November 27, 2020

Review : Her


“I think anybody who falls in love is a freak. It’s a crazy thing to do. It’s kind of like a form of socially acceptable insanity.” – Amy
Her milik Spike Jonze ini bukanlah jenis tontonan yang akan menciptakan Anda mengucap, “betapa romantisnya!” yang berlanjut ke tindakan mengusap air mata di dalam bioskop… dan kemudian melupakannya begitu saja tanpa pernah lagi peduli beberapa hari kemudian – setidaknya sehabis menemukan film percintaan yang lebih mengoyak emosi. Bukan. Anda akan sulit untuk mengenyahkan film yang satu ini dengan gampang dari benak pikiran alasannya yaitu jelas, Her bukanlah film percintaan yang biasa-biasa saja. Ini sebuah hidangan yang begitu istimewa. Bahkan, Anda akan mendapati aneka macam macam rasa yang tertinggal usai menyaksikan Her. Tidak hanya sekadar menyisakan rasa manis, tetapi juga ada percampuran antara kehangatan, kebahagiaan yang tiada terkira, hingga getir yang menyayat hati.  

Film memperkenalkan kita kepada Theodore Twombly (Joaquin Phoenix), seorang penulis andalan di sebuah perusahaan yang mengatakan jasa penulisan surat dengan isian yang menyentuh bagi mereka yang tak mahir (atau tak mempunyai waktu) merangkai kata untuk orang terkasih. Memiliki kehidupan yang sukses – tergambar dari pekerjaan yang sejalan dengan minat, teman-teman yang peduli, dan apartemen yang glamor – Theodore seharusnya bahagia, tapi kenyataan berbicara lain. Theodore yang kesepian, mendambakan figur seorang perempuan untuk melalui sisa hidup bersama. Masalahnya, Theodore masih sulit melupakan sang mantan istri, Catherine (Rooney Mara). Upaya sang sahabat, Amy (Amy Adams), untuk mencomblangkannya pun tak berbuah hasil. Sebagai bentuk pelarian dari rasa kesepian, Theodore bercakap-cakap dengan sebuah sistem operasi yang menamai dirinya Samantha (Scarlett Johansson) yang tadinya dimaksudkan untuk meringankan pekerjaannya. Dari awalnya sekadar iseng, dialog ini berlanjut kian intens hingga tanpa disadari… Theodore jatuh cinta pada Samantha! 

Jatuh cinta kepada… sebuah operating system (OS)? Like, seriously? Dan ya, jalinan penceritaan dalam kisah cinta yang dicetuskan oleh Spike Jonze ini memang terbilang eksentrik dan berbeda. Tapi bergotong-royong yang terjadi, Jonze hanya meramalkan (atau mendramatisir?) apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang wacana interaksi komunikasi antar manusia. Di masa dimana masyarakat dunia sekarang lebih gemar ‘bersosialisasi’ dengan gadget canggih yang dimiliki, bukankah tergolong masuk nalar di masa depan akan tercipta sebuah teknologi yang memungkinkan insan untuk berinteraksi lebih mendalam dengan dunia di dalam ponsel genggam sebagai bentuk pelarian dari dunia konkret yang terlalu memusingkan? Bisa jadi, you’ll never know. Menggunakan satir sosial-politik masa sekarang sebagai dasar, Jonze lantas mengembangkannya menjadi skrip kisah percintaan yang cerdas dan asli bernuansa futuristis. 

Apa yang kemudian disampaikan oleh si pembuat film pun tak hanya sekadar terasa ‘nyeleneh’, tetapi juga begitu jujur, simpatik, hangat, jenaka sekaligus personal. Ditemukannya sisi humanisme, bermacam-macam emosi, dan karakteristik yang berpengaruh untuk sejumlah tokoh di dalam penceritaan yaitu yang menjadi kunci utama mengapa begitu gampang bagi penonton untuk terikat dengan Her. Kita memahami perasaan yang menghujam Theodore; kehampaan hidupnya, ketakutannya memulai babak gres menjalin hubungan, kebahagiannya kala menemukan cita-cita adanya sosok pengganti Catherine, hingga kesakitannya ketika menghadapi kenyataan yang berujung pada ‘pengkhianatan’. Penghayatan penuh yang dilakukan oleh Joaquin Phoenix untuk menghidupkan tokoh Theodore yang ringkih ini menciptakan penonton merasa mengenal, dekat, dan peduli terhadap apa yang dialaminya. Kita merayakan kegembiraan bersamanya dan kita juga teriris pedih bersamanya. 

Lalu, kita pun dibentuk jatuh hati kepada Samantha yang telah mengatakan warna cerah di atas kertas kehidupan Theodore yang buram. Tanpa pernah sekalipun menampakkan diri, hidup dan matinya tokoh berbentuk sistem artifisial ini bergantung sepenuhnya kepada pemberian bunyi dari Scarlett Johansson. Begitu Anda mendengar bunyi dari Samantha, Anda akan memahami alasan mengapa Theodore sanggup begitu tergila-gila terhadap sosok tak konkret ini. Scarlett Johansson mengatakan jiwa dan gairah melalui lantunan vokalnya yang renyah dan menghangatkan sehingga sosok Samantha pun menjadi terasa begitu hidup, dekat, dan gampang untuk dicintai. Bahkan, meski berbeda ‘alam’, keduanya pun berhasil menjalin chemistry yang begitu meyakinkan melalui serangkaian percakapan intens yang cerdas, manis, lucu, tetapi juga sangat pahit. Sungguh buah karya yang sangat mengagumkan dari seorang Spike Jonze. Bravo! 

Outstanding

Sebagai bonus, saya menyertakan sebuah klip audio dari soundtrack Her, ‘The Moon Song’, yang dibawakan oleh Karen O. Tidak sepopuler ‘Let It Go’ memang, tetapi sangat mengesankan.