October 30, 2020

Review : Ice Age : Continental Drift


No matter how long it takes, I will find you!” – Manny 

Apakah Anda masih menanti-nantikan kelajutan petualangan dari tiga sekawan, Manny (Ray Romano), Sid (John Leguizamo), dan Diego (Denis Leary)? Setelah Ice Age: Dawn of the Dinosaurs yang sukses menciptakan saya tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata di dalam bioskop, maka saya langsung menantikan apapun yang berafiliasi dengan franchise ini. Entah dibentuk dalam bentuk sekuel, prekuel, reboot atau spin-off. Walaupun tidak mempunyai sokongan yang kuat dari segi naskah, franchise ini berhasil membawakan sebuah sajian yang seru dan menyenangkan untuk dilahap di masa-masa liburan. Ketiga sobat berbeda spesies ini pun kembali menjumpai para penikmat film di layar lebih terlebih sehabis $886 juta mengucur deras ke dalam kas Blue Sky Studios melalui pengalaman mereka selama mengarungi dunia dinosaurus di bawah tanah. Dalam instalmen keempat yang diberi judul Ice Age: Continental Drift, Manny, Sid, dan Diego – serta Scrat tentunya – dihadapkan pada duduk kasus yang lebih besar, lebih kacau, dan lebih menghebohkan dari sebelumnya. Sebuah perjalanan yang akan mengambarkan sebuah pesan moral klise, tapi tetap penting dan relevan, mengenai pentingnya arti dari keluarga dan sahabat. 

Dalam Ice Age: Continental Drift, duo sutradara Steve Martino dan Mike Thurmeier membawa kawanan ini dalam jalinan konflik yang lebih lebar ketika benua es yang mereka tempati mulai terpisah ibarat yang kita ketahui ketika ini. Akar permasalahan tidak berasal dari alam, melainkan dari maskot Ice Age, Scrat, yang masih saja terobsesi dengan biji acorn sehingga terjadilah perubahan tektonik ini. Kecerobohan Scrat menciptakan Manny terpisah dari keluarganya dan terpaksa mengarungi lautan memakai bongkahan es sebagai bahtera bersama Sid dan Diego, serta pendatang gres yang tak henti-hentinya mencuri perhatian, Granny (Wanda Sykes), nenek Sid yang sangat merepotkan sampai-sampai dibuang oleh keluarganya sendiri demi memersatukan kembali Manny dengan sang istri, Ellie (Queen Latifah). Dalam perjalanan ini, mereka bertemu dengan sekawanan perompak yang dipimpin oleh seekor orangutan berjulukan Captain Gutt (Peter Dinklage). Disini, Gutt ditempatkan sebagai versi gelap sekaligus musuh utama dari Manny. Gutt meminta kumpulan ini untuk bergabung bersamanya dan meninggalkan keluarga mereka, namun Manny menolaknya mentah-mentah. Penolakan ini dianggap sebagai sebuah pelecehan bagi Gutt. Gutt pun menitahkan awak kapalnya untuk memaksa Granny berjalan di atas papan. Belum juga harapan sang bajak maritim terwujud, Diego dan Manny mempunyai inspirasi cemerlang yang membantu mereka meloloskan diri dari Gutt. 
Selain Granny dan Gutt, kita pun diperkenalkan dengan beberapa tokoh gres lain yang bisa jadi akan bergabung bersama Manny, Sid, dan Diego, ke dalam jajaran tokoh utama di film berikutnya. Di plot yang melibatkan Manny beserta konco-konconya, hadir Shira (Jennifer Lopez), yang awalnya menjadi pecahan dari kru kapal Captain Gutt, sebagai love interest dari Diego. Sementara untuk plot dimana Ellie menjadi bintang utama, muncul Peaches (Keke Palmer), putri Manny dan Ellie yang telah tumbuh dewasa, serta Louis (Josh Gad), sobat Peaches yang kerap menjadi materi olok-olok namun rahasia memendam perasaan ke Peaches. Yang menjadi benang merah antara kedua plot ini yaitu korelasi Manny dengan Peaches. Sebelum mereka terpisahkan, Peaches bertengkar mahir dengan sang ayah yang terlalu protektif. Manny masih memerlakukan putrinya layaknya gadis kecil, sementara dalam realitanya Peaches telah tumbuh dewasa, mencoba untuk mandiri, dan menginginkan kebebasan. Peaches mencicipi penyesalan yang begitu mendalam ketika tragedi ini terjadi dan membawa Manny jauh darinya. Di tengah-tengah konflik utama, dimunculkan subplot yang bersinggungan dengan proses pencarian jati diri. Peaches ingin bergabung ke dalam kawanan Mammoth remaja yang menganggap diri mereka keren dan populer. 

Semakin sesaknya layar disebabkan tokoh yang muncul kian bejibun serta plot yang kian padat rupanya besar lengan berkuasa terhadap Ice Age: Continental Drift secara keseluruhan. Jalinan dongeng menjadi terasa kurang fokus dan para tokoh utama pun terpaksa menyebarkan porsi tampil mereka dengan tokoh lain. Martino dan Thurmeier memang masih bisa menghadirkan keceriaan dan kesenangan khas Ice Age dalam sekuel ketiga ini. Akan tetapi, tidak ada momen istimewa yang mampu menciptakan penonton tertawa lepas membahana memenuhi gedung bioskop. Jika Dawn of the Dinosaurs mempunyai momen epik yang melibatkan gas beracun yang menyebabkan kawanan ini – dan juga saya – tertawa tiada henti, maka Continental Drift minim adegan yang benar-benar menciptakan perut dan rahang sakit malah kebanyakan berujung garing. Beruntung masih ada Granny dan Scrat yang sekalipun tidak luar biasa kocak, namun setidaknya masih menciptakan saya terhibur. Harus diakui, jilid ini mengalami sedikit penurunan. Ice Age: Continental Drift gagal untuk tampil sebaik ketiga film sebelumnya, meski jikalau ditilik dari segi animasi semakin mengatakan kemajuan.

Note : Jangan tiba terlambat. Sebelum film utama diputar, penonton disuguhi film animasi pendek berjudul The Longest Daycare yang dibintangi Maggie Simpson. Malahan, film animasi pendek ini lebih menarik untuk disimak ketimbang Ice Age: Continental Drift. Sebuah film yang cerdas, lucu, menyentuh, dan manis. 

2D atau 3D? Lebih baik Anda menyaksikannya dalam 3D. 

Acceptable