October 31, 2020

Review : Harry Potter And The Deathly Hallows Part 2

Penantian panjang yang melelahkan itu jadinya berakhir REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2

“Do not pity the dead, Harry. Pity the living and above all, especially those who live without love.” – Albus Dumbledore

Penantian panjang yang melelahkan itu jadinya berakhir. Setelah keran film MPA ditutup, kesempatan untuk menyaksikan jilid terakhir dari Harry Potter nyaris tidak ada. Setelah masyarakat terus diombang-ambingkan oleh pemerintah yang nampaknya sedang asyik main kucing-kucingan dengan pihak MPA dan importir, secercah impian turun dari langit. Berita yang membahagiakan menyeruak ke publik. Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 dipastikan tayang di Indonesia. Ini mungkin ialah informasi paling membahagiakan bagi siapapun yang mengasihi film, khususnya pecinta film Harry Potter, di bulan Juli ini. Rilis telat tidak lagi menjadi soal, selama bisa menyaksikannya di layar lebar. Bagi fans fanatik Harry Potter, menyaksikan perjalanan terakhir dari sebuah legenda melalui DVD bajakan ialah sesuatu yang memalukan dan tidak bisa diterima. Mereka yang tidak menyukai franchise ini mungkin beranggapan ini ialah sesuatu yang ajaib dan berlebihan. Tidak sedikit yang mencemooh para fans yang rela berdesak-desakkan demi bisa menikmati Harry Potter and the Deathly Hallows part 2. Ini bukan persoalan demi menerima sebuah prestige atau biar dianggap keren. Menanti selama bertahun-tahun demi melihat ‘sang sahabat’ yang telah menemani selama 10 tahun untuk mengucapkan selamat tinggal ialah sesuatu yang melelahkan dan menyiksa. Ketika jadinya kesempatan itu datang, maka tidak heran jikalau kemudian diserbu di kesempatan pertama. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa dipahami oleh mereka yang tidak tumbuh bersama Harry Potter. Saya rasa tidak hanya Harry Potter yang mengalami ini. Franchise lain semacam Star Wars dan The Lord of the Rings juga membuat euphoria yang sama ketika jilid terakhirnya dilempar ke bioskop. Apa yang terjadi ketika ini mungkin tidak akan segila ibarat ini seandainya summer movies masuk dengan lancar. Haus akan film blockbuster dari Hollywood turut membuat keadaan ini.
Untungnya, ini ialah sebuah final yang luar biasa dari petualangan Harry Potter. David Yates sukses merampungkan franchise ini dengan penyelesaian yang sangat memuaskan. Entah bagaimana pendapat para Potterhead, tapi aku pribadi mengacungi dua jempol atas kinerja Yates yang apik. Kesalahannya dalam mengacaukan Harry Potter and the Half-Blood Prince pun seketika termaafkan. Saya susah untuk memercayai bahwa film yang memukau ini ialah hasil buatan dari sutradara yang sama yang telah mengecewakan aku tempo hari. Emosi aku membuncah ketika jadinya closing credits bergulir. Ini saatnya bagi aku untuk merelakan kepergian Harry, Ron, Hermione, dan seluruh penghuni Hogwarts. Tidak sedahsyat ketika aku ditinggal pergi oleh Woody dan kawan-kawan melalui Toy Story 3, namun tetap saja air mata susah dibendung. Saya sungguh berterima kasih kepada J.K. Rowling yang telah membuat sebuah karya sastra yang memukau ibarat ini. Sangat jarang ada sebuah karya sastra bergenre fantasi yang bisa membuat pembacanya terasa ikut terlibat dengan petualangan para tokohnya selama berseri-seri. Tandingan Harry Potter untuk hal ini hanyalah The Lord of the Rings yang tak pelak merupakan karya sastra terbaik di genrenya. Mereka berdua sanggup membuat sebuah dongeng yang sangat dalam, detail, runtut dan terjalin sangat rapi. Maka bukan kasus yang gampang untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk pita seluloid.

Penantian panjang yang melelahkan itu jadinya berakhir REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2Penantian panjang yang melelahkan itu jadinya berakhir REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2Penantian panjang yang melelahkan itu jadinya berakhir REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2
Steve Kloves tidak secanggih Fran Walsh, Philippa Boyens dan Peter Jackson dalam menuangkan novel ke dalam naskah. Jarang sekali Kloves bisa memuaskan semua kalangan. Namun bisa jadi itu disebabkan karena hampir setiap seri Harry Potter ditangani oleh sutradara yang berbeda. Pangkas memangkas dalam film penyesuaian sesungguhnya merupakan hal yang sangat wajar, karena ibarat yang aku tekankan berulang kali, film dan novel ialah media yang berbeda. Ketika ada beberapa kepingan dari novel Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 yang hilang di versi film, aku tidak terkejut. Selama inti utama dongeng tidak ikut terpangkas, itu bukan sesuatu yang dipermasalahkan. Kloves dan Yates sudah berhasil menceritakan kembali apa yang seharusnya diceritakan. Jika menuntut untuk setia 100 % kepada novel maka akan susah. Selain durasi akan menjadi melar, belum tentu penonton yang tak pernah membaca versi novelnya akan suka. Memuaskan semua pihak memang bukan kasus yang mudah. Namun untuk sebuah adaptasi, Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 ini sudah digarap dengan sangat baik. Sinematografinya cantik, special effect-nya megah dan musik gubahan Alexandre Desplat sangat indah. Musik dari Desplat yang terkadang membuat aku emosional ini membantu tiap scene terasa lebih hidup.

Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint menyampaikan performa terbaik mereka disini. Kemampuan akting mereka semakin terasah dan akting Radcliffe sebagai Potter pun mulai bisa diterima. Malangnya, perjuangan keras mereka untuk berakting dengan tepat dilibas oleh akting memukau Maggie Smith. Professor Minerva McGonagall tidak pernah semenarik ini sebelumnya. Penampilannya singkat, namun membekas. Rasanya tidak ada yang keberatan jikalau aku menyampaikan bahwa Maggie Smith ialah scene stealer di film ini. Selain penampilan apik Smith, rata-rata pemeran pendukung menyampaikan kemampuan akting kaliber atas. Alan Rickman, Ralph Fiennes, Michael Gambon dan Helena Bonham Carter mengambarkan bahwa mereka layak disebut sebagai pemain film papan atas. Rickman membuat aku iba sekaligus kesal terhadap Severus Snape, sementara Carter tak pernah gagal membuat aku tertawa terbahak-bahak. Lihat saja aksinya ketika memainkan Bellatrix Lestrange palsu. Salah satu adegan favorit aku di film ini. Fiennes juga bermain sangat berpengaruh ketika memerankan Voldemort. Dia sukses menyampaikan sisi ringkih dari Voldemort, namun tetap terlihat menyeramkan. Disinilah salah satu letak kekuatan dari franchise ini. Setiap tokoh mempunyai alasan kehadiran di dalam dongeng dan karakternya berpengaruh nan manusiawi. Banyak sekali ‘life lessons’ yang bisa dipetik dari setiap tindak tanduk para tokoh disini. J.K. Rowling tidak mencoba untuk menguliahi pembacanya, pesan itu akan secara eksklusif terserap jikalau pembaca memahami apa yang disampaikan oleh Rowling. Sungguh menakjubkan.

Bagian epilog dari franchise paling menguntungkan ini menyoroti petualangan Harry, Ron dan Hermione, dalam mencari tiga Horcrux terakhir yang harus dihancurkan. Pencarian menjadi semakin tidak gampang karena Lord Voldemort telah menemukan salah satu tongkat sihir terkuat, Elder Wand, dan bersama pasukannya, “He-Who-Must-Not-Be-Named” merapatkan diri ke Hogwarts. Peperangan terbesar dalam dunia sihir pun tak terelakkan. Kemerdekaan dunia sihir ada di tangan cendekia balig cukup akal berusia 17 tahun, Harry Potter. Saya tidak perlu menceritakan kepingan apa saja yang menarik di film ini. Anda harus menyaksikannya sendiri. Yang pasti, ini ialah penyesuaian terbaik dari semua versi film Harry Potter. Adegan peperangan di final film mungkin terkesan dibentuk terburu-buru, namun tetap terasa megah. Kematian Dumbledore yang datar dan hilangnya peperangan Hogwarts dari Half-Blood Prince, ditebus disini. Meskipun tidak bisa melampaui pencapaian final dari The Lord of the Rings atau Toy Story yang sangat menakjubkan, David Yates telah memberi sebuah final yang sangat memuaskan dan layak bagi salah satu franchise terbaik dekade ini. Rasanya akan sulit menemukan sebuah seri yang begitu megah dan digarap secara apik ibarat ini dalam beberapa tahun ke depan. J.K. Rowling ialah seorang yang jenius.

Outstanding