July 4, 2020

Review : Instant Family


“Things that matter are hard.”

Dalam beberapa bulan terakhir ini, aku berkesempatan buat menonton film mengenai keluarga yang menggoreskan kesan mendalam pada hati di layar lebar. Yang pertama yaitu Shoplifters (2018) dimana keluarga tidak didefinisikan secara konvensional mengikuti hukum yang telah disusun masyarakat, kemudian disusul oleh Mary Poppins Returns (2018) yang keceriannya seketika membangkitkan mood, kemudian berlanjut pada Keluarga Cemara (2019) yang memberi tontonan sederhana nan lapang dada yang sudah usang tidak aku dapatkan, dan jadinya yang gres saja saksikan sekaligus memberi kejutan terbesar diantara lainnya yakni Instant Family. Apabila kau menimbulkan jejak rekam sang sutradara sebagai materi pertimbangan utama untuk memprediksi kualitas suatu film, maka aku cukup meyakini kalau kau akan sama terkejutnya dengan aku ketika menyaksikan Instant Family arahan Sean Anders (Horrible Bosses 2, dwilogi Daddy’s Home) ini. Memang sih corak komedi yang cenderung liar sebagai ciri khas Anders dalam berceloteh masih tertampang cukup kasatmata meski sekali ini agak direduksi levelnya. Tapi ada satu hal yang tak pernah aku sangka-sangka kemunculannya – terlebih berkaca pada Daddy’s Home yang hanya sanggup diingat karena semangat bersenang-senangnya – yaitu elemen sentimentil yang digarap dengan kepekaan tinggi. Kamu akan dibuatnya berkaca-kaca, berlanjut menangis sesenggukan, hingga kemudian tetapkan untuk menghubungi orang renta di rumah melalui ponsel demi melontarkan pertanyaan sederhana, “apa kabar? Kalian sehat?.”

Salah satu faktor krusial yang membuat Instant Family sanggup mempunyai sensasi rasa berbeda dibanding karya-karya terdahulu si pembuat film yaitu sumber wangsit untuk materi penceritaannya. Bukan adaptasi, bukan pula hasil imajinasi orang lain, film ini justru beranjak dari pengalaman kasatmata Anders ketika menyatakan keputusannya untuk mengadopsi tiga abang adik sebagai buah hatinya. Di sini, sosok Anders beserta pasangannya diibaratkan sebagai sepasang suami istri dari kelas menengah, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne), yang belum juga dikaruniai momongan sekalipun usia mereka telah berada di area kepala empat. Ditengah kepanikan karena mereka telat menyadari bahwa masih ada ‘lubang’ dalam kehidupan rumah tangga mereka dan rongrongan dari pihak keluarga Ellie yang semakin gencar, keduanya pun tetapkan untuk nekat mengadopsi anak. Awalnya sih, niat mereka ketika mendaftar kelas training sebagai orang renta angkat lebih kepada iseng-iseng belaka. Tapi ketika Pete dan Ellie bertemu dengan seorang sampaumur berjulukan Lizzie (Isabela Moner) beserta kedua adiknya, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz), di ‘pameran anak angkat’, keduanya tiba-tiba berubah pikiran. Mereka seolah menemukan cosmic connection dengan Lizzie dan adik-adiknya yang lantas mendorong mereka untuk memantapkan hati dalam mengasuh tiga bersaudara ini sekalipun perjuangannya tidak mudah. Disamping karakteristik ketiga anak yang sulit diterka serta berbeda antara satu dengan yang lain, kehadiran seseorang dari masa kemudian semakin mempersulit usaha Pete dan Ellie dalam mendapat hak asuh.


Meski aku sempat menyampaikan Instant Family akan membuatmu nangis sesenggukan dan film ini mengulik soal mekanisme dalam mengadopsi anak di negeri Paman Sam, si pembuat film tidak pernah membawanya ke ranah melodrama. Segala tangis yang mencuat di sini bukan disebabkan oleh rangkaian adegan mendayu-dayu yang meminta penonton untuk iba kepada nasib Pete, Ellie atau Lizzie, tetapi lebih kepada adanya sejumlah adegan yang membahagiakan, menghangatkan, serta menenangkan hati di sekitar para protagonis. Jangankan momen besar mirip persidangan hak asuh dimana salah satu abjad mendesak hakim biar dirinya dipersilahkan membacakan sebuah surat untuk si anak angkat, Instant Family pun sanggup bikin mata kelilipan seraya mengucap “awww… manisnya” dari momen kecil mirip ketika Ellie girang bukan kepalang karena Juan bersedia memanggilnya ‘ibu’. Dan sebetulnya, film ini tersusun atas momen-momen kecil nan sederhana mirip itu yang barangkali terlihat sepele di mata sebagian penonton tapi ini sejatinya mempunyai imbas besar bagi para abjad jikalau kita memahami kondisi mereka mirip apa. Pete dan Ellie membutuhkan ratifikasi dari bawah umur angkat bahwa mereka telah menjalankan kiprah sebagai orang renta yang baik, sementara Lizzie yang telah terbiasa diabaikan tumbuh menjadi seorang sampaumur pemberontak yang skeptis terhadap cinta. Saat dua dunia ini enggan untuk memahami satu sama lain – bahkan cenderung mengedepankan ego masing-masing – konsekuensi yang muncul yaitu konflik. Tercipta pertikaian yang disebabkan oleh: 1) pandangan Lizzie kepada calon orang tuanya yang dianggapnya palsu, dan 2) Ellie yang menilai kemarahan Lizzie sebagai wujud penolakan.

Inilah yang kemudian membuat Instant Family terasa menggigit. Dibalik kemasan luar yang seolah mengindikasikan ini sebagai tontonan keluarga yang ringan-ringan saja, ternyata terselip life lesson berharga di dalamnya yang disampaikan secara efektif tanpa pernah membuat indera pendengaran berdengung karena menyerupai isi khotbah. Anders menyelipkan materi parenting yang sanggup terdeteksi dengan sangat terang melalui upaya Pete dan Ellie dalam membuat kekerabatan yang hangat dengan ketiga anaknya, melalui support group bersama para calon orang renta angkat yang menyebarkan pengalaman beserta keluh kesahnya menghadapi bawah umur gres mereka, serta melalui dua pekerja sosial, Karen (Octavia Spencer) dan Sharon (Tig Notaro), yang seringkali memberi wejangan-wejangan kepada Pete-Ellie sekalipun tak jarang pula mereka melontarkan celetukan bernada banyaomong yang mengundang gelak tawa. Baik Octavia Spencer maupun Tig Notaro memainkan kiprah mereka secara santai – sampai-sampai aku berharap mereka dipasangin lagi dalam sebuah buddy movie karena tektokannya kerap bikin tergelak – begitu pula dengan jajaran pemain lain. Jika aku diperkenankan untuk menyebut keunggulan lain dari Instant Family, maka itu yaitu para pelakon yang tampak menikmati kiprah mereka sekalipun porsinya secuil. Dari Mark Wahlberg-Rose Byrne yang mempunyai chemistry beserta comic timing bagus, kemudian Isabela Moner yang menyembunyikan kerapuhannya dibalik topeng sampaumur manipulatif yang tak jarang menjengkelkan, kemudian Margo Martindale bersama Julie Hagerty sebagai duo nenek yang menyikapi situasi adopsi ini secara berbeda (adegan mengucap nama Juan itu lucu sekali!), hingga Joan Cusack dalam cameo yang teramat random tapi kocak.


Sokongan akting penuh semangat dari para pemain ini sedikit banyak menunjukkan imbas amat baik bagi Instant Family sehingga film terasa begitu enerjik dan menguarkan aura positif kepada penonton. Sulit untuk tidak menyukai film ini terlebih jikalau kau mempunyai soft spot pada tontonan keluarga, berhati sensitif, serta bukan wujud kasatmata dari Lizzie: skeptis pada cinta hingga melabeli segala sesuatu yang manis nan lembut sebagai kepalsuan. Ada aneka macam gelak tawa yang terkandung di dalamnya – mengingat ciri khas Anders masih dipertahankan maka antisipasi munculnya jokes yang kurang cocok dikudap penonton cilik – begitu juga dengan rasa hangat. Instant Family yaitu feel good movie yang kau butuhkan untuk menjaga positivity dalam badan ditengah terjangan arus kebencian, kepenatan sehari-hari, serta isu tak menggembirakan di televisi. Selain memberi kursus singkat mengenai parenting yang akan mempunyai kegunaan bagi mereka yang sudah (maupun akan) menjadi orang tua, Instant Family juga mengingatkan penonton mengenai makna non-konvensional dari keluarga yang sedikit banyak menyerupai Shoplifters. Bukan semata-mata ditentukan oleh korelasi darah, keluarga sanggup terlahir karena adanya faktor lain yang melibatkan kesediaan untuk bertanggung jawab, adanya rasa saling menghargai, serta paling utama, memelihara cinta kasih. Memang betul family isn’t always easy karena pertengkaran dan perselisihan akan senantiasa hadir demi menguji kekuatan hubungan. Tapi ketika mereka bersedia untuk kembali kemudian merangkulmu kembali di ketika kau jatuh, terpuruk, atau menjauh, pada ketika itulah kau telah menemukan keluargamu yang sesungguhnya. Remember, things that matter are hard.

Outstanding (4,5/5)