October 27, 2020

Review : In This Corner Of The World


“Thank you for finding me in this corner of the world.” 

Pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom uranium jenis bedil yang dikenal dengan nama Little Boy dijatuhkan oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima, Jepang. Pengeboman yang menelan ratusan ribu korban jiwa tersebut – sebagian besar diantaranya yaitu masyarakat sipil – mengatakan pukulan telak bagi Jepang sehingga tidak berselang usang mereka pun mengalah kepada pihak sekutu yang secara otomatis mengakhiri berlangsungnya Perang Dunia II. Inilah salah satu insiden penting dan kuat dalam sejarah umat manusia. Saking pentingnya, industri perfilman di Jepang pun tak ingin kelewatan untuk mengabadikannya melalui bahasa audio visual, baik berkenaan pribadi dengan sejarahnya atau sekadar menjumputnya sebagai latar belakang pelopor kisah ibarat dilakukan oleh film animasi pemenang bermacam-macam penghargaan berjudul In this Corner of the World (atau berjudul orisinil Kono Sekai no Katasumi ni). Ya, film instruksi Sunao Katabuchi (Princess Arete, Mai Mai Miracle) yang disarikan dari manga bertajuk serupa ini bukanlah sebentuk rekonstruksi sejarah dengan alur kisah maupun karakter-karakter yang bisa dijumpai di buku teks melainkan sebentuk hikayat dengan bangunan kisah fiktif yang mencoba mengatakan perspektif wacana impak perang terhadap kemanusiaan. 

Karakter utama yang dimanfaatkan In this Corner of the World untuk menggulirkan roda penceritaan yaitu Suzu (disuarakan oleh Non), seorang wanita polos dan kikuk yang menaruh minat tinggi pada menggambar. Dipaparkan secara episodik, penonton mengikuti kehidupan Suzu sedari beliau masih kecil dan tinggal bersama keluarganya di Eba, Hiroshima, pada tahun 1930-an hingga tumbuh menjadi wanita cukup umur dan meninggalkan kampung halamannya untuk tinggal bersama keluarga suaminya di Kure yang menjadi markas utama bagi Angkatan Laut Jepang semasa Perang Pasifik pada tahun 1940-an. Kepindahannya ke Kure sendiri tidak pernah diantisipasinya alasannya yaitu sebelum berlangsungnya prosesi ijab kabul di usianya yang ke-18, Suzu tidak mengenal laki-laki yang tiba-tiba tiba untuk melamarnya, Shusaku (Yoshimasa Hosoya). Segalanya berlangsung begitu cepat dan mendadak bagi Suzu sehingga belum sempat beliau mengatasi keterkejutannya, sang aksara utama harus sesegera mungkin menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya sebagai ibu rumah tangga. Tidak gampang bagi Suzu untuk menjalani kehidupan barunya ini terlebih dengan adanya pembatasan jatah ransum yang memaksanya berpikir kreatif semoga keluarganya sanggup makan secara layak dan kehadiran abang iparnya, Keiko (Minori Omi), yang kerap bersikap hambar kepadanya sekalipun sang putri, Harumi (Natsuki Inaba), menjalin korelasi bersahabat dengan Suzu. 

Dalam menghantarkan kisahnya yang berbincang soal cinta, kemanusiaan, dan cita-cita di tengah-tengah berkecamuknya perang akbar, In this Corner of the World mengambil pendekatan berbeda dengan sejawatnya, Grave of the Fireflies (1988, Ghibli), yang poros utama kisahnya berada di rentang waktu sama. Alih-alih bermuram durja – meletakkan fokus pada kepedihan hidup tak terperi dari si aksara utama – Sunao Katabuchi menentukan untuk melantunkannya dengan nada penceritaan yang bertolak belakang. Tidak meletup-letup, optimis, serta nyata dalam memandang kehidupan. Memang sih Suzu kerap dinaungi ketidakberuntungan dalam hidupnya; dari cinta tak sampai, perjodohan, abang ipar yang jutek bukan main, stok masakan serba terbatas, hingga peperangan yang merenggut kebebasan maupun orang-orang yang dikasihinya, namun ketimbang menggambarkannya secara dramatis sarat air mata, Sunao mentranslasinya ke bahasa gambar secara hening mengikuti cara Suzu menyikapi persoalannya dengan kepala dingin. Alhasil, In this Corner of the World tidak bermetamorfosis sebagai tontonan ‘horor’ (baca: menguras air mata) ibarat kerap dibayangkan banyak pihak dan hentakan-hentakan emosi dalam film pun diminimalisir sedemikian rupa hingga pesawat Amerika Serikat menjatuhkan bomnya. Keputusan untuk tidak mengumbar emosi, sedikit banyak berdampak pada alur yang mengalun cenderung tenang-tenang menghanyutkan ala film berjalur slice of life dan bisa jadi akan terasa menjemukan bagi sebagian penonton.


Mengingat kehidupan Suzu sebagai ibu rumah tangga yang repetitif serta jauh dari kata hingar bingar kecuali dari bunyi gemuruh pesawat perang dan ledakan bom di sekitar daerah tinggalnya maka pilihan si pembuat film dalam menuturkan kisah ini sangat bisa dipahami. Penonton dimaksudkan sanggup mencicipi apa yang dirasakan oleh Suzu sehingga ada ikatan emosi yang terbentuk antara penonton dengan sang protagonis utama maupun beberapa aksara kunci yang mempunyai peranan dalam kehidupannya. Menariknya, Suzu bukanlah sesosok aksara yang lempeng apalagi hambar. Dia terlihat sangat gampang disukai dengan penggambaran pembawaan yang periang, kikuk, dan agak ceroboh sampai-sampai kerap memantik kejadian-kejadian konyol di sekelilingnya ibarat tanpa sengaja mengakibatkan teman-temannya bergelimpangan atau salah dikira sebagai jasus alasannya yaitu menggambar armada angkatan bahari Jepang. Rentetan humor-humor segar yang efektif dalam menghadirkan derai tawa ini mewarnai dua pertiga awal durasi yang hampir tidak mempunyai momen dramatik mengikuti garis konflik yang acapkali berada di posisi horizontal. In this Corner of the World mulai memperlihatkan geliatnya dari sisi emosi dikala salah satu aksara kunci tewas akhir terkena bom waktu. Keceriaan yang menaungi tahap sebelumnya perlahan mengabur – walau tidak sepenuhnya – dan kemuraman menyelinap masuk. 

Sedari titik ini, kita bisa melihat seberapa besar impak perang terhadap kemanusiaan. Sikap optimis dan nyata yang coba dipromosikan oleh In this Corner of the World juga semakin memperlihatkan taringnya disini. Bagaimana para aksara bertindak dalam menyikapi sedih yang menyelimuti, bagaimana cinta, pengampunan dan kebaikan hati sanggup membantu memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh peperangan sekaligus memunculkan harapan. Meski bukan berarti Suzu tidak pernah diperlihatkan terpuruk, namun beliau secara cepat bisa berdiri begitu pula beberapa aksara penting yang berhasil selamat. Salah satunya bahkan sempat berujar kepada Suzu, “tidak ada gunanya menangis. Kamu hanya akan membuang-buang garam.” Ucapan yang singkat pula menampar bagi si protagonis, utamanya di kala dirundung kesulitan memperoleh materi pangan. Tapi penonton tak perlu merasa risau akan dihalang-halangi untuk meluapkan emosi alasannya yaitu ibarat disinggung di penghujung paragraf sebelumnya, babak ketiga merupakan awal mula bermunculannya momen-momen merobek hati. 

Kendati (lagi-lagi) tidak ibarat Grave of the Fireflies yang sudah berada di tahapan tanpa ampun menghujam emosi, keberadaannya dalam In this Corner of the World akan tetap mengusik nuranimu. Tengok saja pada adegan seorang laki-laki dengan badan terpanggang, orang-orang yang kebingungan mencari keberadaan sanak saudara selepas Hiroshima luluh lantak oleh bom, atau seorang bocah kecil yang kehilangan ibunya. Sulit untuk tidak menitikkan air mata, mengutuk keras peperangan, seraya berkontemplasi untuk menemukan jawab atas tanya, “mengapa sih harus ada peperangan? Adakah urgensi mendesak dibaliknya atau sekadar ajang unjuk ego?.” Pada akhirnya, In this Corner of the World yaitu sebuah hikayat memikat mengenai bencana yang dihamparkan secara indah berkat goresan-goresan gambar yang sederhana namun amat indah, jenaka mengikuti cukup tingginya asupan humor tatkala menyoroti kehidupan rumah tangga Suzu, serta tetap efektif dalam mempermainkan emosi dikala kesudahannya keluarga Suzu mulai benar-benar terkena dampak dari peperangan yang bergotong-royong sama sekali tidak mereka pahami.

Outstanding (4/5)