October 20, 2020

Review : Hello Goodbye


“Kamu jangan murka sama perpisahan. Memaki perpisahan sama aja kau mengutuk pertemuan.” – Indah

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan melesak ke posisi atas sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler, setidaknya bagi warga Asia. Popularitas negara ini terbantu oleh produk dari industri hiburan mereka yang tergabung dalam ‘Korean Wave’ yang telah hampir satu dekade menjadi virus yang menginfeksi generasi muda. Tidak hanya Indonesia yang mengakui pesona Negeri Gingseng ini. Sebelumnya, Thailand melalui film bertajuk Hello Stranger telah menyoroti bagaimana fenomena demam Korea merebak di kalangan muda-mudi negara yang dipimpin oleh Raja Rama IX tersebut. Alurnya klasik, dua orang absurd yang berasal dari negara yang sama tidak sengaja berjumpa dengan rasa benci atas satu sama lain sebelum akibatnya benih-benih cinta tumbuh. Akan tetapi cara kemasnya yang menarik menciptakan film menjadi lezat untuk disimak. Beberapa tahun berselang sehabis Hello Stranger dilempar ke pasaran, Indonesia mengikuti langkah dari negara tetangga. Film perdana Titien Wattimena sebagai sutradara, Hello Goodbye, memboyong setting ke Korea Selatan – atau dalam film ini bertempat di Busan. Konflik yang diangkat pun tak berbeda jauh dengan Hello Stranger hanya saja dituturkan lebih kalem, lebih dewasa, dan lebih manis di sini. 
Hello Goodbye memperkenalkan kita kepada Indah (Atiqah Hasiholan) yang bekerja sebagai staf Konsulat Jenderal RI di Busan. Layaknya para pegawai anyar yang pertama kali ditempatkan jauh dari kampung halaman, Indah pun seringkali dihantui oleh ‘homesick’. Menetap di negeri orang dengan kultur dan bahasa yang sama sekali berbeda, maka bukan sesuatu yang mengherankan kalau Indah kerap merasa kesepian sekalipun mempunyai sobat satu rumah (Kenes Andari) yang senantiasa menebar keceriaan. Rasa jenuhnya sedikit terobati sehabis sang atasan mengutus Indah untuk menangani Abi (Rio Dewanto), seorang ABK asal Indonesia yang terkena serangan jantung. Bukanlah duduk kasus yang gampang berhadapan dengan Abi yang tak bisa mengontrol temperamennya. Pertengkaran menjadi santapan Indah sehari-hari setiap kali menemani Abi di rumah sakit. Apa yang menjadi impian Indah kala itu ialah merampungkan pekerjaannya dan kembali kepada kehidupan normalnya (atau kehidupan yang monoton?). Akan tetapi, Anda tentu sudah mengira impian itu tidak akan terwujud alasannya ialah dikala ini Anda tengah menyaksikan film drama romantis. Wajib hukumnya timbul percikan asmara diantara dua manusia yang saling membenci satu sama lain ini. Apakah itu akan terjadi dalam film ini? Oh tentu saja! Tunggu saja sehabis Abi dan Indah mulai menyadari tindakan ndeso nan kekanak-kanakan masing-masing. 

Untuk urusan menggoreskan tinta di atas kertas, Titien Wattimena tak perlu diragukan lagi. Dia ialah salah satu yang terbaik. Sangat jarang saya dikecewakan oleh film yang berdasar pada naskah garapan beliau. Sebuah ide kisah yang sederhana bisa disulap oleh Mbak Titien menjadi jalinan kisah yang renyah, cerdas, dan berisi. Dalam Hello Goodbye, bebannya bertambah alasannya ialah untuk sekali ini dia tidak hanya berceloteh dalam bentuk goresan pena semata, namun turut bertanggung jawab mengejewantahkan imajinasinya ke bahasa gambar. Dan usahanya sebagai sutradara – sehabis sebelumnya telah berlatih sebagai astradara dalam sejumlah film, patut menerima acungan dua jempol. Dia bisa mewujudkan ide-idenya dalam bentuk audio visual dengan sangat cantik. Sebagai sebuah drama romantis, Hello Goodbye mempunyai dosis yang pas dan tidak kelewat lebay untuk urusan mengumbar romantisme. Dialog-dialognya yang mengalir lancar, kuat, dan lucu menjadi kekuatan utama film yang gaya tuturnya ibarat perpaduan antara serial dan film Korea dengan Hello Stranger serta Before Sunrise ini. Untuk sesaat Anda akan lupa bahwa apa yang tersaji di layar ialah buatan anak bangsa, dalam artian aktual tentunya. Tidak ada upaya untuk ‘sok Korea’ atau menjiplak, ‘hiasan’ di sini tak lebih dari sekadar terinspirasi untuk kemudian dihidangkan dengan cara yang berbeda. 
Skrip buatan Mbak Titien yang manis, menyenangkan, dan menciptakan gregetan akan terasa hirau taacuh apabila tidak menerima santunan dari departemen lain. Beruntunglah Hello Goodbye mempunyai Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto yang mempertontonkan chemistry mereka yang sungguh luar biasa! They are such a loveable couple. Penampilan berpengaruh mereka menawarkan energi serta semangat kepada skrip yang mempunyai potensi berjalan datar apabila tidak menerima penangan serta sokongan yang tepat. Berkat dua bintang inilah obrolan terasa hidup. Dialog yang berisi percakapan yang terkadang ketus, penuh makna, lucu, dan sedih. Saya pun dibentuk betah duduk di dalam bioskop tanpa sekalipun ingin muntah atau menengok jam di ponsel. Apa yang akan terjadi dalam relasi Abi dan Indah selanjutnya sedap untuk disimak. Berulang kali saya mendengar penonton lain berteriak ‘Awww…’, ‘So sweet…’ dan bentuk ekspresi-ekspresi lainnya. Puncaknya tentu saja pada adegan simpulan yang menciptakan gemas maksimal sampai menciptakan saya ingin menelan keranjang popcorn bulat-bulat. Segalanya semakin manis dan indah berkat Yunus Pasolang yang berilmu dalam mengabadikan pemandangan Busan yang memesona serta menghadirkan sebuah ‘shot’ di penghujung film yang alamak, elok sangat! Jangan lupakan pula duet simpulan hidup Eru dan Atiqah Hasiholan dalam ‘Black Glasses’ yang pemakaiannya sempurna guna dan sungguh meracuni. Hingga keesokan harinya seusai menyaksikan Hello Goodbye di bioskop, tembang ini masih saja berputar-putar di kepala. Saranghaeyo nado eulgoissohyo, oh nan…

Note : Pssstttt… Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop dikala credit title mulai bergulir. Ada sebuah ‘bonus adegan’ yang sayang sekali untuk dilewatkan. Bersabarlah. 

Exceeds Expectations