October 27, 2020

Review : Jack The Giant Slayer


Fee… Fi… Fo… Fum!”

Sepertinya, Hollywood tengah keranjingan menginterpretasi ulang dongeng-dongeng klasik yang telah populer diseluruh dunia untuk konsumsi layar lebar. Yah… setidaknya dalam beberapa tahun terakhir kita melihat tokoh-tokoh yang telah dikenal semenjak masa kanak-kanak macam Alice (dari Wonderland), putri salju, gadis berkerudung merah, hingga Hansel dan Gretel terpampang di etalase bioskop. Demi menggaet segmen pasar yang lebih luas, maka pihak produsen pun dengan ‘seenak udelnya’ mengubah alur termasuk dengan menjadikannya eksentrik, lebih penuh liku, atau justru membawanya ke arah yang lebih ekstrim, penuh darah. Ini telah dilakukan oleh film pembiasaan dongeng terdahulu dan Jack and the Giant Slayer pun siap untuk mengikuti jejak film-film tersebut. Dengan dasar dongeng klasik “Jack and the Beanstalk” dan “Jack and the Giant Killer”, film yang digarap oleh Bryan Singer ini mendapat rating PG-13 (13 tahun ke atas) yang tentunya membuat penonton untuk tak terlalu berharap banyak akan mendapat kesenangan macam Hansel & Gretel: Witch Hunters meski suntikan bujetnya yang raksasa mengindikasikan kehadiran adegan agresi yang glamor serta jor-joran. Akan tetapi, bisakah kita mengharapkan lebih terhadap Jack and the Giant Slayer hanya dengan mengandalkan fakta bahwa ini yaitu produksi berskala raksasa? Hmmm… sesudah saya menyaksikannya sendiri – dalam format 3D, tentu saja – maka saya menyarankan kepada Anda untuk sebaiknya menekan ekspektasi hingga titik terendah.  

Mengambil latar pada era pertengahan, penonton diperkenalkan kepada Jack (Nicholas Hoult – yang gres saja kita temui di Warm Bodies) dan Isabelle (Eleanor Tomlinson) yang akan menjadi ‘pemandu utama’ dikala kita berkelana di negeri para raksasa. Kala masih bocah, baik Jack maupun Isabelle kerap dipendengarkan hikayat mengenai kaum raksasa yang bertempur besar-besaran melawan umat insan dimana kemenangan berpihak kepada insan sehingga raksasa pun terpaksa mengungsi ke sebuah daerah yang terletak di atas awan. Setelah sedikit pembahasan soal latar belakang dari dua tokoh utama, latar waktu film pun melompat jauh 10 tahun ke depan. Jack hidup bersama sang paman usai ayahanda tercinta menghadap ke Yang Maha Satu. Demi merenovasi rumah, Jack pergi ke kota untuk menjual kudanya. Seorang biarawan memperlihatkan ketertarikan dan menukarnya dengan biji kacang alih-alih mata uang. Katanya sih, biji kacang ini ajaib. Memang benar, biji kacang itu mendadak tumbuh menjadi pohon raksasa usai terkena tetesan air hujan. Tumbuh meninggi hingga menembus awan, pohon memporakporandakan rumah Jack sekaligus ‘menculik’ Isabelle yang kebetulan ‘mampir’. Dengan Isabelle – yang merupakan putri semata wayang dari Raja Brahmwell (Ian McShane) – terdampar di negeri para raksasa, maka tentu Anda sudah bisa menebak film akan bergerak kemana. 

Jack and the Giant Slayer yaitu salah satu bukti betapa Hollywood sudah terlalu malas untuk mengeksplorasi ide-ide segar dan menentukan untuk bergantung kepada teknologi demi menyukseskan film. Para petinggi seolah berkata, “jika kita bisa mengais Dollar hanya dengan mengumbar imbas khusus, lantas mengapa kita kudu berpusing-pusing memikirkan jalan kisah yang baik?.” Tentu, ini bukan keputusan yang tiada resiko. Di samping bujet yang kudu digelontorkan sama tingginya dengan pohon dari biji kacang Jack, dengan absennya skrip yang tergarap baik – yang sekaligus berarti, jangan mengharapkan penokohan yang berpengaruh dari setiap abjad di film – maka film pun akan dengan teramat gampang dilupakan. Naskah yang digarap secara keroyokan oleh Darren Lemke, Christopher McQuarrie, dan Dan Studney benar-benar datar dan ‘blah’. Tidak sedikitpun disediakan kejutan maupun ketegangan yang bisa membuat penonton betah berlama-lama memandangi layar bioskop selama 114 menit. Paruh awal film berjalan sangat membosankan (serta melelahkan). Terlalu berpanjang-panjang dalam menuturkan kisah meski seharusnya bisa disampaikan secara ringkas, padat, dan tentunya, penuh semangat. 
Segalanya gres mulai terasa (sedikit) menyenangkan kala Jack dan pasukan yang dikirim dari kerajaan – termasuk Elmont (Ewan McGregor), sang ksatria, dan Roderick (Stanley Tucci), penasihat Raja – mulai memasuki dunia para raksasa. Yah, pada titik ini, penonton pun mulai melihat fisik dari para raksasa yang sama sekali tidak sedap untuk dipandang serta cenderung menjijikkan. Pemanfaatan teknologi motion capture – alih-alih memakai CGI konvensional – mampu membuat verbal muka serta gerakan raksasa yang meyakinkan. Ini tentu tidak luput dari kinerja Bill Nighy yang sangat apik dalam membawakan tugas sebagai pemimpin kawanan raksasa. Malahan, sekalipun fisik aslinya tidak pernah hadir dalam film, Nighy tampil lebih mengesankan ketimbang jajaran pemain lain ibarat Hoult dan Tomlinson dengan chemistry yang lempeng, McGregor yang tatanan rambutnya senantiasa rapi meski digempur sana sini, atau Tucci sebagai pihak antagonis dari insan yang tidak memperlihatkan greget. 
Jika ada kebanggaan yang patut disematkan kepada Jack and the Giant Slayer, maka itu yaitu penggunaan imbas khusus. Setidaknya, para pemerhati film tidak akan bertanya-tanya kemana larinya anggaran sebesar $195 juta yang digelontorkan demi mewujudkan proyek ini. Sejak menit-menit pertama, film sudah terlihat sebagai sebuah produk kolosal dengan taburan imbas khusus yang mewah. Sayangnya, ini tidak berarti penonton akan mendapat hidangan yang seru dan menegangkan, sama sekali tidak. Adegan laganya sama sekali tidak memperlihatkan kesan. Jika ada yang benar-benar wah dan membuat diri ini cukup terperangah, maka itu yaitu pertarungan tamat yang melibatkan insan dan raksasa. Bryan Singer menyimpan yang terbaik di penghujung kisah. Sayangnya, sesudah menit demi menit yang menjemukan dan melelahkan (cenderung ‘snoozfest’), maka gebrakan di tamat ini tidak benar-benar bisa menyelamatkan film. Saya sudah terlanjur capek untuk mengikutinya. Andaikan saja Singer meringkasnya 20 menit lebih pendek, Jack and the Giant Slayer mungkin akan lebih lezat untuk diikuti.

Acceptable