October 22, 2020

Review : Hereditary


“Sometimes I swear I can feel her in the room.” 

Sebelum kau menetapkan untuk menebus tiket Hereditary di loket bioskop, ada satu pertanyaan yang mesti kau jawab dengan sejujur-jujurnya: apa ekspektasimu terhadap film ini? Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk menjadikan keragu-raguan, melainkan demi menetapkan pengharapan yang semestinya semoga tidak keluar dari gedung bioskop dengan muka yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa (sampai tak berbentuk lagi). Betapa tidak, Hereditary yang kerap disebut-sebut sebagai ‘film horor paling seram’ oleh kritikus di negeri Paman Sam ini bukanlah tontonan angker konvensional yang bergantung pada serentetan penampakan hantu dengan tata rias kelas wahid demi menciptakan penontonnya menjerit-jerit hingga mengibarkan bendera putih atau terlonjak dari dingklik bioskop hingga menembus atap. Bukan. Jika kau menengok agen dari Hereditary, yakni A24, dan mengetahui jejak rekam mereka dalam mendistribusikan film horor (beberapa judul rilisan mereka ialah The Witch dan It Comes at Night), maka tidak ada kesulitan untuk menerka gelaran mirip apa yang bakal disajikan oleh Ari Aster dalam karya panjang perdananya ini. Hereditary tidak bergegas dalam bercerita dan menentukan untuk melantunkannya secara perlahan-lahan. Cara ini mungkin tidak akan cocok bagi sebagian penonton, tapi jikalau kau sanggup mendapatkan sajian bertipe ‘slow burn’, Hereditary akan menggoreskan memori jelek (dalam arti faktual bagi film horor) setapak demi setapak. 

Hereditary menempatkan fokus penceritaannya kepada sebuah keluarga yang gres saja dirundung duka. Mereka ialah keluarga Graham yang konfigurasinya terdiri dari pasangan suami istri Steve (Gabriel Byrne) dan Annie (Toni Collette), beserta kedua anak mereka yaitu Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Shapiro). Duka yang dimaksud yakni kehilangan sesosok nenek – ibu dari Annie – yang sebelumnya tinggal bersama mereka untuk beberapa saat. Meski Annie sanggup dibilang mempunyai hubungan yang jelek dengan sang ibu di masa lampau, Annie yang berprofesi sebagai seniman ini tampak terpukul dengan meninggalnya sang ibu. Dia bahkan menetapkan untuk bergabung ke sebuah kelompok konseling demi meredakan sedih yang merundung dirinya. Untuk beberapa saat, Ari Aster membiarkan penonton bergumul dalam antisipasi-antisipasi meresahkan hati terkait “kapan keluarga Graham akan dihantam oleh teror?” atau “siapa yang akan menciptakan hidup mereka menderita selama dua jam ke depan?”. Ya, kita mengetahui secara niscaya siapa yang menjadi korban dalam Hereditary, tapi kita tidak pernah tahu siapa yang memperlihatkan teror atau kapan teror tersebut akan benar-benar hinggap. Saya tidak akan menjabarkan apa yang lantas terjadi selepas Annie mengikuti kelompok konseling alasannya disinilah letak kenikmatan dalam melahap Hereditary: tahu sesedikit mungkin. Yang sanggup saya katakan kepadamu hanyalah, segalanya bertambah jelek dari hari ke hari bagi keluarga Graham.

Seusai lonjakan hebat pertama di Hereditary (yang kedatangannya tak pernah saya ramalkan), film tak seketika mengeskalasi laju penceritaan. Si pembuat film seolah ingin benar-benar memastikan bahwa para penonton sanggup mencicipi apa yang para abjad inti rasakan dalam setiap hembusan nafas mereka. Bagaimana mereka berusaha untuk berdamai dengan kehilangan dan sedih memakai cara masing-masing yang lantas berujung pada timbulnya duduk kasus lain dalam keluarga. Untuk sesaat, alih-alih tampak mirip film horor, Hereditary lebih mirip sebuah drama domestik yang menyoroti ‘hiruk pikuk’ sebuah keluarga disfungsional. Annie mengalami depresi akhir luka di masa lalu, Peter merasa sang ibu membencinya sehingga beliau tak pernah terlihat bahagia, Charlie terasing dari pergaulan sosial, sementara Steve mencoba untuk mengembalikan keharmonisan keluarga ini yang telah menguap entah kemana. Sepanjang satu jam pertama (betul, tuan dan nyonya!), kita diminta mengobservasi satu demi satu abjad demi memahami mirip apa tersiksanya berada di posisi mereka yang sanggup jadi telah lupa definisi dari bahagia. Ditunjang oleh performa amat mengesankan dari jajaran pemain, khususnya Toni Collette yang terlihat amat tertekan dan telah kehilangan arah tujuan, bukan kasus sulit bagi kita untuk menaruh tenggang rasa kepada keluarga Graham yang kemudian seiring berjalannya durasi beralih menjadi kecurigaan, kecemasan, hingga ketakutan.  

Ketakutan disini bukan diperoleh dari sesosok misterius yang tiba-tiba bersliweran di rumah keluarga Graham. Ketakutan tersebut mencuat akibat: 1) tidak ingin melihat keluarga kecil ini tercerai berai (sekalipun mereka bukanlah representasi keluarga ideal), 2) membayangkan seandainya kekacauan ini mengetuk pintu rumah kita, dan 3) imaji-imaji ‘mengganggu’ yang diciptakan oleh si pembuat film demi mendeskripsikan serentetan duduk kasus dalam bentuk visual yang sekaligus berfungsi untuk menguarkan rasa ngeri. Mungkin deskripsi berikut ini tidak begitu mempunyai impak apabila kau belum menyaksikan Hereditary, tapi ada rasa tak nyaman yang menggelisahkan melihat tindak tanduk Annie dan Charlie yang tidak saja sulit untuk diterka tetapi juga mempunyai motif meragukan. Bahkan di satu titik saya dibentuk bertanya-tanya, apakah kekacauan yang ditimbulkan oleh Annie di rumahnya sendiri (salah satunya amat mengerikan) dipicu oleh gangguan kejiwaan atau ada campur tangan demit? Mengapa Charlie sanggup sedemikian aneh? Bukan asing yang nyentrik atau sejenisnya, melainkan asing mirip disusupi oleh kekuatan jahat dari alam lain. Entah dengan kalian, tapi jikalau saya ialah Peter, mungkin sudah tunggang langgang meninggalkan rumah (yang lokasinya juga jauh dari peradaban) tatkala mendapati orang-orang yang seharusnya memberi kenyamanan justru memperlihatkan gelagat tak masuk akal yang mengancam keselamatan. Atau setidaknya, meminta pertolongan – sekalipun kita tahu pihak berwajib tidak sanggup diandalkan di film horor. 

Jika keberadaan Anniie dan Charlie belum cukup untuk membuatmu duduk gelisah di dingklik bioskop, tunggu hingga Ari Aster mengacaukan kenyamananmu dengan imaji-imaji yang sepertinya dipesan khusus dari pabrik pencipta mimpi buruk. Seperti telah ditekankan sebelumnya, Hereditary tidak meneror penonton dengan kemunculan memedi yang mendadak kemudian diiringi musik yang menciptakan kita terperanjat. Teror penonton didapat alasannya ada perasaan tidak nyaman bersama keluarga Graham (walau hati kecil ini berharap, mereka baik-baik saja) di rumah yang kekurangan penerangan milik mereka, kemudian atmosfer mengusik dari tata bunyi beserta iringan musik yang pendekar bikin bulu kuduk meremang, dan perlahan tapi niscaya akhir munculnya sederet imaji dengan kata kunci “kepala buntung”, “kerumunan semut”, “merayap di dinding”, “membara” hingga “bermain-main dengan leher” yang sedikit banyak meninggalkan dampak traumatis mirip gres saja terbangun dari mimpi jelek yang sangat buruk. Apabila kau bersabar hingga menit terakhir, Ari Aster akan memberimu ‘hadiah’ dalam bentuk 30 menit terakhir yang nada penceritaannya cenderung sangat berbeda dengan menit-menit sebelumnya. Disinilah, gong sebenarnya dari Hereditary tersimpan. Segala rasa gelisah mencapai puncaknya di babak ini yang sanggup jadi akan membuatmu ingin cepat-cepat keluar dari ruang pemutaran demi menghirup udara segar untuk menenangkan pikiran.

Outstanding (4/5)