October 19, 2020

Review : Ini Cerita Tiga Dara


Pertama kali mendengar Nia Dinata akan meng-upgrade film klasik Tiga Dara (1956) gubahan Usmar Ismail yang baru-baru ini dipertontonkan ulang ke khalayak ramai, dua reaksi meluncur bersamaan: senang dan was-was. Bahagia alasannya ialah Nia balasannya kembali menelurkan sebuah karya sesudah lima tahun lamanya vakum dari dingklik penyutradaraan terhitung sejak Arisan! 2, sedangkan was-was karena materi sumbernya ialah sebuah mahakarya dari seorang Bapak Perfilman Nasional. Tentunya kekhawatiran ini tanpa bermaksud sedikitpun meremehkan kapabilitas Nia. Hanya saja, bukankah ada pepatah menyampaikan bahwa “jangan pernah sekali-sekali perbaiki sesuatu yang tidak rusak”?. Well, Nia sih mengaku film terbarunya yang bertajuk Ini Kisah Tiga Dara hanya sekadar terinspirasi dari Tiga Dara alih-alih merekonstruksi, namun mengingat garis utama ceritanya kurang lebih serupa mengenai tiga bersaudari lajang yang kehidupan personalnya direcoki sang nenek – bahkan turut mengambil treatment sebagai film musikal dengan satu dua tembang digubah ulang – komparasi keduanya pun sulit dielakkan. 

Ini Kisah Tiga Dara terang tidak berada di level yang sama dengan Tiga Dara, malah dapat dikata berada jauh di bawahnya. Menyebutnya “film buruk” memang terdengar terlalu keji mengingat sebagai produk hiburan, Ini Kisah Tiga Dara tidak sepenuhnya gagal. Paruh pertamanya menyuntikkan energi kasatmata untuk menggembirakan hati. Keceriwisan Oma (Titiek Puspa) tentang status lajang yang disandang oleh ketiga cucu perempuannya; Gendis (Shanty Paredes), Ella (Tara Basro), dan Bebe (Tatyana Akman), terkhusus Gendis yang telah menapaki usia kepala tiga, melontarkan banyak canda tawa. Ketertarikan pun lantas muncul dipicu oleh sedikitnya tiga alasan; pertama, penampilan centil-centil menyegarkan Titiek Puspa yang kemunculannya senantiasa memperlihatkan keceriaan bagi film. Kedua, kepenasaran mengetahui performa lebih lanjut Tatyana Akman yang tengil nan enerjik dengan debut tugas besarnya ini – sebelumnya ia sempat numpang lewat di Ada Apa Dengan Cinta? 2 – memberinya kesempatan melakoni adegan panas. Dan ketiga, kerinduan terhadap lakon Shanty Paredes yang sedari menit pertama telah menebarkan karisma mencengkram eratnya. 

Mereka bertiga pun tidak mengkhianati kepercayaan saya. Akting dari Titiek Puspa, Shanty Paredes, dan Tatyana Akman ialah alasan utama mengapa Ini Kisah Tiga Dara masih menggenggam kata ‘menghibur’ disamping panorama Maumere, Nusa Tenggara Timur, yang dibingkai begitu manis oleh Yudi Datau sampai-sampai menjadikan keyakinan, angka kunjungan wisata ke lokasi ini akan seketika mengalami peningkatan selepas perilisan Ini Kisah Tiga Dara. Andaikata film ini kekurangan materi bakar pelopor di departemen akting serta kurang cermat menentukan latar, entah bagaimana jadinya. Naskah hasil racikan bersama antara Nia Dinata dengan Lucky Kuswandi cenderung lunglai pula terlalu ramai subplot yang pada balasannya kurang fokus serta menyisakan beberapa pertanyaan mengganjal terkait karakteristik beberapa tokohnya dan motivasi-motivasi atas setiap tindakan mereka termasuk kekurangyakinan ada cinta bersemi diantara Gendis dengan Yudha (Rio Dewanto) atau terhadap obsesi Ella ingin mempunyai Yudha meski Bima (Reuben Elishama) sudah begitu kentara memperlihatkan rasa sukanya. Selain itu, pertanyaan ibarat “apa pekerjaan kekasih Bebe, Kyle (Richard Kyle), sehingga ia dapat menetap begitu usang di hotel milik keluarga Bebe?” juga cukup mengusik kekhidmatan dalam menyaksikan film ini. Memasuki pertengahan hingga paruh akhir, Ini Kisah Tiga Dara berjalan tersendat-sendat. 

Dan omong-omong soal mengganjal maupun mengusik kekhidmatan menonton, tidak ada yang lebih bikin gemas ketimbang elemen musikalnya. Sementara Tiga Dara kian menjulang berkat pengolahan pula penempatan nomor-nomor musikal yang sempurna guna, keberadaan tembang-tembang berikut adegan dansa-dansi di Ini Kisah Tiga Dara justru sangat mendistraksi. Koreografi tarinya terlampau awkward, unfortunately in a bad way, yang ada kalanya berkontribusi meruntuhkan emosi penonton ibarat dalam adegan Gendis menangis di dapur dan pemilihan kata untuk lirik-liriknya pun mencoba terlalu keras biar selaras dengan ketukan sehingga menyisakan rasa gatal di pendengaran serta mengalihkan fokus dari somasi terhadap kerempongan masyarakat mengenai status komitmen nikah yang coba diutarakan oleh Nia. Seandainya saja Ini Kisah Tiga Dara tidak dijelmakan sebagai film musikal – mengikuti arus film sumber inspirasinya – yang terlalu banyak memberi “apaan sih moment” dan sepenuhnya dialirkan memakai metode penceritaan konvensional hasilnya dapat jadi akan lebih baik alasannya ialah film sejatinya menghadirkan kesenangan mencukupi ketika berada di mode drama komedi. Ah, sungguh sangat disayangkan.

Acceptable (3/5)