July 2, 2020

Review : How To Train Your Dragon: The Hidden World

“It’s you and me, bud. Always.”

Disamping Toy Story keluaran Pixar, ada satu lagi franchise film animasi yang menggoreskan kesan cukup mendalam di hati, yakni How to Train Your Dragon produksi DreamWorks Animation. Disadur dari rangkaian buku berjudul sama rekaan Cressida Cowell, franchise ini mengenalkan kita kepada satu huruf remaja yang canggung berjulukan Hiccup (disuarakan oleh Jay Baruchel) dan sahabatnya yang merupakan seekor naga berjenis nightfury, Toothless. Dimulai dari pertemuan di jilid pertama (2010) kemudian berlanjut ke petualangan besar dalam How to Train Your Dragon 2 (2014), penonton bisa melihat adanya perkembangan pada dongeng persahabatan mereka sekaligus karakteristik Hiccup. Tampak perilaku saling respek antara satu dengan yang lain, tampak pula perilaku yang memperlihatkan keduanya saling menyayangi dan melengkapi. Toothless menemukan impian hidup untuk kaumnya berkat Hiccup, sementara Hiccup bisa melewati proses pendewasaan diri sehingga pada akibatnya diterima sebagai pemimpin oleh sukunya berkat proteksi Toothless. Di penghujung film kedua, mereka telah bertransformasi sebagai huruf ideal dan Hiccup telah menjadi satu eksklusif yang diperlukan oleh sang ayah. Jika sudah begini, apa yang bisa dicelotehkan oleh How to Train Your Dragon 3: The Hidden World? Berhubung tujuan utama telah tercapai, maka tak ada cara lebih sempurna dari mengakhiri narasi dengan memberi salam perpisahan kepada dua huruf inti dalam franchise ini.

Melalui jilid pamungkas yang mempunyai subjudul The Hidden World ini, kehidupan yang sepertinya ideal telah dipenuhi oleh Hiccup beserta penduduk Berk. Hiccup menjadi pemimpin yang disegani, sedangkan rakyatnya telah hidup rukun bersama para naga yang sekarang mendominasi populasi di Pulau Berk. Disaat para penduduk merasa baik-baik saja, intuisi Hiccup berkata bahwa mereka sudah saatnya menemukan kawasan tinggal baru. Disamping alasannya yaitu kampung halamannya ini sudah tidak layak untuk ditinggali, faktor lain yang juga mendorongnya dalam mencari pulau anyar yaitu keberadaan mereka sebagai pelindung naga telah terlacak oleh para pemburu naga. Salah satu pemburu tersebut, Grimmel (F. Murray Abraham), bahkan berambisi untuk memusnahkan jenis nightfury. Atau dengan kata lain, keberadaan Toothless terancam. Dalam perjalanan untuk menemukan ‘dunia tersembunyi’ dimana para naga bisa hidup dengan hening sentosa menyerupai kata mendiang ayah Hiccup, penduduk Berk tetapkan singgah sejenak di sebuah pulau. Di sini, Toothless berjumpa dengan seekor nightfury betina yang dipanggil Light Fury oleh kekasih Hiccup, Astrid (America Ferrera). Secara perlahan tapi pasti, benih-benih asmara mulai mengemuka diantara mereka yang lantas menghadapkan Toothless pada pilihan untuk meninggalkan sahabatnya dan memulai hidup gres di kawasan yang jauh dari jamahan manusia. Ditengah pertempuran melawan Grimmel dan kegamangannya sebagai seorang kepala suku, Hiccup pun mau tak mau harus menyiapkan diri untuk merelakan kepergian sahabat terbaiknya ini.


Usai seri pembuka yang memunculkan rasa takjub dan jilid kedua yang menghadirkan banyak sekuens laga mendebarkan, instalmen paling kiwari dalam franchise How to Train Your Dragon mencoba tampil bersahaja. Kamu memang masih akan dibentuk terpukau oleh visualnya di sini menyerupai dikala Hiccup beserta Astrid menjelajahi ‘dunia tersembunyi’ yang di dalamnya penuh karang bercahaya, atau animasinya yang menaruh detil lebih pada lisan maupun gestur badan para karakternya. Kamu pun masih akan menjumpai deretan laga mengasyikkan di sini yang sebagian besar berkaitan dengan operasi penyelamatan. Hanya saja, Dean DeBlois yang telah menempati bangku penyutradaraan sedari babak awal menentukan untuk sedikit mereduksinya alih-alih melipatgandakan skalanya menyerupai kebanyakan jilid pamungkas dari franchise besar. Keputusan nekatnya tersebut dilandasi oleh keinginannya untuk memberi kesempatan bagi tumbuh berkembangnya konflik batin yang dihadapi oleh Hiccup. Tentang bagaimana ia menyikapi amanat sebagai seorang pemimpin yang diserahkan kepadanya, perihal bagaimana ia menyikapi kemungkinan perginya Toothless yang selama ini membantunya melewati fase-fase sulit, dan perihal bagaimana ia akibatnya menemukan arti bahwasanya dari “menjadi dewasa” sekaligus “menjadi pemimpin”. Sebuah keputusan yang sedikit banyak memperlihatkan imbas kurang baik pada filmnya itu sendiri khususnya begitu menginjak pertengahan durasi.

Berbeda dengan dua pendahulunya yang terasa enerjik sepanjang durasi, The Hidden World sempat mempunyai momen gontai yang berpotensi ciptakan rasa jenuh bagi penonton cilik maupun penonton dewasa. Pergolakan Hiccup yang diniatkan sebagai sajian utamanya nyatanya tak pernah benar-benar dieksplorasi secara mendalam sehingga konsep “berjuang bersama” yang sempat diutarakan (merujuk pada posisi Hiccup serta hubungannya dengan Astrid) dan bagaimana relasinya dengan warga Berk terasa mentah. Kalau mau tak disebut datar, tentu saja. Yang kemudian membangkitkan instalmen epilog ini dari keterpurukan lebih jauh yaitu suntikkan elemen komedi dari Toothless yang masih saja menggemaskan (apalagi dikala ia merayu Light Fury!) plus celotehan kawan-kawan Hiccup yang sangat efektif dalam mengundang gelak tawa, rangkaian adegan laga beserta visualnya yang memukau menyerupai telah dijabarkan sebelumnya, serta babak titik puncak yang pastinya akan mengundang haru bagi siapapun yang mempunyai ikatan dengan franchise ini sedari awal mula. Ada ketidakrelaan melihat dua sahabat karib ini berpisah jalan, tapi di waktu bersamaan kita bisa memahami bahwa ini yaitu jalan paling masuk nalar yang bisa mereka tempuh. Meski pada akibatnya The Hidden World tidak menutup trilogi secara gegap gempita, tapi jilid ini tetap bisa memperlihatkan salam perpisahan yang layak sekaligus indah bagi dongeng persahabatan Hiccup-Toothless. Entah dengan kalian, tapi jujur, mata aku agak-agak kelilipan dikala menyaksikan end credit yang menguarkan aroma nostalgia pada petualangan dua protagonis junjungan kita ini.
    

Exceeds Expectations (3,5/5)