usai insiden traumatis bagi Hansel maupun Gretel di pondok makanan ringan manis milik penyihir keji, dua bersaudara ini masih dirundung kegelapan dan tak pernah memperoleh sedikit pun harta dari nenek sihir. Demi menyambung hidup, Hansel (Jeremy Renner) dan Gretel (Gemma Arterton) berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan menumpas para penyihir jahat yang merisaukan penduduk. Suatu ketika, Walikota Augsburg (Rainer Bock) memekerjakan mereka menyusul hilangnya belasan bocah dari wilayah yang dipimpinnya. Tak gampang rupanya menangani kasus ini. Di samping mendapat kendala dari Sheriff Berringer (Peter Stormare) yang menjengkelkan, penyihir yang mereka hadapi, Muriel (Famke Janssen), pun bukan sembarang penyihir. Muriel rupanya mempunyai keterkaitan erat dengan masa kemudian yang Hansel dan Gretel coba singkirkan. 
Hansel & Gretel: Witch Hunters diniatkan sebagai tontonan hiburan di final pekan bagi Anda yang penat usai menunaikan ‘tugas negara’. Bertolak ke bioskop terdekat, membeli karcis serta cemilan, tinggalkan kebijaksanaan di lobi bioskop, duduk di bangku empuk, dan nikmati suguhan ‘tak berotak’ nan menyenangkan dari Tommy Wirkola. Apabila Snow White and the Huntsman masih serba tanggung dan tampak malu-malu kala mencoba tampil kelam, maka film yang skripnya digarap Wirkola dan D.W. Harper ini melaju bebas dan mengenyahkan segala ketabuan yang sanggup menghalangi proses kreatif. Dengan rating R (17 tahun ke atas) yang diperoleh dari MPAA, Wirkola pun bebas bernakal-nakal ria dengan mempertontonkan badan telanjang, muncratan darah, badan yang tercabik-cabik sampai organ badan yang meledak dan berceceran kemana-mana. Sejak menit pembuka, Witch Hunters telah menghantui dengan nuansa ‘dark’ dan ‘creepy’ serta memperlihatkan gejala bahwa ini akan mendapat ‘treatment’ sebagai film dongeng untuk sampaumur yang sangat kelam. Pun demikian, film tidak lantas digiring ke ranah horor penuh teror, melainkan justru lebih suka untuk bermain-main di ranah agresi terlebih di ‘final battle’ dimana desingan peluru menjadi sesuatu yang bersahabat untuk didengar. 
Bagi yang menggemari sebuah jenis tontonan dimana agresi berpadu manis dengan lontaran aneka macam kepingan badan serta guyuran darah, maka Witch Hunters akan memuaskan Anda. Silahkan berteriak, mengumpat, atau bersorak sorai sesuka Anda. Ditilik dari sisi naskah, tidak ada yang istimewa dari film ini dengan alur yang terbilang gampang diprediksi kemana arahnya. Yang membuatnya menjadi terasa spesial, cara Wirkola dalam mengemasnya. Demi menghantarkan kisah Hansel dan Gretel sang pemburu penyihir, waktu yang diperlukan hanya kurang lebih 88 menit. Tidak berpanjang-panjang atau merumitkan segalanya dengan menuangkan aneka macam macam materi ke dalam ‘kuali’ untuk dimasak. Cukup seperlunya dan eksklusif pada target untuk membahagiakan penonton. Dan memang, segalanya berlangsung cepat dan menyenangkan. Saya benar-benar menikmatinya. Tak sekalipun melongok ke ponsel untuk memastikan berapa menit lagi yang aku butuhkan untuk tersiksa di bangku bioskop. Tak sekalipun. Wirkola sangat murah hati dalam menggeber adegan laga yang seru dan pastinya, penuh darah. Benar-benar sarat akan kekerasan. Ditunjang oleh kinerja departemen tata rias, efek khusus, dan tata artistik yang mengagumkan, hidangan dari MTV Films ini pun kian yummy untuk disantap. 
Jadi… apakah Hansel & Gretel: Witch Hunters layak untuk disaksikan di layar lebar? Tentu, selama Anda tidak keberatan dengan tontonan yang menyuguhkan kekerasan, darah, dan kengerian. Duet maut antara Jeremy Renner dan Gemma Arterton sebaiknya tak Anda lewatkan begitu saja. Sajian hasil olahan Tommy Wirkola ini pun lebih baik Anda saksikan dalam format 3D demi mendapat hasil yang maksimal. Tidak hanya memperlihatkan kedalaman gambar, tetapi juga ‘pop-out’ dengan aneka macam macam kepingan badan dilempar ke muka Anda. Tak apa kan sedikit merogoh kocek lebih? Apabila Anda telah dikecewakan oleh Abraham Lincoln: Vampire Hunter dan Snow White and The Huntsman, ada baiknya jajal film ini. Siapa tahu sanggup mengobati rasa kecewa yang didapat dari kedua film tersebut. Karena bagi saya, Hansel & Gretel: Witch Hunters yaitu sebuah film action-adventure-horror yang penuh dengan kegilaan yang menyenangkan. Brutal, penuh darah, jenaka, menyeramkan, sekaligus menghibur. Mungkin tak ada efek candu di dalamnya, tapi setidaknya aku tak keluar dari gedung bioskop dengan muka kusut.

Acceptable