July 8, 2020

Review : Hanum & Rangga (Faith & The City)


“Kamu jangan pernah menyia-nyiakan mereka yang sudah berkorban untukmu.” 


Sejujurnya, saya menyukai dwilogi 99 Cahaya di Langit Eropa (2013-2014) yang didasarkan pada novel berjudul sama rekaan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Bukan semata-mata karena mata dibikin adem karena melihat Raline Shah berhijab, melainkan lebih disebabkan oleh narasinya yang terasa lapang dada dan menghangatkan hati. Dalam film tersebut, Hanum Salsabiela Rais dikisahkan mendampingi suaminya, Rangga Almahendra, untuk menuntaskan studi S3 di Vienna, Austria. Selama menetap di sana, keduanya menelusuri jejak-jejak Islam di Eropa seraya berupaya memperbaiki gambaran Islam yang jelek di mata sebagian pihak. Beberapa orang menyebutnya sebagai film perjalanan, lebih-lebih konfliknya tak terlalu runcing di sini. Tapi bagi saya, disitulah letak menariknya karena film bangun di jalur realis yang acapkali mempersilahkan penonton untuk merenung usai diperdengarkan percakapan (atau perdebatan) antara Hanum dengan Rangga, Hanum dengan teman-temannya, maupun Rangga dengan kawannya yang membenci Islam. Lingkupnya personal saja, tak berambisi untuk menunjukan kepada seluruh umat insan bahwa “dunia ini akan lebih baik dengan adanya Islam”. Ambisi ini, sayangnya, diterapkan ke film berikutnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika (2015-2016), yang justru menciptakan narasi terlalu bombastis sampai-sampai sulit dipercaya kebenarannya – plus saya paling malas dengan film dakwah yang penuh letupan kemarahan di dalamnya – dan instalmen terbaru dari Hanum-Rangga Cinematic Universe, Hanum dan Rangga (Faith and the City), yang untuk pertama kalinya diakui sebagai cerita fiksi. 

Pertanyaan “would the world be better without Islam?” menjadi bekal yang senantiasa dibawa oleh Hanum Salsabiela (Acha Septriasa) dalam menapaki karir sebagai jurnalis. Kemanapun ia berpijak, ia ingin pertanyaan ini terjawab sehingga masyarakat di aneka macam belahan dunia menyadari bahwa Islam yakni agama yang rahmatan lil’ alamin (penuh rahmat) alih-alih penuh kebencian – meski kenyataannya dalam film, pertanyaan tersebut tak pernah memperoleh tanggapan memuaskan. Pertanyaan ini pula yang diboyongnya ketika ia menerima ajuan untuk bekerja magang selama tiga pekan sebagai reporter di stasiun televisi GNTV New York. Hanum melihat ini sebagai kesempatan emas untuk melaksanakan syiar agama, kesempatan emas untuk ‘berdialog’ dengan publik Amerika Serikat yang belum pernah mengenal wajah Islam sesungguhnya. Dilingkupi semangat karena dirinya berkesempatan menjadi biro perubahan yang signifikan, idealisme Hanum ini malangnya justru terbentur oleh visi misi sang atasan yang mendewakan rating, Andy Cooper (Arifin Putra). Andy menginginkan jadwal yang menciptakan pemirsanya termehek-mehek, bukan jadwal yang menenangkan hati karena itu dianggapnya membosankan. Walaupun tidak pernah sejalan dengan cara kerja Andy, toh Hanum tetap bertahan di GNTV seraya mencari ilham segar untuk jadwal selanjutnya. Kesibukan Hanum dengan pekerjaannya ini tanpa pernah disadarinya secara perlahan tapi niscaya justru merenggangkan hubungannya dengan sang suami, Rangga Almahendra (Rio Dewanto). Pertengkaran demi pertengkaran pun tak terhindarkan ditambah lagi Hanum merasa cemburu melihat kedekatan Rangga dengan Azima Hussein (Titi Kamal). 


Disandingkan dengan dua instalmen Bulan Terbelah di Langit Amerika yang menghadirkan ketidaknyamanan dalam pengalaman penonton pada sepanjang durasinya menyusul narasinya yang sukar diterima logika, Hanum dan Rangga (Faith and the City) yakni sebuah peningkatan. Pertanyaan “would the world be better without Islam?” memang sekali lagi dipergunakan hanya sebagai pancingan bagi penonton semata tanpa menerima eksplorasi di guliran pengisahan. Akan tetapi, instalmen ini setidaknya menghadirkan materi pembicaraan yang lebih fokus dan menggigit seputar gender role – atau secara lebih spesifik, peranan suami istri dalam sektor rumah tangga – ketimbang mengejar sensasi dengan mengupas soal jejak kedigdayaan Islam di Benua Amerika selaiknya dua seri terdahulu. Dalam satu adegan, Rangga sempat meluapkan kekecewaannya terhadap Hanum yang mulai abai kepada dirinya dengan satu pernyataan, “tapi kau kesampingkan perasaan suami kau sendiri hingga kau melupakan kiprah utamamu sebagai seorang istri.” Ini menarik karena sanggup memunculkan setidaknya dua renungan: apakah benar Hanum telah melupakan tugasnya di ranah domestik akhir dibutakan oleh ambisinya dalam mengejar karir? Atau justru bahu-membahu kemarahan Rangga tersebut dipicu oleh rasa insecure karena melihat karir sang istri menjulang secara cepat? Apabila berkenan untuk digali lebih mendalam, pernyataan beserta pertanyaan ini sejatinya sanggup menghasilkan pembicaraan mengenai seorang muslimah yang berkarir. Pembicaraan yang rasa-rasanya akan menghadirkan materi diskusi menarik bagi pasangan suami istri di luar sana yang mungkin sedang dirundung dilema selepas sang istri tetapkan untuk berkarir. 

Mungkin berpikiran sama dengan Andy Cooper, duo Hanum-Rangga berikut sang peracik skenario, Alim Sudio, dan sang sutradara, Benni Setiawan, menganggap konflik ini berpotensi menjemukan bagi penonton sehingga mereka enggan menguliknya lebih mendalam. Langkah yang ditempuh sebagai bentuk kompensasinya yakni mengejar dramatisasi. Entah itu dalam lingkungan kerja Hanum yang digambarkan mempunyai seorang atasan yang toxic, atau dalam kekerabatan Hanum-Rangga yang diusik oleh kehadiran orang ketiga. Obsesi ini tentu saja bukanlah hal yang sehat karena apa yang mengikutinya yakni rentetan kejadian yang too good to be true sekaligus konyol. Saya sih masih sanggup mencoba memafhumi di separuh durasi awal (tapi saya masih tak sanggup memahami spesialisasi beserta prestis yang dipunyai GNTV). Hanya saja begitu menyadari pemicu konflik diantara dua abjad utama yakni salah paham berlandaskan tuduhan perselingkuhan, saya cuma sanggup berkata “baeklah.” Ya masa pasangan saling mencintai, mempunyai gelar tinggi pula, dibutakan oleh cemburu semata-mata karena melihat pasangannya ngobrol berdua dengan lawan jenis sih? Atau inikah yang disebut cinta tak mengenal logika? Jika ini masih sanggup mendapatkan pemakluman, saya jadinya tak tahan lagi untuk menahan tawa di babak titik puncak (maaf, kalimat-kalimat selanjutnya akan mengandung spoiler). Dalam adegan dimana Hanum jadinya berkesempatan memandu jadwal live, malu Andy Cooper terekspos. Alih-alih fokus pada wawancara dengan Azima dan Philipus Brown (Timo Scheneumann) – tonton Bulan Terbelah di Langit Amerika untuk mengetahui apa yang bikin mereka penting – Hanum beserta narasumbernya justru mengungkap kebobrokan Andy dilanjut pemecatan terhadap Andy oleh Philipus yang gres saja membeli sebagian saham GNTV. 


Serius, darling? Ini yakni jadwal televisi di Amerika Serikat lho. Saya masih sanggup membayangkannya apabila ini terjadi di Indonesia, tapi di negeri Paman Sam? Pelanggaran keras atas kode etik jurnalistik. Belum lagi jadwal yang dipandu oleh Hanum ini mewartakan perihal Islam. Sejahat-jahatnya Andy, saya rasa mengungkap aibnya di depan publik tetap saja bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh Islam. Jika demikian, kemudian apa bedanya Hanum dengan Andy? Mengingat SARA tengah menjadi persoalan serius di Amerika Serikat, bukankah kejadian menyerupai ini justru akan semakin mencoreng gambaran Islam yang sudah terlanjur jelek di mata sebagian warga setempat? Ini konyol. Padahal saya sudah berharap banyak kepada abjad Hanum yang mulanya menggebu-nggebu ketika berbicara perihal idealisme dan integritas. Tak tahunya, penyelesaian masalahnya jauh dari kata elegan apalagi kesantunan dan menjunjung dramatisasi serta mengambil jalur penyederhanaan. Sungguh kecewa. Ditengah kekecewaan ini, saya lantas dikejutkan oleh adegan berikutnya yang tergarap manis… hingga sebuah pengungkapan lain menyerang. Karakter gay yang dimainkan secara lucu oleh Alex Abbad (ini asing sih sebenernya karena ia melakonkan kiprah bertolak belakang di 99 Cahaya di Langit Eropa yang berkesinambungan dengan instalmen ini) mendadak ‘insyaf’ tanpa sebab. Pertanyaannya: apa kita membutuhkan adegan ini? Untuk apa? Untuk mengatakan bahwa gay yakni sebuah ‘penyakit’ yang sanggup disembuhkan? Ini pointless banget sih, kecuali untuk menegaskan posisi si pembuat film terhadap LGBT. 

Kekacauan pada babak titik puncak ini menghantarkan Hanum dan Rangga (Faith and the City) menjadi tontonan mengecewakan. Seperti halnya Andy Cooper si abjad antagonis yang hancur karena ambisinya mengejar drama, film ini pun menukik tajam karena kelewat kasar ingin mengajak penonton termehek-mehek. Padahal film sejatinya mempunyai obrolan menarik, penggarapan Benni Setiawan pun mengalir lancar, dan Acha Septriasa sekali lagi tak mengecewakan sekalipun energinya agak meredup tanpa Abimana Aryasatya. Sungguh sangat disayangkan.

Acceptable (2,5/5)