October 18, 2020

Review : Istirahatlah Kata-Kata


“Ternyata, jadi buron itu jauh lebih angker daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi.” 

Wiji Thukul, atau berjulukan orisinil Widji Widodo, dikenal sebagai penyair yang kerap melontarkan perlawanan terhadap rezim absolut Orde Baru melalui bait-bait sajaknya yang tanpa tedeng aling-aling nan beringas. Terlibat sangat aktif dalam bermacam-macam organisasi yang vokal menyuarakan pemberontakan terhadap penguasa lalim, tak pelak menyeret Wiji untuk terus menerus berurusan dengan abdnegara keamanan. Bahkan, namanya tercatut dalam daftar penggagas yang dianggap bertanggungjawab atas meletusnya Kerusuhan 27 Juli 1996 karena sang penyair tergabung di Partai Rakyat Demokratik (PRD). Demi menghindari cengkraman aparat, Widji pun terpaksa meninggalkan keluarga beserta kediamannya di Solo dan berpindah-pindah tempat persembunyian dari satu tempat ke tempat lain dengan sesekali memperbaharui identitas palsunya. Pelariannya tersebut turut membawa Wiji ke Pontianak dimana beliau mendiami kota ini selama delapan bulan lamanya dan bagian dongeng pelariannya di kota ini lantas didokumentasikan oleh Yosep Anggi Noen melalui film panjang keduanya bertajuk Istirahatlah Kata-Kata

Mengusung subjek kasatmata yang memiliki bantuan kasatmata atas peralihan peta politik dengan tergulingnya rezim Soeharto meski berdampak pada keberadaannya yang tak terang rimbanya hingga sekarang, sang sutradara tidak menentukan untuk menggiring Istirahatlah Kata-Kata (atau Solo, Solitude dalam judul internasional) ke ranah film biopik sarat akan glorifikasi dan memposisikan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) kolam pahlawan. Tidak. Sebaliknya, ini hanyalah film drama kemanusiaan dengan ruang lingkup kecil yang mempergunakan sosok Wiji semacam studi kasus untuk mengatakan bahwa para penduduk negeri ini pernah berada dalam satu masa terbungkam rapat-rapat hak mereka dalam menyuarakan pendapat. Lantaran ingin pula mengatakan bekerjsama Wiji Thukul bukanlah sosok agung atau dalam artian, tidak berbeda dengan masyarakat kelas bawah kebanyakan – hanya bedanya beliau memiliki kemampuan mumpuni dalam mengolah kata menjadi penuh rasa dan makna – yang juga dihantui oleh rasa takut diuber aparat, itulah mengapa Yosep Anggi Noen sekadar mencuplik fase tertentu dalam hidup Wiji Thukul yang dianggapnya cukup merepresentasikan keinginannya dalam menggambarkan Wiji sekaligus memiliki impak terhadap keputusan besar sang subjek. 

Fase terpilih ialah ketika Wiji menjejakkan kaki di Pontianak. Secara bersiklus beliau berpindah hunian kepunyaan orang-orang yang berbeda, ibarat rumah dari seorang dosen berjulukan Thomas (Dhafi Yunan) dan penggagas asal Medan, Martin (Eduwart Boang Manalu), yang tinggal bersama istrinya, Ida (Melanie Subono). Disamping soroti hari-hari penuh kesunyian mencekam yang dilalui oleh Wiji, Istirahatlah Kata-Kata juga memberi kesempatan bagi penonton untuk melongok sekejap ke situasi di kampung halaman Wiji. Rumahnya menerima pengawasan ketat dari intel, bahkan istrinya, Sipon (Marissa Anita) dan anaknya sempat pula diinterogasi guna memperoleh petunjuk mengenai keberadaan Wiji. Tapi Anggi – begitu sapaan dekat sang sutradara merangkap penulis naskah – tidak pernah lebih jauh dari itu. Dia memang enggan menelanjangi masa kemudian maupun masa depan penuh tanda tanya dari si tokoh utama, penyampaian informasi mengenai situasi politik yang menyelubungi film pun sebatas didapat melalui narasi teks di awal dan selesai serta siaran gosip di radio. Perhatian utama dari Istirahatlah Kata-Kata ialah bagaimana sesosok wong cilik terpaksa terkorbankan kebebasannya alasannya ialah keberaniannya menggugat sikap-sikap keliru pemerintah. Dalam cakupan lebih luas, ini ialah potret masyarakat kelas bawah yang tertindas.

Dalam memvisualisasikan keseharian Wiji, atau ketika sesekali diajak menengok Sipon, Anggi menentukan untuk lebih sering mengistirahatkan kata-kata dan membiarkan gambar-gambar indahnya berbicara dengan sendirinya. Kadangkala terdengar iringan musik maupun bunyi lirih nan menyayat-nyayat hati dari Gunawan Maryanto yang mengumandangkan sajak-sajak Wiji Thukul, namun lebih sering kesunyian yang menghinggapi. Bukan kesunyian menenangkan, melainkan kesunyian menggelisahkan yang didalamnya sarat akan misteri. Andaikata abdnegara mengetahui posisi persembunyian Wiji, bukankah mereka akan melaksanakan penyergapan dalam membisu ketimbang penuh kegaduhan yang justru menyadarkan si buron mengenai keberadaan mereka? Dihantui oleh paranoia semacam ini, Wiji pun kesulitan memejamkan mata di malam hari alasannya ialah kesunyian bukan juga menunjukan cantik baginya. Kesunyian bisa berarti memang “tidak ada apa-apa” atau justru “ada apa-apa tapi terselubung”. Dikomando oleh performa jempolan Gunawan Maryanto yang air muka dan gesturnya senantiasa menyiratkan rasa gusar, ketidaknyamanan pun mengusik penonton habis-habisan dalam beberapa titik. Jangan-jangan, sebetulnya ada jasus tengah mengawasi gerak-gerik Wiji kala beliau makan, membuat rencana pelarian, membuat puisi-puisi baru, atau sedang tidur… 

Itu gres gangguan secara implisit. Istirahatlah Kata-Kata juga sempat menggedor jantung secara kasatmata ketika Wiji dan Thomas berpapasan dengan tentara gadungan yang mengulik identitasnya atau ketika seorang tentara betulan melibatkannya dalam dialog basa-basi agak-agak nyerempet ancaman di sebuah tempat cukur. Tak terelakkan, keringat hambar sempat mengucur deras. Ikut mencicipi kecemasan maksimal yang menggelayuti Wiji. Bagaimana kalau salah satu dari perjumpaan ini merupakan alasan berakhirnya pelariannya? Nuansa cekam yang menghiasi Istirahatlah Kata-Kata di paruh awal, bertahap tersisihkan menyusul tumbuh laginya keberanian yang sempat menyusut pada diri Wiji dan kerinduan tak tertahankan terhadap Sipon. Anggi mulai menyusupinya dengan candaan-candaan ibarat tampak dalam dialog warung kopi di bibir sungai Kapuas kemudian sentilannya pada ‘keusilan’ PLN, dan menginjeksikan sisi manis namun getir melalui perjumpaan kembali Wiji dengan Sipon yang setapak demi setapak berkembang lebih dramatis hingga hingga pada titik puncak menghantam emosi yang bukan semata tonjolkan lakonan cantik dari Gunawan Maryanto tetapi juga hebatnya penampilan Marissa Anita. Pada akhirnya, tanpa harus banyak berkata-kata, hanya dalam kesunyiannya, Istirahatlah Kata-Kata bisa pancarkan rasa cekam dan goreskan rasa pilu yang cukup dalam.

Outstanding (4/5)