October 26, 2020

Review : Imperfect


“Jika kesempurnaan membuatmu bahagia, maka beri saya waktu untuk berguru mendapatkan itu. Karena saya terlanjur mengasihi ketidaksempurnaanmu.”

Siapa sih yang tidak pernah merasa insecure? Rasa-rasanya, setiap insan di muka bumi ini pernah mengalaminya dalam satu fase hidupnya dengan kadar yang tentu berbeda-beda. Ada yang minor sehingga beberapa waktu kemudian lantas sanggup menghempaskannya dari pikiran, tapi tak sedikit pula yang major sampai-sampai mempengaruhi setiap langkah dalam kehidupannya. Imbasnya, rasa percaya diri pun merosot drastis yang menyulitkannya untuk berpikir positif. Biasanya, imbas yang sedemikian besar tersebut dipicu adanya bullying atau body shaming dari lingkungan sekitar. Ujaran semacam “kamu gendutan ya?”, “kamu kurus banget deh, nggak pernah makan ya?”, maupun “kulitmu item banget,” yang umumnya dipergunakan sebagai kalimat pembuka dari suatu basa-basi, tanpa disadari telah berkembang menjadi sesuatu yang beracun dan berbahaya. Terlebih lagi, kita hidup di kala dimana media membuat standar kecantikan/ketampanan diluar batas kewajaran yang membuat perasaan insecure menjadi semakin membumbung tinggi serta sulit dikendalikan. Menyadari adanya fenomena tidak sehat yang tengah menggerogoti generasi muda masa kini, Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah, Milly & Mamet) pun berinisiatif untuk mengkreasi tontonan bertajuk Imperfect yang disadur dari buku non-fiksi berjudul sama rekaan sang istri, Meira Anastasia. Melalui buku tersebut serta film ini, pasangan Ernest-Meira mencoba menggaungkan pesan nyata untuk kita semua yang sedang (atau pernah) merasa rendah diri akhir penampilan fisik yang tidak termasuk dalam kriteria sempurna. Pesan tersebut berbunyi, “tidak apa-apa untuk menjadi tidak tepat karena yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi langsung yang senang dan mempunyai kegunaan bagi sesama.”

Dalam ya?

Meski didasarkan pada buku yang berisi pengalaman-pengalaman Meira dalam menghadapi rasa insekyur karena merasa dirinya tidak memenuhi definisi “cantik” yang dipercayai oleh publik, versi layar lebar dari Imperfect bukanlah sebentuk autobiografi. Di sini, Ernest mengkreasi satu aksara fiktif berjulukan Rara (Jessica Mila) yang secara fisik sama sekali tidak memenuhi ekspektasi dari masyarakat mengenai sosok wanita ideal. Rara digambarkan mempunyai bobot jauh diatas rata-rata, kulitnya terbilang gelap, dan ia juga tidak melek fashion. Penampilannya menyerupai dengan almarhum ayahnya dan sangat jauh berbeda dengan sang ibu, Debby (Karina Suwandi), yang dulunya berprofesi sebagai peragawati, dan adiknya, Lulu (Yasmin Napper), yang dielu-elukan di Instagram. Meski kerap dibanding-bandingkan dengan Lulu sekaligus menerima body shaming dari orang di sekelilingnya, Rara tidak merasa ada yang diubah dari dirinya. Dia menganggap tubuhnya yang jauh dari ideal ini sebagai kutukan yang sebaiknya diterima dengan lapang dada. Toh sang kekasih, Dika (Reza Rahadian), mendapatkan dirinya secara apa adanya. Tak pernah sekalipun meminta Rara untuk mengubah penampilannya. Makara mengapa ia harus mengikuti standar kecantikan yang dangkal ini? Tapi pemikiran Rara ini lantas berganti ketika atasannya, Kelvin (Dion Wiyoko), menuntut ia untuk menjalani make over dengan batas waktu satu bulan apabila ingin naik jabatan di kantor. Rara yang tadinya enggan berolahraga serta kerap mengonsumsi junk food pun berusaha mati-matian untuk mengubah penampilannya yang sayangnya turut dibarengi pula dengan perubahan sikap. Secara tiba-tiba, baik Dika, Lulu, maupun sahabat karib Rara, Fey (Shareefa Daanish), tidak sanggup lagi memahami jalan pemikiran dan sudut pandang Rara yang sudah sangat berbeda.


Selepas menonton Imperfect di layar lebar, ada satu hal yang saya lakukan, yakni menyeka air mata. Bukan karena filmnya sebegitu pedihnya hingga meremas-remas emosi, melainkan karena saya mencicipi sebuah kebahagiaan yang muncul berkat pesan indah yang diutarakannya. Mengenai mendapatkan diri sendiri secara apa adanya, mengenai kebahagiaan yang akan mengikuti ketika kita sudah sanggup berdamai dengan diri sendiri. Sebagai seseorang yang pernah mengalami body shaming (ditambah lagi, bullying) selama bertahun-tahun lamanya karena saking kurusnya, saya sanggup memahami bagaimana perasaan Rara dan karakter-karakter lain yang mengalami insecure dengan bentuk tubuhnya. Dampaknya memang sangat merusak karena pada akhirnya, ada rasa percaya diri yang diobrak-abrik sehingga keyakinan untuk sanggup menjangkau mimpi pun turut dibentuk goyah olehnya. Imperfect mencoba untuk berkontribusi dalam memutuskan rantai beracun ini dengan membangun kesadaran penonton mengenai imbas yang sanggup disebabkan oleh body shaming seraya membesarkan hati mereka yang tengah terjatuh. Seperti halnya film-film Ernest terdahulu, penyampaiannya pun dikondisikan untuk senantiasa ringan-ringan saja dan dipenuhi dengan canda tawa di sepanjang durasi supaya sanggup diterima oleh penonton secara luas. Ya, jikalau kau tiba ke bioskop dengan pengharapan sanggup menemukan obat pelepas penat, Imperfect masih sangat sanggup untuk memenuhinya. Bahkan bagi saya, inilah film terlucu dari Ernest. Setiap aksara diberi amunisi untuk melontarkan humor yang sebagian besar diantaranya mulus mengenai sasaran, tapi ada dua sumber kelakar terbesar dalam film yang terdiri dari “genk kantor Rara” dimana kita dihadapkan dengan Rey yang ceplas ceplos serta Wiwid (Devina Aureel) yang cenderung telmi, serta “genk anak kos” yang mempertemukan penonton dengan empat penghuni kos di rumah Dika yang pembawaannya nyentrik. Dari dua kubu berbeda ini, saya dibentuk tergelak-gelak berulang kali oleh Shareefa Daanish, Devina Aureel, Zsazsa Utari, dan Kiky Saputri yang mesti diakui mempunyai comic timing juara.  

Yang sedikit unik kali ini, Ernest tak sekadar memakai karakter-karakter tersebut sebagai pemancing tawa belaka. Mereka dilibatkan ke dalam narasi utama, dan keberadaan mereka turut difungsikan untuk melontarkan dua komentar berbeda. Dari “genk anak kantor”, kita memperoleh topik pembicaraan ihwal pemujaan terhadap sosok ideal. Sedangkan melalui “genk anak kos”, kita mendapati topik ihwal memandang ketidaksempurnaan dari perspektif lain. Apakah benar apa yang selama ini kita anggap “ketidaksempurnaan” ialah sesuatu yang buruk, atau justru itu membuat kita sebagai langsung yang unik dan berciri khas? Apabila materi renungan ini belum cukup menggugah, maka tunggu hingga kau mendapati problematika yang mendera Rara. Tidak menyerupai ditampakkan dalam trailer (dimana banyak orang mencibir keputusan Ernest mengubah si protagonis menjadi cantik), ada alasan-alasan masuk nalar nan kompleks yang mendorong Rara untuk bertransformasi, dan perubahan tersebut tidak lantas dipilih oleh si pembuat film sebagai solusi atas segala permasalahan yang merongrongnya. Imperfect tidak berceloteh sedangkal itu. Justru, ada tantangan lain yang harus ditaklukkan tatkala Rara menentukan untuk memenuhi undangan sang atasan. Tantangan yang tidak pernah dipersiapkannya ketika ia mendamba mempunyai badan ideal ini. Satu alasannya, karena Rara mempunyai pandangan cethek bahwa kesempurnaan fisiknya sanggup menuntaskan seluruh problematikanya. Itulah mengapa, ia cenderung menganggap remeh masalah Lulu yang dipikirnya tidak seberapa dibanding masalahnya karena sang adik mempunyai wajah yang rupawan. Tapi benarkah orang-orang yang dinilai “sempurna” ini terbebas dari masalah berkenaan dengan insecure? Bukankah mereka rentan untuk terjebak dalam pertemanan maupun hubungan palsu karena fisik seringkali dijadikan pertimbangan utama? Dalam film ini, Ernest menegaskan bahwa setiap orang mempunyai rasa insekyurnya sendiri-sendiri. Termasuk mereka yang sepertinya telah sangat sempurna.


Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan satu referensi dari sejumlah renungan yang diajukan oleh Imperfect melalui sederet studi kasus yang disodorkannya. Ernest menyelipkannya ditengah-tengah guliran pengisahan yang berhasil dihantarkannya secara lancar dan penuh sensitivitas. Pengarahan beserta penulisan naskah yang menjadi kekuatan utama Imperfect ini ditunjang oleh lakon apik dari jajaran pemain. Disamping personil geng yang mencuri perhatian, film juga mempunyai Jessica Mila (beneran menaikkan bobotnya hingga 10 kg dan menghitamkan kulitnya lho!) yang memperlihatkan performa terbaik sepanjang karirnya dalam Imperfect. Dia berkembang menjadi sebagai tokoh utama yang gampang dicintai pada paruh pertama, kemudian kemudian berangsur-angsur menjadi agak menyebalkan di paruh final ketika dirinya “tersesat” dan mempertanyakan ihwal tujuannya untuk berubah. Apakah karena semata-mata ingin dihormati, atau justru karena ia mengasihi tubuhnya sendiri sehingga merasa perlu untuk menjalani pola hidup sehat? Mendampinginya untuk menggerakkan elemen dramatik dalam film ialah Reza Rahadian yang sekali lagi menyodorkan akting mengesankan. Di tangannya, Dika tampil sebagai langsung yang simpatik. Dia tampak mengasihi Rara, ia tak pernah menghakimi Rara, dan ia pun senantiasa memperlihatkan pinjaman untuk Rara. Adegan yang memperlihatkan Dika sedang bercanda tawa bersama ibunya, Ratih (Dewi Irawan), mengenai waxing menjadi satu momen emas bagi Reza Rahadian di sini. Terlihat menyerupai pasangan ibu-anak betulan, euy! Yang juga layak mendapatkan kredit tersendiri ialah Yasmin Napper yang bermain manis sebagai Lulu serta Karina Suwandi sebagai seorang ibu yang disalahpahami. Adegan pertengkaran yang melibatkan Rara, Lulu, dan Debby tak saja memperlihatkan kemahiran lakon dari ketiga pemain, tetapi juga mempersembahkan satu momen mengesankan bagi Imperfect yang akan membuat matamu berkaca-kaca dan seketika merindukan keluarga di rumah. Karena pada momen ini juga, penonton diingatkan bahwa keluarga semestinya menjadi pihak yang paling sanggup diandalkan untuk membantu mengenyahkan insekyur. Keluarga semestinya saling mendukung satu sama lain, keluarga semestinya tidak menghakimi, keluarga semestinya tidak menjatuhkan, dan keluarga semestinya memperlihatkan rasa kondusif dalam diri.

Outstanding (4/5)