October 23, 2020

Review : Heart Attack

“Do you have a girlfriend?”
“If I don’t, What is your medical opinion about having one or not?”

Sebagai rumah produksi paling terkemuka di industri perfilman Thailand, kualitas film-film keluaran GMM Thai Hub (atau biasa disingkat GTH) memang seringkali sanggup dipertanggungjawabkan. Dari mereka, para penikmat film mendapat Hello Stranger, Bangkok Traffic Love Story, ATM Errak Error, Pee Mak, hingga paling segar di ingatan, I Fine Thank You Love You. Kini, menggandeng sutradara indie Nawapol Thamrongrattanarit (Mary is Happy, Mary is Happy) dan memasangkan Sunny Suwanmethanon (I Fine Thank You Love You) dengan Davika Hoorne (Pee Mak) di garda terdepan, GTH meluncurkan sebuah gelaran komedi romantis manis bertajuk Heart Attack – atau Freelance, judul yang digunakan di negeri asalnya. Dijual sebagai romansa antara seorang dokter dengan pasiennya, kenyataannya Heart Attack tidak semata-mata mengedepankan kisah percintaan dua sejoli ini lengkap dengan segala kekonyolan-kekonyolan menyertai selayaknya film sejenis produksi GTH, tetapi turut menjlentrehkan pahit manisnya bekerja freelance yang dihantarkan dalam penceritaan bergaya indie dan thoughtful yang memungkinkan penonton untuk berkontemplasi. Ya, Heart Attack terperinci tidak sedangkal yang diperkirakan banyak pihak. 

Hidup sebagai seorang pekerja lepas di bidang desain grafis, bagi Yoon (Sunny Suwanmethanon) tidaklah mudah. Guna memuaskan para klien dengan hasil kerja maksimal, ia menghabiskan seluruh waktunya untuk memantengi layar komputer tanpa mempunyai waktu cukup untuk beristirahat, berolahraga, apalagi bersosialisasi. Satu-satunya orang yang kerap berinteraksi dengannya yaitu Je (Violette Wautier), distributor Yoon. Permasalahan mulai menghampiri Yoon sesudah puluhan ruam kulit mendadak menghiasi tubuhnya sesudah Yoon tidak tidur selama beberapa hari. Tidak ingin pekerjaannya yang menumpuk terganggu, Yoon memutuskan untuk berobat ke sebuah rumah sakit umum. Menganggap ruam sebagai kutukan, pada awalnya, pikiran Yoon lantas perlahan berubah seusai mendapati dokter yang merawatnya, Im (Davika Hoorne), mempunyai paras yang cantik. Berkunjung setiap bulan untuk mengontrol perkembangan penyakit ini, hubungan keduanya kian akrab. Yoon mulai mencicipi getaran-getaran tidak biasa disertai munculnya tekad untuk menjalani contoh hidup yang lebih sehat meski konsekuensinya yaitu kehilangan pekerjaan impian. 

Salah satu yang menarik dari Heart Attack yaitu film ini mempunyai feel agak berbeda dibanding film rilisan GTH selama ini mengikuti style dari sang sutradara yang indie banget. Sedikit banyak mengingatkan pada film Nawapol Thamrongrattanarit sebelumnya, Mary is Happy, Mary is Happy. Eksperimen dari studio penghasil Shutter berwujud gaya tutur yang sedikit nyentrik – nadanya tenang, sesekali terdengar iringan musik atau backsound (ingat, hanya sesekali!) di sela-sela Yoon menarasikan isi pikirannya – mungkin akan sedikit janggal bagi penonton yang kedarung terbiasa dengan cara bercerita film-film GTH yang sangat ngepop. Tapi tidak perlu risau, sesudah 30 menit berlalu yang menandai pertemuan Yoon dan Im sekaligus pertama kalinya humor benar-benar bekerja efektif untuk menciptakan saya tertawa terbahak, kau akan mulai terbiasa bahkan menikmatinya. Lagipula, selain cara penyampaian yang sekali ini berasa eksentrik, Heart Attack masih mengaplikasikan sederet formula wajib dari film produksi GTH: pengisahan beserta guyonan lekat keseharian, sensasi feel-good seusai menonton, dan tentunya, performa besar lengan berkuasa jajaran pemainnya. 

Ya, kau masih akan tertawa maupun tersentuh selama menonton Heart Attack yang jalinan pengisahannya bakal dengan gampang menyentil sejumlah orang, khususnya kalau pernah mencicipi nikmatnya (…plus sengsaranya!) bekerja freelance. Kalaupun kau belum pernah melaluinya, Nawapol Thamrongrattanarit memotret kerasnya industri ini menurut pengalaman nyatanya secara cukup akurat yang bisa jadi merubah pandanganmu soal mata pencaharian yang membutuhkan disiplin, tekad, dan tanggung jawab tingkat yang kuasa semoga sanggup menuju puncak ini. Tapi, apakah ini berarti lawakannya akan bersifat, hmmm… segmented? Tentu saja tidak. Bukankah kebanyakan dari kita, khususnya kalau kau sudah meduduki dingklik kuliah atau bekerja, pernah menjalani lembur demi mati-matian merampungkan kiprah yang telah mendekati tenggat waktu sampai-sampai masa kurang cendekia terhadap kesehatan salah satunya dengan menenggak minuman berenergi sebanyak mungkin? Pernah mencoba untuk tidur lebih awal namun berujung kegagalan lantaran malah justru memikirkan banyak hal? Pernah mendapati antrian panjang yang luar biasa tidak masuk akalnya di puskesmas (atau rumah sakit umum)? Atau, sekadar pernah berusaha menjalani hidup lebih baik semoga lumayan orang terkasih? Apabila kau pernah mengalami setidaknya sebagian besar diantaranya, maka tidak sulit bagimu terhubung ke Heart Attack yang juga mengajakmu berkontemplasi memikirkan makna bahu-membahu dari sebuah kebahagiaan, kebebasan, kerja keras, persahabatan dan kehidupan. Deep! 
Tuturan renyah berisi kreasi Nawapol Thamrongrattanarit ini tentu tidak akan bekerja maksimal tanpa sokongan para pelakon. Mengingat salah satu andalan film rilisan GTH yaitu akting berkualitas tinggi, jadi kau bisa mengharapkan itu di Heart Attack. Dua bintang utamanya, Sunny Suwanmethanon dan Davika Hoorne, memberi parade akting menawan yang diikuti juga para pemain drama pembantu. Berhasil melepaskan diri dari imej cool Gym di I Fine Thank You Love You, Sunny melebur ke karakternya yang ambisius, kikuk, serta kesepian secara tepat sehingga berhasil meyakinkan penonton bahwa Sunny yaitu Yoon. Saat Yoon didera cobaan, kita pun bersimpati penuh kepadanya, berharap segalanya kembali menyerupai semula dan pada risikonya memenangkan hati Im. Begitu pula yang kita rasakan pada Davika Hoorne, seorang dokter muda kesepian yang masih terlihat ragu-ragu terhadap kemampuannya sendiri. Ada keinginan memeluknya (bukan modus!) ketika orang renta pasiennya menyemprot habis-habisan disebabkan salah mendiagnosis. Saat keduanya bersatu di layar, ada semacam getaran sulit dideskripsikan yang menciptakan kita berharap-harap cemas pada kelanjutan hubungan mereka. Berharap mereka bersatu menyerupai ketika kita menonton sebuah film romansa bagus.

Outstanding