October 28, 2020

Review : Jakarta Hati


“Oh, ternyata pacar kau yang bikin istri aku mabuk laut?”
‘Ini jantung ibukota, dimana hatinya?’. Begitulah tagline dari film panjang kedua karya Salman Aristo, Jakarta Hati. Setelah menelurkan sebuah karya yang apik melalui Jakarta Maghrib, Salman Aristo nampaknya ketagihan untuk mengulik serba-serbi kehidupan Jakarta yang sebelumnya telah dia paparkan secara garis besar melalui film perdananya. Ya, Jakarta dalam Jakarta Maghrib tak ubahnya kota-kota besar lain di Indonesia. Apa yang terjadi di sana sanggup pula terjadi di kota lain terlebih permasalahan yang diangkat umum terjadi di kota besar. Penggambarannya pun hanya sebatas pada gang-gang sempit dan perumahan. Nah, melalui Jakarta Hati, kesalahan-kesalahan dari film sebelumnya mencoba untuk ditebus. Nyaman dengan apa yang telah diperbuatnya, di sini pun pak sutradara yang juga merangkap sebagai penulis naskah, lagi-lagi menerjemahkan ide-idenya dalam bentuk film omnibus. Tak lagi terbagi ke dalam lima kisah pendek, akan tetapi meningkat menjadi enam kisah pendek. Isu yang diapungkan pun lebih serius. Meski belum mencapai sebuah kesempurnaan, namun Salman Aristo sedikit banyak telah berhasil menggambarkan kerasnya kehidupan di Jakarta melalui enam kisah berbeda warna. 

Jakarta Hati dibuka dengan segmen ‘Orang Lain’ yang menampilkan Surya dan Saputra dan Asmirandah. Tidak ada tokoh lain dalam segmen ini, hanya mereka berdua. Yang menjadi pondasi dongeng untuk membangun konflik di sini ialah perselingkuhan. Dua orang abnormal yang tidak saling mengenal bertemu di kafe pada suatu malam untuk kesudahannya saling menyadari bahwa mereka dikhianati pasangan masing-masing. Tapi, benarkah mereka dikhianati… atau justru sebaliknya? Kurang tepat menempatkan segmen ini sebagai sebuah penghantar untuk menjelajahi hati ibukota. Jalinan penceritaannya dituturkan terlalu puitis yang mau tidak mau memaksa penonton untuk memutar otak. Mungkin hasilnya akan lebih baik kalau segmen ini digeser ke posisi kedua atau ketiga. Dengan hidangan pembuka yang sedemikian berat, belum juga menikmati hidangan utama, penonton sudah kekenyangan. Atau dalam hal ini, otak sudah keburu keriting. Sungguh sangat disayangkan, bukan? 
Segmen kedua ‘Masih Ada’ yang menghadirkan Slamet Rahardjo menjadi favorit dari kebanyakan teman-teman saya. Di sini, Salman Aristo mencoba untuk mengapungkan kritik sosial kepada anggota dewan perwakilan rakyat RI yang seolah (atau memang benar adanya) masa terbelakang dengan nasib ‘wong cilik’ yang seharusnya menjadi perhatian utama mereka. Seorang anggota dewan perwakilan rakyat mengalami kesialan di suatu pagi yang membuatnya terpaksa mencicipi kehidupan ‘wong cilik’ meski hanya beberapa menit. Disampaikan dengan obrolan yang jenaka dan menyentil serta didukung permainan apik dari Slamet Rahardjo, secara simpel segmen ini menjadi salah satu yang terkuat walaupun durasi yang terbatas menciptakan konflik kurang tergali lebih mendalam dan menggampangkan persoalan. Saya pribadi lebih menyukai segmen ‘Kabar Baik’ yang tanpa diduga sanggup menciptakan Andhika Pratama mengeluarkan kemampuan aktingnya secara maksimal dan mengimbangi akting dari Roy Marten yang cemerlang. Kisah ‘reuni’ ayah dan anak sehabis bertahun-tahun tidak berjumpa di sebuah kantor polisi ini mengalir dengan lancar melalui obrolan yang renyah dan bikin gregetan. Hati ini tersentuh ketika sebuah belakang layar besar terungkap. Saya benar-benar ingin memeluk ayah aku kala itu. 

Masih ada tiga segmen yang tersisa dimana ketiganya bisa membawa Jakarta Hati ke tingkatan yang lebih tinggi dan melampaui pencapaian film sebelumnya. Segmen ‘Hadiah’ yang dibintangi oleh Dwi Sasono sedikit banyak mengingatkan pada ‘Jalan Pintas’ dari Jakarta Maghrib. Bukan, ini bukan mengenai hubungan percintaan, melainkan mengangkat fenomena dari dunia yang membesarkan nama Salman Aristo, dunia film. Seorang penulis skenario terjangkit dilema tatkala dia menerima proposal untuk menulis skenario sebuah film komedi seks berjudul Pocong Impoten di kala kondisi finansial keluarganya tengah sekarat. Pilihan yang bisa dipilih hanya ada dua, memerjuangkan atau mengorbankan idealisme demi segepok uang. Kekuatan dari segmen ini terletak pada performa dari Dwi Sasono yang apik sebagai penulis skenario yang belum siap untuk merelakan integritas dirinya. Rasa cemas, bimbang, marah, sedih, dan kecewa disalurkan melalui ekspresi wajah dan gerak badan yang meyakinkan sehingga menciptakan penonton turut mencicipi kegundahan hatinya. Sisi emosional di segmen ini tergali dengan apik selayaknya segmen ‘Kabar Baik’. 
Berlanjut ke segmen kelima, ‘Dalam Gelap’, dimana kamera statis dimanfaatkan, tak ada penerangan, dan ruang gerak terbatas maka secara otomatis obrolan dan akting dari Agni Pratistha serta Dion Wiyoko – dalam hal ini, bahasa badan – menjadi motor penggerak. Segmen ini seolah ingin menyinggung masyarakat di kota besar cukup umur ini yang individualis, egois, dan menyepelekan pentingnya komunikasi. Lingkupnya tak seluas ‘Menunggu Aki’ dari Jakarta Maghrib, malah hanya sebatas pada pasangan suami istri. Pemadaman listrik bergilir yang telah menjadi bab tak terpisahkan dari Jakarta memaksa pasangan ini untuk berbicara satu sama lain. Meski mempunyai kemasan paling sederhana di antara kelima segmen lainnya, ‘Dalam Gelap’ justru berteriak paling lantang terlebih permasalahan yang diangkat bisa menimpa siapa saja. Di kurun jejaring sosial, banyak orang lebih menentukan untuk berceloteh di dunia maya ketimbang melaksanakan komunikasi pribadi yang seringkali dianggap sebagai momok. Masing-masing karam di dalam dunianya sendiri, ‘kepo’ dengan urusan orang lain, dan mengabaikan masalah pribadi yang justru lebih penting. 
Sebagai sebuah penutup, ‘Darling Fatimah’ dituturkan dengan penuh keceriaan sehabis kelima segmen sebelumnya penuh dengan perenungan. Berkisah mengenai Fatimah (Shahnaz Haque), pedagang camilan anggun keturunan Pakistan di Pasar Senen dengan verbal yang susah untuk dikontrol, kala melayani para pelanggannya dan seorang broker pemesanan camilan anggun yang mengajaknya berbicara soal cinta. Mengambil latar Pasar Senen di suatu pagi, Salman Aristo mencoba untuk memotret sebuah kawasan yang memertemukan banyak sekali macam etnis. Keberagaman suku bangsa dan budaya menjadi salah satu bab dari ibukota. Ini cukup tergambarkan melalui perbincangan antara Fatimah dan Ayun (Framly Nainggolan) yang sempat nyerempet ke dalam kehidupan pribadi Fatimah yang seorang janda. Kegetiran hidup tetap menjadi pokok permasalahan disini, namun Salman Aristo menghindari air mata dan lebih menentukan jalan komedi untuk menghantarkan kisah. Sebuah keputusan yang tepat. Akting dari Shahnaz Haque yang sangat menghibur menciptakan segmen ini terasa hidup dan menyegarkan. 
Pada akhirnya, Salman Aristo pun bisa merampungkan misinya dengan nyaris sempurna. Jakarta Hati tampil lebih baik ketimbang Jakarta Maghrib yang terkadang terlalu puitis dalam bertutur dan kurang menggambarkan sosok Jakarta. Melalui Jakarta Hati, penonton menerima citra bagaimana kehidupan di ibukota yang keras dan seringkali tidak mempunyai hati. Salman Aristo berhasil memotret ibukota – meski terkadang aku merasa ia terlalu baik hati dalam memerlihatkan wajah Jakarta, dengan sudut pandang yang lebih luas dan bervariatif melalui enam kisah yang dikemas secara sederhana, namun mempunyai kedalaman emosi dan sangat hangat, khususnya segmen ‘Kabar Baik’ dan ‘Hadiah’. Kecermatan Salman Aristo dalam mengolah naskah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah jalinan penceritaan yang renyah turut terbantu berkat permainan akting yang cemerlang dari para bintang film ini. Sebut saja Slamet Rahardjo, Dwi Sasono, Roy Marten, Andhika Pratama, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, hingga Shahnaz Haque. Mereka dengan bahagia hati menyumbangkan kemampuan akting terbaik mereka demi film ini. Memang, masih ada satu dua segmen yang dirasa masih terkesan menggampangkan masalah atau terlalu puitis dalam berkisah, akan tetapi ini sesuatu yang masuk akal dalam sebuah film omnibus. Pasti ada satu dua yang ‘kurang sedap’. Pun demikian, Jakarta Hati masih tetap bisa tampil gemilang berkat kelihaian bercerita Salman Aristo yang makin mengagumkan serta tentunya sumbangan penuh dari para pemain. Tidak berlebihan rasanya kalau aku menyebut Jakarta Hati sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Exceeds Expectations