October 29, 2020

Review : Hari Ini Niscaya Menang

 “Ini suporter Indonesia, udah ke Piala Dunia, masih saja primitif.” – Dimas

Apabila selama ini film sepakbola, terutama buatan dalam negeri (setidaknya dalam dwilogi Garuda di Dadaku atau Tendangan Dari Langit), identik dengan usaha menggapai mimpi atau kalau ingin membelokkannya sedikit, maka itu berkaitan dengan konflik internal yang melingkupi sebuah tim yang tengah mencapai kejayaan, tidak halnya dengan film terbaru garapan Andibachtiar Yusuf. Di Hari Ini Pasti Menang, penonton tidak sekadar menyaksikan lapangan sepakbola-ruangan loker-rumah sang protagonis semata. Ruang lingkup penceritaan tidak sesempit itu. Penonton diajak untuk menelusuri lebih jauh, dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa sepakbola pun telah menjadi ladang bisnis, baik legal maupun ilegal. Kita melihat sisi lain (atau lebih tepatnya, sisi gelap) dari olahraga paling terkenal di Indonesia ini. Jelas, film yang skripnya digarap oleh Swastika Nohara ini tidak bertutur seringan yang banyak masyarakat kira. Banyak konflik tertuang di dalamnya yang mengakibatkan jalinan penceritaan tergolong padat dan rumit, namun bagusnya, tetap mengasyikkan untuk diikuti. 

Yang menjadi poros dongeng yaitu Gabriel Omar (Zendhy Zain) atau dikenal juga dengan ‘nama panggung’ GO8, striker andalan klub Jakarta Metropolitan yang kehidupannya kian bersinar usai Piala Dunia 2014. Melalui sosok Gabriel inilah, cabang-cabang dongeng dengan serangkaian konflik yang mengikutinya dibentuk. Di 20 menit pertama – dalam sebuah pengenalan yang berlangsung cepat dan penuh sesak – kita dipertemukan sekilas dengan tokoh-tokoh yang akan berkontribusi terhadap pergerakan cerita. Ada Dimas Bramantyo (Ray Sahetapy), instruktur Jakarta Metropolitan yang berjasa besar dalam melejitnya karir Gabriel serta klub. Lalu diperkenalkan pula kepada ayahanda Gabriel (Mathias Muchus) yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, sang manajer (Deddy Mahendra Desta) yang penuh semangat, pemilik kartel judi raksasa (Hengky Solaiman), pengusaha muda (Verdi Solaiman) yang mempertaruhkan harta bendanya demi kekalahan Jakarta Metropolitan, serta Andini (Tika Putri), sahabat masa kecil Gabriel yang kini bekerja sebagai seorang jurnalis olahraga. Tokoh-tokoh ini dibenturkan pada permasalahannya masing-masing yang semuanya mengerucut kepada permasalahan besar, judi dan pengaturan skor. 
Pada awalnya, mungkin banyak yang beranggapan bahwa Hari Ini Pasti Menang memiliki penuturan yang tidak jauh berbeda dengan film sepakbola terdahulu dari dalam negeri. Saya pun berpikiran serupa, mengira ini akan berkisah mengenai usaha atau jatuh berdiri Timnas demi mencapai Piala Dunia 2014. Andibachtiar Yusuf dan Swastika Nohara, pada kenyataannya, tak pernah mengakibatkan Piala Dunia dan segala tetek bengeknya sebagai fokus utama dalam pengisahan. Ini hanya latar belakang untuk menghantarkan kisah. Apabila yang Anda idam-idamkan semenjak awal yaitu menyaksikan para pemain dari Timnas membuat alur bola yang bagus di lapangan hijau, maka sebaiknya rubah ekspektasi kini juga. Ya, itu memang ditampilkan dalam sejumlah adegan, namun tentunya secara singkat dan tidak benar-benar menjadi menu yang dikedepankan. Pun demikian, dalam catatan saya, adegan pembuka yang memboyong penonton ke stadion untuk menyimak pertandingan antara Jakarta Metropolitan dan Bogalakon sanggup ditampilkan secara panas, intense, dan cantik. Suasana pertandingan benar-benar terasa hidup. 
Dalam penyampaian kisah, sang pembuat film membuat sebuah ‘alternate universe’ dari Indonesia sehingga dalam berceloteh sanggup lebih leluasa untuk senggol sana-sini serta dari sisi kewajaran pun masih sanggup diterima. Ini memang tetap Indonesia, tetapi bukan Indonesia yang menyerupai kita kenal menyerupai kini ini. Detil-detil kecil yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang sepele, diperhatikan secara serius termasuk dengan menghadirkan jukstaposisi adegan, mata uang baru, stadion baru, sampai seragam tim. Betul-betul menarik. Sang pembuat film tidak segan-segan melancarkan banyak sekali kritik (dengan penuh cinta, tentunya) dan sindiran terhadap carut marutnya kondisi persepakbolaan di Indonesia. Dituturkan secara halus – tanpa pernah menjadi gejolak amarah yang membara – namun sungguh menancap di hati. Jleb! Siapapun kena tembak, tanpa terkecuali. 
Ya, inilah yang mengakibatkan Hari Ini Pasti Menang menjadi sebuah tontonan yang benar-benar menarik. Ini bukanlah sebuah hiburan kosong yang sanggup menguap begitu saja seiring berjalannya waktu dan bermunculannya film-film sepakbola dengan penggarapan apik lainnya. Penonton dihadapkan pada setumpuk konflik rumit nan memikat yang merupakan refleksi dari apa yang bahwasanya terjadi dalam dunia persepakbolaan. Beberapa fakta mencengangkan dihamparkan. Betapa olahraga pun sanggup dijadikan sebagai ladang untuk ‘bermain kotor’. Penggarapan yang cermat dan rapi dari Andibachtiar Yusuf ditunjang oleh naskah bernas olahan Swastika Nohara, skoring menawan dari Ananda Sukarlan, soundtrack yang menggugah dari Judika, sinematografi apik instruksi Roni Arnold, tata artistik yang ciamik, serta jajaran pemain dengan performa yang luar biasa (pujian khusus saya sematkan kepada Tika Putri, Mathias Muchus, dan Verdi Solaiman) membuat ‘Indonesia versi Andibachtiar Yusuf’ ini terasa greget, mengikat, dan sanggup dipercaya. Usai menyaksikan Hari Ini Pasti Menang, banyak bekal yang sanggup Anda bawa pulang sebagai materi diskusi yang seru bersama teman-teman sesama pecinta sepakbola, setidaknya itu berlaku bagi saya. Tidak mengherankan kalau ada beberapa penonton di stadion yang mengangkat tinggi-tinggi goresan pena ‘I Love Andibachtiar Yusuf’ apabila melihat hasil final yang memuaskan semacam ini.

Note : Bertahanlah sampai film benar-benar tuntas alasannya ada beberapa adegan dikala credit title bergulir dan… semuanya penting!

Exceeds Expectations