October 20, 2020

Review : Hi5teria

 Proyek cita-cita dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada  REVIEW : HI5TERIA

“Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah perempuan berbadan dua. Atau bayi yang masih suci..” – Vita
Lima sutradara, lima rasa takut, lima mimpi buruk. Proyek cita-cita dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Phobia 2 dari Thailand atau Takut dari dalam negeri. Film bergenre horror dengan konsep omnibus. Namun pada dasarnya, Hi5teria mempunyai semangat yang sama dengan FISFiC Vol. 1 yang lahir dari INAFFF tahun lalu, sutradara-sutradara pendatang gres memegang kendali di setiap segmen sementara Upi Avianto memantau dari dingklik produser. Lagi-lagi, ibarat halnya FISFiC, Hi5teria tidak mempunyai benang merah yang mengaitkan antar satu segmen dengan segmen lainnya, kesamaan hanya terletak pada huruf utama yang didera terror ialah wanita, dan adanya twist yang terselip di penyelesaian masalah. Kelima perempuan yang ‘sial’ tersebut ialah Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, dan Ichi Nuraini, sedangkan posisi ‘algojo’ ditempati oleh Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah. Premisnya menarik, mencoba mengangkat kisah-kisah mistis yang beredar di sekitar kita.

Tara Basro dijadikan sebagai tumbal pertama. Dia ialah Sari, dalam segmen Pasar Setan, yang terpisah dari kekasihnya dikala mendaki gunung. Tersesat di hutan, Sari bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Mereka berdua terus menerus melewati jalan yang sama, tidak kunjung menemukan jalan setapak yang membawa mereka keluar dari hutan. Suara-suara asing mulai menghantui. Sebagai sebuah pembuka, Pasar Setan menjanjikan. Ketegangan dibangun secara perlahan-lahan. Adriyanto Dewo sanggup mengimbangi kepiawaian Affandi Abdul Rachman dikala menggarap Pencarian Terakhir. Endingnya pun terasa pas, malah saya menganggapnya ini ialah ending terbaik dari semua segmen. Meski tidak semencekam segmen-segmen berikutnya, Pasar Setan mengatakan kengerian yang faktual terutama bagi para pendaki gunung. Secara personal, saya menentukan segmen ini sebagai favorit saya alasannya ialah pengalaman pribadi dimana saya beberapa kali mengalami sebuah mimpi jelek dimana saya selalu kembali ke tempat yang sama sekalipun telah berjalan jauh. Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan Pasar Setan jikalau menyukai Pencarian Terakhir maupun Dead End.

Sementara Wajang Koelit buatan Chairun Nissa yang memasang Maya Otos sebagai wartawan asing yang tengah melaksanakan riset mengenai wayang kulit di sebuah kawasan di Jawa Tengah malah kurang menggigit. Kedekatan setting seharusnya bisa menegakkan bulu roma saya, namun pada kenyataannya segmen ini tidak berjalan sesuai harapan, jalan ceritanya gampang sekali ditebak. Jika ada yang membuatnya terasa menakutkan, maka itu berkat instrumen musiknya. Wajang Koelit ibarat berusaha untuk mengikuti jejak Titisan Naya, dan twist yang disisipkan membuatnya terkesan dipaksakan. Permasalahan yang sama juga menimpa dua segmen berikutnya, Kotak Musik dan Loket. Dalam Kotak Musik, Luna Maya mengalami serangkaian insiden asing yang memaksanya untuk mau tidak mau memercayai hal-hal gaib. Billy Christian memperlihatkan sebuah premis biasa yang dihukum dengan cukup apik, tetapi tensi ketegangan mulai merosot sejak Luna Maya diikuti oleh hantu anak kecil. Jika ada yang menciptakan segmen ini menonjol ialah Luna Maya yang terlihat lebih bagus dari biasanya serta sanggup berakting menawan. Dan saya suka sekali setiap beliau melontarkan dialog, “mbok, bikin kaget!”.

Palasik dari Nicho Yudifar menebar kengerian kepada penonton melalui mitos supernatural masyarakat Minangkabau. Diantara segmen-segmen lainnya, Palasik ialah yang terkuat. Imelda Therinne yang sedang hamil besar diajak berlibur oleh suaminya yang sabar dan anak tirinya, Poppy Sovia, yang keras ke sebuah villa. Liburan yang seharusnya damai, menenangkan, dan menciptakan pikiran terasa jernih justru menciptakan Imelda Therinne tergoncang sehabis beliau melihat sebuah kepala terbang. Setelah pembukaan yang memancing rasa penasaran, Nicho Yudifar lantas menggiring kita ke dalam teror yang kian mengerikan setiap menitnya. Visualisasi setan yang menyeramkan namun tidak waria tampil menambah daya tarik tersendiri. Pun begitu, penonton dituntut untuk mencari tahu sendiri apa makna dari ‘Palasik’ alasannya ialah selama film berlangsung, hanya secuil informasi yang diberikan. Menginjak segmen terakhir, Loket, tingkat kesulitan permainan ditingkatkan. Harvan Agustriansyah menyajikan sebuah tayangan yang mendebarkan, dan menciptakan penonton harap-harap cemas. Wanita sial di segmen ini ialah Ichi Nuraini, petugas penjaga loket parkiran basement di sebuah gedung yang mengalami malam yang tidak mengenakkan. Tidak banyak obrolan disini. Kengerian dibangun melalui suasana parkiran yang sunyi sepi nan gelap. Cukup usang penonton ditempatkan dalam posisi yang tidak menyenangkan, dibiarkan menduga-duga sendiri kapan teror yang bergotong-royong akan datang. Ketika apa yang dinanti-nantikan oleh penonton risikonya datang, tensi segera saja menukik turun. Penyelesaiannya menciptakan saya tidak habis pikir. Haruskah diberi twist?

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi setiap segmen di Hi5teria, kenapa twist ending menjadi sesuatu yang wajib dipergunakan? Tidak persoalan jikalau pemakaiannya sempurna ibarat dalam kasus Pasar Setan atau Palasik, tapi itu akan menjadi bumerang bagi filmnya sendiri apabila dipaksakan untuk tampil, ibarat yang terjadi dalam Wajang Koelit, Kotak Musik, dan Loket. Malah akan lebih terasa mencekam, dan tentunya riil, apabila dibiarkan apa adanya. Tidak semua film horror perlu diberi twist ending. Pun begitu, saya cukup puas dengan kinerja dari sutradara-sutradara muda di Hi5teria yang terlepas dari hasil risikonya yang bagus atau mengecewakan. Langkah ibarat yang dilakukan oleh Upi Avianto ini patut menerima apresiasi lebih mengingat ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk menemukan sutradara muda yang mempunyai talenta terpendam. Apabila ada kekurangan disana-sini, tentu masih sanggup dimaklumi. Setidaknya, Hi5teria telah mengatakan sebuah angin segar kepada masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur bersikap skeptis terhadap film horor lokal yang semakin usang kian tak berotak.

Acceptable

 Proyek cita-cita dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada  REVIEW : HI5TERIA